ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh tukallafu (تُكَلَّفُ) maknanya dibebani. Asalnya dari (كَلَّفَ – يُكَلِّفُ - تَكْلِيْفًا). Sedangkan kata nafsun (نَفْسٌ) di dalam Al-Quran punya banyak makna yang berbeda-beda, padahal jumlahnya cukup banyak, tidak kurang dari 295 kali terulang-ulang, baik bentuk tunggal maupun jamak. Wajar kalau maknanya bisa jadi sangat banyak. Kadang bermakna ruh seperti pada ayat 42 surat Az-Zumar (اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا), kadang bermakna kadang bermakna manusia, sebagaimana yang tertuang dalam ayat 56 surat Az-Zumar (أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى). Dalam konteks ayat ini, nampaknya yang lebih tepat dimaknai sebagai manusia.
Ayat ini sebenarnya punya padanan ayat lain yang nyaris mirip, berbeda sedikit karena disebutkan nama Allah SWT :
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah : 286)
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إلَّا مَا آتَاهَا
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. (QS. Ath-Thalaq : 7)
لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. (QS. Al-Anam : 152)
Ayat terakhir ini sebenarnya terulang tiga kali dalam Al-Quran. Masing-masing pada surat Al-A’raf ayat 42 dan surat Al-Mukminun ayat 62.
Bedanya ayat ini lebih khusus membicarakan keringanan yang Allah SWT berikan kepada suami atau ayah yang tidak mampu memberi nafkah. Intinya, Allah SWT tidak wajibkan kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.