SFK > Masjid > Bagian Pertama : Pengertian Masjid

⬅️

Bab 4 : Sejarah Awal Masjid Di Dunia

➡️
2951 kata | show

Umumnya kita mengenal bahwa masjid yang pertama kali dibangun dalam sejarah Islam adalah Masjid Nabawi di Madinah, atau masjid Quba yang terletak beberapa kilometer dari Masjid An-Nabawi.

Namun sesungguhnya ada masjid-masjid lain yang dibangun sebelum itu. Diantaranya adalah masjid Al-Haram di Mekkah, Masjid Al-Aqsha di Palestina, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Masjid Amar bin Yasir, Masjid Quba'.

A. Ka’bah Baitullah

Masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi tidak lain adalah Baitullah atau Ka’bah, sebagaimana Allah SWT berfirman :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran : 96)

Dalam Tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Quran, Mujahid menyebutkan bahwa Allah SWT telah menciptakan tempat untuk Ka’bah ini 2000 tahun sebelum menciptakan segala sesuatu di bumi. [1]

Qatadah mengatakan bahwa Ka’bah adalah rumah pertama yang didirikan Allah, kemudian Nabi Adam alaissalam bertawaf di sekelilingnya, hingga seluruh mansia berikutnya melakukan tawaf seperti beliau.[2]

Allah SWT mengutus malakikat turun ke bumi di zaman sebelum diciptakannya manusia, untuk membangun masjid yang pertama di dunia. Setelah selesai dibangun, maka para malaikat itu melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah itu.

Entah berapa lama masjid atau Ka’bah itu berdiri hingga turunnya Nabi Adam alaihissalam ke muka bumi dan mulai bertempat tinggal di sekeliling Ka’bah.[3]

Qatadah juga menyebutkan bahwa ketika terjadi tufan di masa Nabi Nuh alaihissalam, Ka’bah diangkat ke sisi-Nya untuk diselamatkan dari adzab kaum Nuh. Sehingga posisinya menjadi ada di atas langit. Kemudian Nabi Ibrahim alaihissalam menemukan asasnya lalu membangun kembali Ka’bah itu di atas bekas-bekasnya dahulu hingga kini. [4]

Dr Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Al-fiqhul Islami wa Adillatuhu menyebutkan ada 5 proses pendirian Ka’bah.

1. Pembangunan yang dilakukan oleh malaikat, atau Nabi Adam atau Nabi Tsits bin Adam, sebagaimana disebutkan oleh As-Suhaili.

2. Pembangunan oleh Nabi Ibrahim bersama Ismail anaknya alahimassalam pada pondasi yang pertama.

3. Pembangunan oleh bangsa Quraisy, dimana Nabi Muhammad SAW ikut membangun kembali, saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi.

4. Pembangunan yang dilakukan oleh Ibnu Az-Zubair, yaitu tatkala Ka’bah mengalami kebakaran.

5. Pembangunan oleh Al-Hajjaj bin Yusuf, yaitu bangunan yang ada sekarang ini.

Sedangkan bangunan masjid Al-Haram mengalami perluasan di masa khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu. Kemudian diluaskan lagi di masa khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu. Diluaskan lagi di masa Al-Walid bin Abdul Malik. Diluaskan lagi di masa Al-Mahdi. Dan terakhir diluaskan di masa Kerajaan Saudi Arabia sekarang ini.

B. Masjid Al-Aqsha

Masjid kedua yang dibangun di atas permukaan planet bumi setelah Ka’bah adalah masjid Al-Aqsha. Masjid ini terletak di Palestina, bumi para nabi dan rasul sejak masa Nabi Ibrahim alaihissalam. Ada sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang mendasari pernyataan ini serta menjelaskan kapan waktunya.

عَن أَبيِ ذَرٍّ ض قَالَ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ عَنْ أَوَّلِ مَسْجِدٍ وُضِعَ فيِ الأَرْضِ قَالَ : المَسْجِدُ الحَرَامُ . قُلْتُ : ثُمَّ أَيّ؟ قَالَ : المَسْجِدُ الأَقْصَى . قُلْتُ : كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ : أَرْبَعُونَ عَاماً

Dari Abu Dzar Al-Ghifari bahwa Saya bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai masjid yang mula-mula dibangun di atas bumi ini. Rasulullah SAW menjawab,"Masjid Al-Haram". Saya bertanya,"Kemudian masjid mana?" Beliau SAW menjawab,"Masjid Al-Aqsa". Saya bertanya lagi,"Berapa jarak waktu antara keduanya?" Beliau SAW menjawab,"Empat puluh tahun". (HR. Muslim)

Menarik untuk disebut bahwa meski di masa Rasulullah SAW, Al-Aqsha itu digunakan oleh orang-orang kristen sebagai gereja, namun Al-Quran tidak menyebutnya sebagai geraja. Al-Quran tetap menyebutnya masjid Al-Aqsha., sebagaimana yang kita baca dalam surat Al-Isra’

Dan sebenarnya pada saat yang sama, Ka’bah di Mekkah pun belum berfungsi sebagaimana masjid yang ideal, karena masih dijejali oleh ratusan berhala yang disembah oleh orang-orang kafir. Namun tetap saja Allah SWT menyebutnya sebagai masjid Al-Haram.

Sepanjang sejarah masjid ini menjadi tempat suci buat umat manusia, dimana kiblat pertama umat Islam bukan ke Ka’bah di Mekkah, tetapi ke arah masjid Al-Aqsha ini.

Masjid ini bisa dikatakan merupakan masjid para nabi dan rasul sebelumnya. Sehingga ketika Rasulullah SAW diisra’kan, beliau bertemu dengan para Nabi di masjid Al-Aqsha ini dan shalat menjadi imam buat mereka.

Sepeninggal Rasulullah SAW, masjid ini resmi menjadi milik umat Islam dan tanahnya menjadi tanah waqaf.

Adalah pendeta tertinggi kaum Nasrani yang dengan rela menyerahkan kunci Baitul Maqdis kepada umat Islam, dan meminta agar pemimpin tertinggi umat Islam saat itu, Umar bin al-Khattab radhiyallahuanhu yang menerima langsung penyerahan kunci itu.

Sejak saat itu hingga hari ini, masjid Al-Aqsha resmi menjadi milik umat Islam.

1. Keutamaan Masjid Al-Aqsha

Ada beberapa keutamaan masjid Al-Aqsha ini, diantaranya :

Tempat Isra’ Nabi SAW

Isra’ adalah peristiwa penting dalam sejarah Rasulullah SAW, sampai Al-Quran mengabadikannya, baik sebagai nama surat atau pun ayat.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra’ : 1).

Masjid Para Nabi

Para nabi dan rasul banyak sekali yang pernah ke masjid Al-Aqsha ini dan menjadi pimpinannya. Tidak kurang juga Rasulullah SAW pun dalam perjalanan isra’, sempat diajak mampir walau pun sebentar.

Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai abul-anbiya’ memulai debutnya di masjid ini. Dari nabi Ibrahim inilah lahir para nabi dan rasul besar dalam sejarah umat manusia. Ibrahim berputera Nabi Ismail yang nantinya menurunkan Rasulullah SAW, sekaligus juga berputera Ishaq, yang nantinya melahirkan banyak nabi-nabi Bani Israil.

Ishaq punya anak yang bernama Ya’qub. Ya’qub ini bergelar Israel. Anaknya ada 12 orang disebut dengan Bani Israel. Salah satunya yang bernama Yusuf, yang membawa Bani Israel eksodus dari Palestina ke negeri ke Mesir. Di zaman Nabi Musa, Bani Israil kembali lagi ke Palestina. Disana kemudian lahir Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, dua orang nabi ayah dan anak yang oleh bangsa Israil dianggap sebagai Raja mereka.

Keturunan Bani Israel ini terus sampai datangnya masa Nabi Isa yang membaya wahyu dari Allah SWT, dimana pengikutnya kemudian disebut dengan nasrani.

Semua kejadian itu umumnya terjadi di masjid Al-Aqsha, bumi para nabi dan rasul.

Kiblat Pertama

Buat umat Muhammad SAW, masjid ini juga punya memori penting, yaitu pernah dijadikan kiblat arah shalat. Bahkan awal pertama kali Allah wajibkan shalat 5 waktu, arah kiblatnya masih ke arah masjid Al-Aqsha ini.

Disebutkan dalam sirah bahwa Rasulullah SAW yang saat itu masih tinggal di Mekkah diperintahkan untuk shalat menghadap ke Masjid Al-Aqsha di Palestina. Karena beliau SAW cinta pada Ka’bah, maka beliau selalu mengambil posisi di sebelah selatan Ka’bah, agar ketika shalat bisa menghadap ke dua objek sekaligus, yaitu masjid Al-Aqsha dan juga ke arah Ka’bah.

Tetapi ketika beliau SAW diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah, shalat menghadap ke kedua objek itu menjadi tidak mungkin, lantaran posisi kota Madinah ada diantara Mekkah dan Palestina. Beliau tidak bisa menghadap ke kedua arah mata angin secara bersamaan.

Namun karena menghadap ke Masjid Al-Aqsha merupakan ketentuan dari Allah, beliau tidak kuasa menolak. Hanya terkadang wajah beliau menengadah ke atas langit, barangkali di dalam hati beliau ada kerinduan untuk bisa shalat menghadap ke Ka’bah. Hal itu diungkapkan di dalam salah satu ayat :

Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. Al-Baqarah : 144)

Sangat Dianjurkan Mengunjunginya

Salah satu fadhilah masjid ini adalah adanya anjuran khusus untuk menziarahinya. Rasulullah SAW bersabda :

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثِ مَسَاجِدِ : الْمَسْجِدِ الحَرَام وَمَسْجِدِي هَذاَ وَالْمَسْجِد الأَقْصَى

Tidaklah dianjurkan dengan sangat untuk melakukan rihlah (perjalanan) kecuali ke tiga masjid. Al-Masjid Al-Haram, Masjidku ini (Nabawi) dan Al-Masjid Al-Aqsha. (HR)

2. Problematika Masjid Al-Aqsha

Anjuran Nabi SAW ini tidak pernah menjadi masalah sepanjang sejarah, sebab masjid Al-Aqsha itu memang wilayah milik umat Islam. Tanahnya adalah tanah telah diwaqafkan oleh khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu.

Selama ini hanya dua kali saja masjid itu dikuasai oleh orang kafir. Pertama di abad pertengahan dikuasai oleh pasukan salib dari Eropa selama kurang lebih 70 tahun. Lalu dibebaskan oleh pahlawan muslim, Shalahuddin Al-Ayyubi.

Kedua, di masa kini ketika 15 juta yahudi sedunia memprogram untuk mendirikan negara eksklusif khusus dihuni oleh bangsa Yahudi saja. Dan mereka menetapkan tanah Al-Aqsha sebagai tempat didirikannya negara itu. Negara itu bernama Israel, diproklamasikan pada tahun 1948, dan lima juta manusia mati sia-sia sepanjang berdirinya negara itu, di tengah kemunduran, kejumudan dan perpecahan umat Islam sedunia, setelah khilafah Islam Bani Utsmani dirobohkan di tahun 1924.

Kalau dihitung sampai hari ini, masa pendudukan yahudi di masjid Al-Aqsha sudah berusia 60-an tahun (1948 – 2010).

Jadi kalau dihitung secara matematis dari jumlah tahun, tetap saja masjid Al-Aqsha itu sepanjang sejarah masih dominan dikuasai umat Islam. Sebab dari 1400-tahun dikuasainya masjid Al-Aqsha oleh umat Islam, hanya 130 tahun saja masjid ini sempat terlepas dari pangkuan umat Islam, yaitu 70 tahun dikuasai Nasrani ditambah 60 tahun dijajah yahudi. Sisanya, 1300-an tahun lamanya, mutlak dikuasai oleh umat Islam.

B. Masjid Abu Bakar

Selain Masjid Al-Haram Mekkah dan Masjid Al-Aqsha di Palestina, masjid yang besar dan terkenal berikutnya adalah masjid Nabawi di Madinah.

Namun kalau kita teliti sejarah, ternyata masjid Nabawi bukan masjid yang pertama kali dibangun di masa Islam. Sebab jauh sebelum Rasulullah SAW berangkat hijrah ke Madinah, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah membangun masjid di halaman rumahnya sendiri di Mekkah.

Beliau sehari-hari melakukan shalat di masjidnya itu dan membaca Al-Quran. Seringkali beliau waktu membaca Al-Quran tidak kuasa membendung air mata yang menetes dan tak mampu menahan isak tangis.

Dan hal itu menarik perhatian para wanita Quraisy, hingga mereka mengajak anak-anaknya untuk menonton apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di dalam masjidnya.

Masjid Abu Bakar ini kalau mau diletakkan dalam dalam sejarah, boleh jadi merupakan masjid yang pertama kali didirikan di zaman risalah Islam, setelah masjid Al-Haram tentunya.[5]

C. Masjid Amar bin Yasir

Selain masjid Abu Bakar, Al-Jira’i mencatat beberapa riwayat yang menyebitkan bahwa Amar bin Yasir pernah membangun masjid juga. Dan hal itu dilakukannya sebelum berdirinya masjid Quba atau masjid Nabawi di Madinah.

Tidak seperti Abu Bakar, Amar bin Yasir mendirikan masjid itu di Madinah setelah dirinya hijrah namun sebelum kedatangan Rasulullah SAW. Karena ada jeda waktu antara kedatangan para shahabat ke Madinah dengan kedatangan Rasulullah SAW.

Pada masa sebelum kedatangan Rasulullah Saw itulah Amr bin Yasir sempat mendirikan masjid, dimana beliau melakukan shalat di dalamnya.[6]

D. Masjid Quba’

Sebelum sampai ke Madinah, Rasulullah SAW sempat berhenti di Quba, pada tanggal 8 Rabiul-Awwal tahun ke 14 dari kenabian (23 September 622M). Kemudian disana beliau sempat mendirikan masjid, yang kemudian dikenal dengan nama masjid Quba.[7]

Masjid Quba’ ini dalam Al-Quran disebutkan sebagai masjid yang pertama dibangun dengan dasar taqwa. Masjid itu dibangun langsung oleh Rasulullah SAW dengan dibantu oleh beberapa shahabat.

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa , sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah : 108)

E. Masjid Nabawi di Madinah

Ketika tiba di Yatsrib yang kemudian dinamakan Madinah, Rasulullah SAW kemudian mendirikan masjid sebagai proyek pertama.

Jadi jelas sekali walau pun masjid nabawi ini termasuk masjid besar dan fenomenal dalam sejarah, tetapi urutannya bukan masjid yang pertama kali dibangun di masa nabi. Sebelumnya ada masjid Quba’, bahkan ada masjid Amar bin Yasir dan di masa Mekkah ada masjid Abu Bakar ridwanullahi alaihim.

Masjid Nabawi ini didirikan di atas tanah yang awalnya tempat berhentinya unta Rasulullah SAW saat tiba di Madinah. Karena para shahabat anshar berebutan untuk menjadikan rumah mereka sebagai tempat singgah Rasulullah SAW, maka diundilah dengan cara melepaskan unta beliau yang bernama Qashwa berjalan sendirian tanpa dihela. Dan disepakati dimana pun unta itu berhenti dan duduk, disitulah Rasulullah SAW akan bertempat tinggal. Beliau SAW bersabda :

خَلوُّا سَبِيلَ النَّاقَةِ فَإِنَّهَا مَأْمُورَة

Bebaskan jalan unta, karena unta itu telah diperintah

Unta itu lantas berhenti di sebidang tanah milik kakak-beradik yatim, Sahal dan Suhail bin Amr. Kemudian tanah itu dibebaskan seharga 20 dinar.

Sebagai perbandingan, di masa itu Rasulullah SAW pernah meminta dibelikan seekor kambing dan harga pasaran kambing 1 dinar perekor. Jadi kira-kira 1 dinar itu antara 1 – 1,5 juta pada hari ini. Kalau 20 dinar berarti kira-kira 20-30 juta.

Sebenarnya tanah itu tidak kosong, tetapi ada kuburan milik orang kafir di masa lalu yang kemudian dipindahkan, juga ada bekas pohon-pohon kurma dan gharqad yang kemudian ditebang dan dibersihkan. Pohon gharqad adalah pohon khas yahudi.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m2, dengan tinggi atap sekitar 3,5 meter dimana Rasulullah SAW turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Ada pun rumah kediaman untuk Rasulullah SAW dibangun melekat pada salah satu sisi masjid. Ukurannya tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup.

Masjid Nabawi juga dilengkapi dengan bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

1. Keutamaan Masjid Nabawi

Masjid Nabawi adalah salah satu masjid yang memiliki banyak keistimewaan, antara lain dari segi pahala shalat yang mana satu kali shalat di dalamnya setara dengan seribu kali shalat di masjid lain. Rasulullah SAW bersabda :

صلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام، وصلاة في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه

Satu kali shalat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali shalat di masjid lainnya." (HR. Ahmad).

Sebagai muslim, kita juga sangat dianjurkan untuk mengunjungi masjid nabawi ini, karena Rasulullah SAW pernah bersabda :

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثِ مَسَاجِدِ : الْمَسْجِدِ الحَرَام وَمَسْجِدِي هَذاَ وَالْمَسْجِد الأَقْصَى

Dari Sa’id bin Musaiyab dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,"Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Selain itu di Masjid Nabawi ini terdapat situs yang amat dimuliakan dan punya keutamaan, yaitu Raudhah.

Doa-doa yang dipanjatkan dari Raudlah ini akan dikabulkan oleh Allah SAW. Raudlah terletak di antara mimbar dengan makam (dahulu rumah) Rasulullah SAW :

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku merupakan suatu taman di antara taman-taman surga, sedang mimbarku itu terletak di atas kolamku." (HR. Bukhari)

Ada pun hadits yang menyebutkan bahwa siapa yang shalat 40 waktu di masjid Nabawi akan terbebas dari siksa api neraka, menurut sebagain besar ulama hadits, termasuk hadits yang lemah dari segi isnad.

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً لا يَفُوتُهُ صَلاةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ ، وَنَجَاةٌ مِنْ الْعَذَابِ ، وَبَرِئَ مِنْ النِّفَاقِ

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda,”Siapa melakukan shalat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan." (HR. Ahmad dan Thabrani).

Berdasarkan hadis-hadis ini maka Kota Medinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umrah sebagai amal sunah.

2. Perluasan Masjid An-Nabawi

Sejak berdiri di masa Nabi SAW hingga masa dua khalifah sesudahnya, masjid nabawi masih tetap seperti itu dari segi bangunan dan luas.

Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan renovasi kedua dilakukan oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H.

Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk shalat seluas 135.000 m².

Masjid Nabawi saat ini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah untuk shalat bersama. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa luas masjid Nabawi hari ini setara dengan luas kota Madinah di masa Rasulullah SAW.

¨



[1] Al-Imam Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, jilid 3 hal. 58

[2]Tafsir Al-Thabari jilid 6 hal. 21

[3] Dalailunnubuwah jilid 1 hal. 424

[4] Al-Imam Ath-Thabari, Tafsir At-Thabari jilid 6 hal. 21

[5]Al-Masyru’ wal Mamnu’ fil Masjid jilid 1 hal. 17

[6]Al-Masyru’ wal Mamnu’ fil Masjid jilid 1 hal. 18

[7]Shafiyyurrahman Al-Mubarakafury, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hal. 154