ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh al-ladzina (الَّذِينَ) biasa diartikan dengan orang-orang. Dan kata kharaju (خَرَجُوا) adalah fi’il madhi yang artinya keluar. Lafazh min diyarihim (مِنْ دِيَارِهِمْ) artinya dari rumah atau perkampungan tempat mereka tinggal.
Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H) dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan ada tiga riwayat yang berbeda terkait siapa mereka.[1]
1. Riwayat Pertama
Riwayat pertama disampaikan oleh As-Suddi. Beliau meriwayatkan bahwa pada suatu masa, ada sebuah desa yang dilanda wabah pes. Sebagian besar penduduk desa melarikan diri, dan sebagian lagi yang bertahan hidup meninggal dunia. Setelah wabah pes mereda, penduduk desa yang melarikan diri kembali dengan selamat.
Penduduk desa yang bertahan hidup berkata, "Mereka lebih berhati-hati daripada kita. Seandainya kita melakukan apa yang mereka lakukan, niscaya kita akan selamat dari penyakit dan malapetaka. Jika wabah pes datang lagi, kita akan kabur."
Akhirnya, wabah pes datang lagi dan penduduk desa melarikan diri. Mereka berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang. Setelah mereka keluar dari lembah, seorang malaikat dari bawah lembah dan seorang malaikat dari atas lembah memanggil mereka, "Matilah!"
Mereka pun binasa dan jasad mereka membusuk. Kemudian, seorang nabi bernama Hezekiel melewati mereka. Ketika melihat mereka, ia berhenti dan merenungkannya. Allah SWT mewahyukan kepadanya, "Apakah engkau ingin Aku tunjukkan bagaimana Aku menghidupkan mereka?" Hezekiel menjawab, "Ya."
Allah SWT berkata, "Panggil, 'Wahai tulang-tulang, Allah memerintahkan kalian untuk berkumpul!”. Tulang-tulang itu pun terbang dan menyatu, hingga menjadi tulang lengkap. Kemudian, Allah SWT mewahyukan kepada Hezekiel, "Panggil, 'Wahai tulang-tulang, Allah memerintahkan kalian untuk mengenakan daging dan darah!'"
Tulang-tulang itu pun menjadi daging dan darah. Kemudian, Allah SWT mewahyukan kepada Hezekiel, "Panggil, 'Allah memerintahkan kalian untuk berdiri!'"
Tulang-tulang itu pun berdiri dan berkata, "Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau."
Kemudian, mereka kembali ke desa mereka setelah hidup kembali. Bekas-bekas kematian mereka masih terlihat di wajah mereka. Mereka hidup hingga meninggal dunia sesuai dengan ajal mereka.
2. Riwayat Kedua
Riwayat kedua disampaikan oleh Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Berikut petikannya :
Ada seorang raja dari raja-raja Bani Israil yang memerintahkan pasukannya untuk berperang. Namun, pasukannya takut berperang dan berkata kepada raja mereka,”Negara yang akan kita tuju sedang dilanda wabah, maka kami tidak akan pergi ke sana sampai wabah itu berlalu”.
Maka Allah SWT membunuh mereka semua, dan mereka tetap mati selama delapan hari hingga membusuk. Berita kematian mereka sampai kepada Bani Israil, maka mereka keluar untuk mengubur mereka, namun mereka tidak mampu karena banyaknya mereka, maka mereka membuat kuburan-kuburan besar untuk mereka.
Kemudian, Allah SWT menghidupkan mereka kembali setelah delapan hari, namun masih tersisa bau busuk pada mereka, dan bau busuk itu tetap ada pada keturunan mereka hingga hari ini.
3. Riwayat Ketiga
Versi riwayat yang ketiga adalah sebagai berikut :
Nabi Hezekiel menyerukan kaumnya untuk berjihad, namun mereka menolak dan menjadi pengecut. Maka Allah SWT mengirimkan kematian kepada mereka. Ketika kematian itu semakin banyak, mereka pun keluar dari negeri mereka untuk melarikan diri dari kematian.
Ketika Nabi Hezekiel melihat hal itu, ia berkata, "Ya Allah, Tuhan Ya’qub dan Musa, Engkau melihat kemaksiatan hamba-hamba-Mu. Maka perlihatkan kepada mereka mukjizat di dalam diri mereka yang menunjukkan kepada mereka tentang kekuasaan-Mu yang tidak terbatas, dan bahwa mereka tidak bisa keluar dari genggaman-Mu."
Maka Allah SWT mengirimkan kematian kepada mereka. Kemudian, Nabi Hezekiel merasa sesak dadanya karena kematian mereka, maka ia berdoa lagi dan Allah SWT menghidupkan mereka kembali.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid hal.