ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh khalidina fiha (خَالِدِينَ فِيهَا) artinya: mereka kekal di dalamnya. Lafazh abada (أَبَدًا) artinya : abadi. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan mengalami kehidupan yang kekal atau abadi. Istilah yang sering digunakan adalah immortal, yaitu orang yang hidup terus menerus dan tidak mengalami kematian.
Dalam beberapa kisah legenda, ada tokoh-tokoh tertentu yang digambarkan hidup abadi dan tidak mati, setidaknya usianya panjang, sehingga mengalami berbagai pergantian dari satu zaman ke zaman yang lain.
Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebenarnya adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuk Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, immortal, tidak mati-mati hingga selamanya.Al-Quran menceritakan dengan gamblang :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)