ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh fasawwahunna (فسواهن) terdiri dari beberapa partikel, yaitu huruf fa' (ف) lyang dimaknai sebagai : maka. Lalu fi'il madhi sawwa (سوى) dimaknai menjadi : 'menyempurnakan'. Dan diakhiri dengan maf'ul bihi yaitu dhamir hunna (هُنَّ) yang maksudnya dalam hal ini adalah : langit.
Kalau kita lakukan pencarian dalam seluruh ayat Al-Quran kata sawwa (سوَّى) ini pun muncul beberapa kali di dalam Al-Quran dengan makna yang sama yaitu menyempurnakan. Yang pertama terkait penyempurnaan janin di dalam perut ibunya yang penciptaannya mengalami pengempurnaan.
ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ
kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, (QS. Al-Qiyamah : 38)
Sedangkan yang kedua tidak disebutkan objeknya, hanya disebutkan bahwa Allah SWT mencipta lalu Dia sempurnakan ciptaan-Nya.
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ
yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), (QS. Al-Ala : 2)
Yang jadi pertanyaan, kenapa Allah SWT yang Maha Pencipta itu perlu dua langkah yaitu mencipta dulu baru kemudian menyempurnakan? Kenapa Allah SWT tidak langsung saja menciptakan sesuatu yang langsung sempurna? Bukankah hal itu mudah bagi Allah SWT?
Tentu saja yang paling berhak menjawab adalah Allah SWT langsung, sedangkan kita hanya sekedar menduga-duga saja. Di antara dugaan yang banyak disebut-sebut para ulama adalah boleh jadi Allah SWT ingin mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu itu harus ada prosesnya, tidak langsung jadi sempurna.
Bahkan Allah SWT sendiri juga memberi contoh kepada kita bahwa dalam berkarya itu perlu ada proses dan tidak mungkin langsung jadi. Dan kata kuncinya adalah : proses.
Allah SWT Mencipta Lewat Proses
Dalam kenyataannya banyak sekali dijelaskan dalam Al-Quran bahwa Allah SWT dalam mencipta sesuatu dengan proses, bukan hanya dalam menciptakan manusia atau alam semesta, tetapi bahkan turunnya Al-Quran pun juga lewat proses panjang selama 23 tahun lamanya.
Begitu juga dalam penetapan syariah, ternyata selama 23 tahun itu ada proses yang tidak sekali jadi. Misalnya, di awal Nabi SAW diperintahkan shalat menghadap ke Baitul Maqdis, setelah itu diperintah untuk memindahkan ke arah Masjid Al-Haram di Mekkah. Awalnya perintah shalat itu belum lagi lima waktu dalam sehari semalam, tetapi hanya shalat malam saja, lalu kemudian setelah peristiwa mi'raj ditetapkanlah kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam.
Maka kalau pun dalam menciptakan langit Allah SWT melakukannya lewat proses, tentu sama sekali tidak mengurangi kehebatan Allah sebagai Sang Maha Kuasa dan Sang Maha Pencipta.
Penyempurnaan Penciptaan Langit