ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Kalau kita membaca terjemahan ayat ke-200 ini secara harfiyah, pastilah kita akan bertanya-tanya, apa urusannya setelah menunaikan ibadah haji lalu diperintah untuk berdzikir sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu?
Untuk kita butuh membuka kitab-kitab tafsir, biar ada kejelasan apa yang menjadi latar belakang turunnya ayat ini. Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menjelaskan bahwa merupakan tradisi haji bangsa Arab sebelum Islam.
Disebutkan usai hari-hari tasyriq mereka berkumpul antara Masjid Mina dan gunung. Lalu masing-masing kabilah saling berlomba melantunkan berbagai untaian syair dan puisi berisi puja-puji kepada nenek moyang masing-masing. Tujuannya untuk berbangga-bangga, takabbur serta meningkatkan popularitas juga demi meningkat gengsi masing-masing kelompok.
Lalu turunlah ayat ke-200 ini yang intinya memerintahkan agar mereka mengubahnya menjadi puji-pujian kepada Allah SWT saja, bukan kepada nenek moyang.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 5 hal. 333