ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh in-kunna (إِنْ كُنَّ) merupakan syarat, bisa dimaknai menjadi : jika atau apabila. Lafazh yu’minna (يُؤْمِنَّ) artinya beriman, maksudnya percaya dan membenarkan.
Lafazh yaumil akhir (وَالْيَوْمِ الْآخِرِ) maksudnya adalah kehidupan hari akhir, mencakup terjadinya kiamat kubra, kemudian kebangkitan lagi dimana semua yang mati dihidupkan kembali, kemudian ada hari mahsyar, dimana semua manusia dikumpulkan, lalu ada hari hisab, dimana semua manusia akan dihitung semua amal baik dan amal buruknya, sampai akhirnya nanti ada yang masuk ke surga atau neraka. Semua itu termasuk dalam kategori dan ruang lingkup hari akhir.
Dalam konteks kehidupan di masa kenabian, mereka yang tidak beriman kepada hari akhir umumnya dari kalangan musyrikin Arab. Dalam pandangan hidup mereka, hidup hanya sekali saja, begitu kita mati, matilah jadi tanah. Adapun adanya kehidupan setelah kematian, menurut mereka itu hanya mitos orang terdahulu. Faktanya, tidak ada satupun dari mereka yang sudah mati kemudian hidup lagi.
Adapun di kalangan kafir Yahudi, tidak ada masalah dengan beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang jadi urusan di tengah mereka hanya mereka tidak mau mengimani kenabian Muhammad SAW dan tidak mau mengikuti Al-Quran sebagai sumber hukum di tengah mereka. Tentang kiamat, surga dan neraka, mereka termasuk yang mengimani dan membenarkan.
Kalau melihat realitas seperti ini, maka nampaknya ayat ini lebih diarahkan kepada mereka yang termasuk dari kalangan kaum musyrikin Arab, yang memang tidak mempercayai kehidupan akhirat. Wallahu ‘alam