ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Perintah fa’tazilu (فَاعْتَزِلُوا) adalah fi’il amr dari asalnya (إعتَزَلَ - يَعْتَزِلُ) yang artinya : menjauhi atau tidak mendekati. Lafazh an-nisa’ (النِّسَاءَ) secara harfiyah artinya para wanita, namun yang dimaksud adalah para istri.
Sedangkan lafazh fil mahidh (فِي الْمَحِيضِ) artinya pada tempat terjadinya haidh, atau tempat keluarnya darah haidh. Dan maksudnya tidak lain adalah kemaluannya.
Maka larangannya bukan harus mengucilkan istri yang sedang haidh, tetapi sekedar tidak melakukan jima’ pada kemaluan. Sedangkan bila melakukan segala sesuatu yang terkait dengan jima’, asalkan bukan dengan memasukkan kemaluan suami ke dalam kemaluan istri, hukumnya tetap diperbolehkan. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW :
عَن أَنَسٍ رضيَ اللهُ عَنهُ أَنَّ اليَهُودَ كَانت إِذا حَاضَتِ المَرأَةُ فِيهِم لَم يُؤَاكِلُوهَا فَقَالَ النَّبِيُّ r اصنَعُوا كُلَّ شَىءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ
‘Dari Anas radhiyallahuanhu bahwa orang yahudi bisa para wanita mereka mendapat haidh tidak memberikan makanan. Maka Nabi SAW bersabda"Lakukan segala yang kau mau kecuali hubungan badan". (HR. Muslim).
Secara lebih tegas lagi, Aisyah menggambarkan apa yang Beliau SAW lakukan apabila dirinya sedang haidh dalam hadits berikut :
عَن عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنهَا قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ r يَأمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ
‘Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata : ”Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk memakain sarung beliau mencumbuku sedangkan aku dalam keadaan datang haidh". (HR. Muslim).