SFK > Mawaris > Bagian Keempat : Kasus-kasus

⬅️

Bab 7 : Software Mawaris

1321 kata | show

Di dunia Islam sekarang ini banyak sekali beredar software yang fungsinya adalah membantu menghitung waris. Sebagian dari software itu ada yang berbayar dan diproteksi, namun sebagian lagi ada yang memang beredar secara gratis alias tidak berbayar. Dan sebagian lagi ada yang resminya berbayar namun tetap beredar versi crack-nya.

Keberadaan software-software ini tentu sangat membantu banyak pihak dalam rangka menghitung harta waris, yang terkadang terkesan agak rumit dan memusingkan.

A. Software

Ada beberapa contoh software yang dapat kita temukan di dunia maya, antara lain misalnya :

Selain itu kitajuga mengenal ada software yang lain, salah satunya adalah produk Kaisan Soft, yaitu Attashil.[1]

B. Kelemahan

Ada banyak kelemahan software yang beredar di tengah masyarakat. Kalau kita mau rinci, di antara contoh kelemahannya antara lain :

1. Broken Link

Kalau kita masukkan key-word di Google : ‘software mawaris’, memang kita akan diperlihatkan banyak sekali link yang mengarah ke berbagai halaman yang menjanjikan. Tetapi kalau kita telusuri satu persatu, banyak sekali link-link itu yang broken, terputus dan hanya sekedar jawaban dari mesin pencari yang menjadi spam.

Tentu hal ini agak mengesalkan, karena seolah-olah kita mempunyai banyak link, namun ternyata link-link itu bermasalah. Artinya, software mawaris ini tidak bisa dengan mudah kita temukan begitu saja, bila hanya mengandalkan mesin pencari.

2. Bajakan

Kalau pun kita menemukan situs tertentu yang menyediakan software mawaris yang bisa dengan mudah didownload, masih ada lagi kendala lain, yaitu masalah hak ciptanya. Kebanyakan software gratisan yang beredar di internet memang software bergaya ‘spanyol’ (maksudnya : separuh nyolong).

Software-software yang dibuat oleh perusahaan pengembang perangkat lunak (software development) baik milik anak negeri atau pun buatan manca negara itu oleh para cracker dikerjai sedemikian rupa, sehingga kemudian password-nya bisa dijebol. Setelah itu, hasilnya diedarkan lewat internet.

Oleh banyak pemilik blog, berbagai software itu kemudian dibuatkan link yang bisa didownload, agar bisa mendongkrak hit-counternya. Tentu semua dilakukan tanpa memperhatikan apakah tindakan itu dibenarkan secara legal atau tidak.

3. Kendala Bahasa

Software yang bagus hasil download gratis di berbagai link, atau yang dijual di berbagai toko software itu seringkali masih asli berbahasa asing, baik Arab atau pun Inggris.

Menggunakan software itu sendiri mungkin tidak terlalu bermasalah. Tetapi urusan harta pembagian waris sebenarnya bukan terletak pada bagaimana menggunakan software, tetapi yang menjadi titik perhatian adalah pada mendudukkan persoalan yang sedang terjadi.

Memang banyak software mawaris yang dilengkapi dengan berbagai penjelasan tentang hukum waris, tetapi masalahnya, karena software itu sendiri berbahasa asing, maka ada kesulitan dalam memahami isi materi penjelasan.

Sebagai contoh, ketika software itu meminta user memasukkan data ahli waris, misalnya ayah. Biasanya akan timbul kebingungan, maksudnya ayahnya siapa? Sebab ada tiga generasi keturunan, seorang ayah punya anak, anaknya itu ternyata menjadi ayah lagi buat anak-anaknya. Dan anak-anaknya itu terjadi menjadi ayah lagi buat anak-anaknya lagi.

Bahkan dia juga seorang 'kakek', atau 'paman', 'saudara', 'keponakan', 'cucu' bagi seseorang. Dan begitulah seterusnya. Relatifitas ini akan menyulitkan kita dalam memahami duduk masalah.

Selain itu istilah-istilah dalam bahasa Indonesia sering tidak baku. Katakanlah sebagai contoh, akh li ab wa li um (أخ شقيق), sering kita terjemahkan menjadi saudara kandung.

Sebagian orang memahami istilah saudara kandung adalah saudara yang sama-sama satu kandungan ibu, dimana ayah mereka bisa saja berbeda. Dan itu adalah saudara seibu (أخ لأم).

Sebenarnya kendala bahasa ini bukan hanya terjadi pada pemakaian software saja, tetapi ketika belajar ilmu mawaris itu sendiri juga ada kendala bahasa dan istilah-istilah yang masih asing dalam kehidupan sehari-hari.

5. Usernya Awam

Namun kendala paling utama dalam penggunaan semua software mawaris adalah awamnya pada user itu sendiri dengan ilmu mawaris.

Secanggih apa pun sebuah software, tetapi saja sebatas pada sebuah alat atau tool. Tetapi saja harus ada orang yang terdidik, terlatih atau setidaknya punya pengetahuan dan latar belakang tentang apa yang akan dilakukannya.

Penulis mengibaratkan masalah ini dengan seorang yang awam dengan desain grafis, tetapi di komputernya terbenam software Photoshop versi terbaru. Software yang super canggih itu ternyata tidak pernah melahirkan karya-karya desain grafis yang indah dan menawan. Mengapa? Karena usernya sendiri bukan seorang yang mengerti desain grafis.

Atau seperti seorang yang awam dengan musik tetapi punya koleksi gitar mahal. Jangankah mengarang lagu, sekedar memainkan gitar itu saja dia tidak mampu. Bukan karena salah gitarnya tentu, tetapi karena pemiliknya tidak tahu urusan musik, alias tidak bisa main musik.

Walau pun dia punya koleksi lusinan gitar, kalau dia tidak pernah belajar ilmu musik itu sendiri, tentu gitar itu hanya menjadi pajangan atau hiasan belaka.

Ibu rumah tangga yang kaya raya, mungkin saja dia punya koleksi mobil mahal dan mewah yang harganya bermilyar. Tentu mobil itu dilengkapi dengan berbagai instrumen yang canggih, termasuk sistem yang serba otomatis, TV, GPS, dan segudang kelengkapan lainnya. Tetapi betapa banyak dari para pemilik mobil mewah itu, yang mereka tidak mampu mengemudikan sendiri. Ternyata mereka malah butuh sopir untuk menjalankan mobil itu. Sementara pemiliknya hanya jadi penumpang saja.

Demikian juga dengan software-software mawaris yang dimiliki, baik secara legal atau pun secara ilegal. Semua itu tidak lantas membuat kolektor software itu jadi mengerti cara menghitung harta warisan.

C. Kebutuhan

Namun tetap saja keberadaan sebuah software pasti akan banyak membantu penyelesaian hitung-hitungan masalah waris. Untuk itu dibutuhkan software dengan sifat dan karakter yang setidaknya bisa memenuhi kebutuhan. Antara lain kebutuhan itu adalah :

1. Freeware

Software yang dibutuhkan adalah software yang bisa didonwload dengan status freeware alias gratis tanpa bayaran apa pun. Dan sebaiknya tidak membutuhkan media yang membutukan biaya sebagai penyimpannya. Sehingga yang dibutuhkan cukup yang ukuran filenya mudah didownload.

Gratisnya software ini dibutuhkan agar dengan mudah bisa disebarkan tanpa ada kekhawatiran dari para pengguna atas kehalalan penggunaannya. Dan kehalalan ini terkait erat dengan keberhakan tentunya.

Kalau software itu dibuat dengan niat untuk mencari uang, kemudian orang-orang yang mau memakainya diharuskan membayar harga terentu, selain peredaran software itu menjadi terbatas, juga memancing banyak pihak untuk meng-crack-nya. Ujung-ujungnya, uangnya tidak dapat, dan proyeknya gagal, sementara ilmu yang didapat oleh para user pun juga tidak berkah.

Maka Penulis menganjurkan agar niat awal membuat software apapun yang terkait dengan ilmu-ilmu agama, haruslah niatnya untuk memberi dan berbagi, bukan niat untuk mencari keuntungan secara materi. Sepanjang yang penulis tahu, bila suatu software dibutuhkan banyak orang, tetapi dijual dengan harga mahal, hal itu hanya akan menarik orang untuk menjebolnya.

2. Berbahasa Indonesia

Di antara kelemahan software biasanya ada pada kendala bahasa. Karena software ini biasanya bikin luar negeri, maka bahasa pengantarnya pun menggunakan bahasa asing.

Padahal tujuan kita membuat software ini lebih diutamakan buat masyarakat kita sendiri, khususnya bangsa Indonesia. Dan bangsa Indonesia adalah bangsa muslim terbesar di dunia, sehingga kalau mau membuat buku, software, film atau media apapun yang ditujukan kepada umat Islam, maka yang paling masuk akal adalah dibuat dalam bahasa Indonesia.

Sebab 200 juta bangsa Indonesia ini beragama Islam. Dan jumlah itu berarti 1/7 dari seluruh jumlah umat Islam di dunia. Orang-orang Islam yang ada di Malaysia, Brunai dan Thailand, rata-rata memahami bahasa Indonesia.

3. Diagram

Kebanyakan program mawaris tidak mampu membuat diagram yang menggambarkan struktur keluarga. Sehingga kesahalan sering terjadi ketika harus memasukkan data tentang siapa saja para ahli waris.

Dengan adanya diagram yang menggambarkan struktur keluarga, para pengguna akan sangat dimudahkan dalam mendudukan setiap masalah.

Program itu seharusnya berupa sebuah diagram keluarga yang menggambarkan posisi-posisi para ahli waris, yang di masing-masing calon ahli waris itu bisa diisikan keberadaan mereka, termasuk jumlah mereka kalau memang dibutuhkan.

D. Program Sederhana dan Mudah

Untuk memudahkan dalam menghitung harta waris, Penulis dibantu oleh banyak pihak, di antaranya seseorang yang membantu membuatkan program sederhana namun cukup mudah dan sangat membantu dalam menyelesaikan hitung-hitungan waris.

Program ini bukan program yang dibuat dengan bahasa C atau Java, tetapi hanya dibuat dengan menggunakan program yang sederhana sekali, yaitu dengan memanfaatkan software bawaan dari keluarga Microsoft Office, yaitu Excel 2003.

Software ini atau mungkin lebih tepat disebut dengan program bisa dengan mudah dan gratis Penulis persembahkan kepada para pembaca sekalian.



[1] http://kaisansoft.com/produk-layanan/software-hitung-waris-at-tashil/