ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh azka (أَزْكَىٰ) berasal dari asal kata (زَكَى الشَّيء) yang berarti sesuatu telah tumbuh. Ada juga kesamaan dengan kata zakat yang asalnya dari kata yang sama, yaitu tumbuh atau membersihkan. Ibnu Jarir Ath-Thabari menafsirkannya menjadi lebih utama dan lebih baik di sisi Allah dari pada perpisahan di antara kedua. [1]
Lafazh ath-har (أَطْهَرُ) dari kata thuhr (طُهْر) yang sering diartikan sebagai suci secara ritual ibadah, sehingga bila wanita sudah selesai dari haidh disebut dengan suci (يَطْهُرْنَ). Namun Ibnu Jarir Ath-Thabari menafsirkannya menjadi lebih suci di dalam hati sanubari suami atau pun istri.
Sedangkan oleh Kemenag RI, kata azka (أَزْكَىٰ) lebih terkait dengan kejiwaan, sedangkan ath-har (أَطْهَرُ) lebih terkait dengan kehormatan. Sehingga penggalan ini diterjemahkan menjadi “Hal itu lebih bersih bagi (jiwa)-mu dan lebih suci (bagi kehormatanmu)”.
[1] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M), jilid 4 hal. 197