ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh ta-thah-har-na (تَطَهَّرْنَ) berbeda makna dengan yath-hur-na (يَطْهُرْنَ), meskipun agak mirip. Kalau dikatakan ta-thah-har-na (تَطَهَّرْنَ), maka artiya bersuci dan bukan sekedar darahnya berhenti. Bersuci itu adalah melakukan penyucian yang umumnya dengan menggunakan media air.
Hanya saja dalam hal ini mazhab Al-Hanafiyah berbeda pendapat dengan Jumhur ulama. Menurut mereka bersuci dengan air itu cukuplah dengan mencuci kemaluan wanita bekas haidh, atau cukup dengan berwudhu’.
Sedangkan dalam pandangan jumhur ulama, yang dimaksud dengan bersuci itu adalah melakukan mandi janabah untuk mengangkat hadats besar, yang hanya sah dilakukan manakala darah haidh memang sudah benar-benar berhenti.
Sedangkan kalau dikatakan yath-hur-na (يَطْهُرْنَ) saja, maknanya hanya sekedar darah haidhnya sudah berhenti dan tidak keluar lagi untuk seterusnya, namun belum melakukan mandi janabah. Sehingga secara status meski darah haidh sudah berhenti, tetapi kalau belum mandi janabah, statusnya masih dalam keadaan haidh dan juga berhadats besar. Untuk itu dia masih belum dibolehkan melakukan shalat dan suaminya pun masih belum dibolehkan melakukan jima’ pada kemaluan.