ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh nisa’u-kum (نِسَاؤُكُمْ) secara makna harfiyah adalah wanita-wanita kamu, namun yang dimaksud adalah istri-istrimu. Bukan berarti seorang suami punya jumlah istri yang banyak, namun karena sedang bicara dengan sejumlah laki-laki, maka ketika menyebut istri-istri mereka lebih tepat untuk menggunakan ungkapan istri-istri mereka.
Lafazh hartsun (حَرْثٌ) secara bahasa artinya adalah ladang tempat bercocok tanam. Sedangkan lakum (لَكُمْ) artinya milik kamu.
Penggalan ini sebenarnya adalah salah satu bentuk perumpamaan dengan gaya yang unik, yaitu tanpa menyebutkan bahwa ini sebuah perumpamaan. Padahal aslinya ingin mengatakan bahwa istrimu itu seumpama atau seperti ladang pribadi milikmu. Namun karena saking dalamnya makna yang ingin didapatkan, dibuanglah kata seumpaya atau seperti.
Ini seperti penyair menyebut orang yang sangat pandai berpidato di atas mimbar dengan ungkapan : “Aku melihat singa di atas podium”. Padahal kalau perumpamaan yang lebih sederhana, seharusnya cukup dikatakan : aku melihat si fulan berceramah bagaikan singa di atas podium. Namun karena saking hebatnya orasi itu, sampai kata ‘bagaikan’ dihilangkan saja, menjadi : “aku melihat singa di atas podium”.
Begitu juga dengan gaya bahasa ayat ini, saking kuatnya makna, sudah tidak lagi dikatakan bahwa istri itu ibarat ladang, tetapi langsung ditekankan bahwa : istri itu adalah ladang milikmu.
Lantas kenapa istri diumpamakan seperti ladang?
Para mufassir mengatakan bahwa fungsi dari ladang itu adalah untuk bercocok tanam, dimana seorang petani menanamkan benih-benih, lalu benih itu tumbuh dan memberikan hasil tanaman.
Maka seorang istri dalam hal ini diibaratkan seperti ladang, ketika suami menyetubuhinya seperti sedang bercocok-tanam menanamkan benihnya yaitu air mani. Maka benih itu pun tumbuh di dalam rahim istri dan akhirnya melahirkan anak.