ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh wadz-kuruu-hu (وَاذْكُرُوهُ) merupakan fi’il amr yang menjadi perintah. Asalnya dari (ذَكَرَ - يَذْكُرُ) yang artinya ingatlah. Namun kata dzikir sendiri juga punya makna lain, yaitu mengucapkan dengan lisan alias berdzikir. Dalam hal ini nampaknya adalah perintah untuk berdzikir.
Jumhur ulama mengatakan bahwa dzikir yang dimaksud bisa bermacam-macam, seperti tasbih, tahmid dan tahlil. Walaupun dalam hal ini hukumnya bukan sebagai kewajiban, hanya disunnahkan untuk memperbanyak dzikir ketika sedang berada di Muzdalifah.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud bukan dzikir dengan lisan, tetapi perintah untuk mengerjakan shalat, dalam hal ini maksudnya untuk menjama’ shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah.
Lafazh kama hadakum (كَمَا هَدَاكُمْ) artinya : sebagaimana Allah SWT telah memberikan petunjuk kepadamu”. Perintah berdzikir ini adalah perintah yang kedua kali, setelah sebelumnya diperintah juga untuk berdzikir. Lantas apa bedanya masing-masing perintah dzikir di ayat ini? Para mufassir kemudian mencoba memberikan jawaban yang berbeda-beda :
§ Sebagian ulama mengatakan bahwa perintah dzikir yang pertama merupakan perintah berdzikir secara umum, sedangkan perintah yang kedua adalah dzikir yang menggunakan nama-nama Allah SWT yang mulia alias al-asmaul-husna.
§ Sebagian lain mengatakan bahwa dzikir yang pertama dzikir dengan lisan, sedangkan dzikir yang kedua adalah dzikir dengan hati.
§ Sebagian yang lain lagi mengatakan bahwa dua perintah dzikir itu menunjukkan perintah untuk terus menerus berdzikir tanpa berhenti.
(وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ)
Penggalan akhir yang menjadi penutup ayat ini bermakna : “meskipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat”. Lantas apa atau siapakah yang dimaksud dengan orang-orang sesat.
Yang dimaksud dengan sesat di ayat ini bahwa para shahabat yang dulunya ketika masih jahiliyah pernah menjalankan ritual haji peninggalan Nabi Ibrahim, namun secara prakteknya yang mereka lakukani itu termasuk praktek haji yang sesat. Oleh karena itulah Allah SWT turunkan ayat-ayat terkait haji, dengan tujuan agar mereka kembali lagi bisa menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan yang benar.