ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh kadzikrikum abaukum (كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ) maknanya : “sebagaimana dzikirmu atas bapak-bapakmu”. Atau yang lebih tepatnya : sebagaimana kamu memuji-muji bapakmu”. Lafazh abaa (آباء) adalah bentuk jamak, bentuk tunggalnya ab (أَب), artinya bapak. Namun yang dimaksud adalah moyang atau leluhur.
Lantas bagaimana tafsiran para ulama dari penggalan (كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ) ini? Fakhruddin Ar-Razi menuliskan delapan penafsiran yang berbeda, yaitu :
1. Pertama
Menurut jumhur ulama, yang dimaksud ‘dzikir atas leluhur’ adalah bila bangsa Arab jahiliyah telah menyelesaikan ritual haji, mereka berkumpul di tempat jamarat untuk saling membangga-banggakan suku dan kabillah mereka dengan menyebut-nyebut kebesaran para leluhur masing-masing serta membangga-banggakannya lewat berbagai bentuk syair dan puisi. Bahkan mereka memanjatkan doa yang unik seperti dikutipkan oleh Al-Qurtubi[1] :
اللَّهُمَّ إِنَّ أَبِي كَانَ عَظِيمَ الْقُبَّةِ عَظِيمَ الْجَفْنَةِ كَثِيرَ الْمَالِ فَأَعْطِنِي مِثْلَ مَا أَعْطَيْتَهُ
"Ya Allah, di masa lalu leluhurku memiliki kedudukan yang tinggi, harta yang melimpah, dan kekayaan yang banyak, maka berikanlah kepadaku seperti apa yang Engkau berikan kepadanya.
2. Kedua
Dalam tafsiran Ibnu Abbas, Atha’ Adh-dhahhak dan Ar-Rabi’, maksudnya kita diperintah untuk menyebut nama Allah seperti anak-anak yang masih kecil memanggil ayahnya, yaitu penyebutan yang disingkat-singkat. Misalnya anak kecil memanggil ayahnya dengan sebutan : abah (أَبَه) dan memanggil ibunya dengan panggilan ummah (أُمّه).
Namun perintah seperti ini sebenarnya merupakan metafora. Tentu saja bukan berarti diperintah menyebut nama Allah dengan disingkat-singkat seperti anak kecil yang masih belum sempurna lisannya. Maksudnya diperintah untuk bersikap seperti anak kecil yang merengek bermanja kepada orang tuanya. Dengan bahasa lain diperintahkan untuk beristighatsah kepada Allah.
3. Ketiga
Abu Muslim berpendapat bahwa maksud perintah ini adalah berdzikir secara lisan dengan cara terus menerus tanpa berhenti, kalau pun berhenti, segera berdzikir lagi. Diumpamakan seperti anak kecil yang selalu merengek kepada orang tuanya terus-terusan.
4. Keempat
Al-Anbari berpendapat bahwa paling sering bersumpah pakai nama ayah mereka, seperti ucapan :”demi ayahku” atau “demi kakekku”. Sumpah dengan menggunakan suatu nama punya pesan khusus bahwa nama itu punya nilai yang amat tinggi. Maka perintah ini adalah perintah untuk mengagungkan Allah SWT sebagaimana kalian mengagungkan ayah dan kakekmu.
5. Kelima
Sebutlan Allah SWT dalam sifatnya yang Esa, sebagaimana dahulu leluhur kalian juga berdoa dengan ke-Esa-an-Nya.
6. Keenam
Perintahnya seperti anak kecil yang bersikap kepada ayahnya dalam meminta segala sesuatunya.
7. Ketujuh
Mereka menyebut-nyebut nama para leluhur karena ingin bertawassul kepada Allah SWT. Maka Allah SWT larang menyebut mereka, karena status para leluhur mereka itu bukan orang yang boleh dijadikan perantara. Penyebabnya karena para leluhur yang mereka puja itu termasuk ahli syirik yang bukan tempatnya untuk dijadikan perantara dalam doa kepada Allah.
8. Kedelapan
Ibnu Abbas dalam tafsirnya mengatakan bahwa perintahnya adalah untuk marah karena Allah SWT apabila bermaksiat, yang sifatnya lebih tinggi marahnya dari pada orang tuamu disebut-sebut keburukannya.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M), jilid 2 hal. 431