Runtuhnya hukum Islam di berbagai negeri Islam ditandai dengan dua hal, yaitu masuknya penjajah Barat ke berbagai negeri muslim, dan juga dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmani di tahun 1924.
A. Penjajahan
Dari awal penjajahan Barat yaitu perang salib, umat Islam telah kehilangan berbagai daerah yang semula telah dikuasai Islam, yang kemudian jatuh ke tangan orang Kristen, yang sukar untuk dikembalikan kembali. Jadi pada perang salib ini telah terjadi penaklukan dan penyerangan yang dilakukan oleh negara Barat untuk merebut wilayah-wilayah kekuasaan Islam.
Tidak terhingga kerugian yang diakibatkan oleh penjajahan tersebut, baik kerugian hasil budaya dan peradaban manusia maupun kerugian material maupun korban jiwa.
Penaklukan yang dilakukan oleh negara-negara Barat antara lain adalah:
1521
Spanyol datang ke Maluku
1595
Belanda memonopoli perdagangan di Indonesia
1820
Oman dan Qatar berada di bawah protektorat Inggris
1830
Penaklukan Aljazair oleh Perancis
1839
Aden dikuasai Inggris
1881
Tunisia diserbu Perancis
1882
Mesir diduduki Inggris
1898
Sudan ditaklukkan Inggris
1900
Chad diserbu Perancis
Pada abad ke20 M Italia dan Spanyol ikut bersama Inggris dan Perancis memperebutkan wilayah-wilayah di Afrika.
1960
Kesultanan muslim di Nigeria utara menjadi protektorat Inggris
1912
Kesultanan Tripoli dan Cyrenaica diserbu Italia
1912
Marokko diserbu Perancis dan Spanyol
1914
Kuwait di bawah protektorat Inggris
1919
Sisilia wilayah Turki diduduki Perancis
1920
Irak menjadi protektorat Inggris
1920
Syria dan Libanon di bawah mandat Perancis
1926
Perebutan seluruh Somalia oleh Italia
Sementara itu, Rusia menggerogoti wilayah-wilayah muslim di Asia Tengah, terutama setelah ia berhasil mengalahkan Turki Usmani yang berakhir dengan Perjanjian San Stefano dan Perjanjian Berlin. Satu per satu pula negeri-negeri muslim jatuh ke tangan Rusia, seperti tergambar dalam daftar berikut:
1834-1859
Pencaplokan Kaukasia oleh Rusia
1853-1865
Serbuan pertama Rusia di Khoakand dan jatuhnya Tashkent
1866-1872
Daerah-daerah sekitar Samarkand dan Bukhara ditaklukkan Rusia
1873-1887
Uzbekistan ditaklukkan Rusia
1941-1946
Pendudukan Anglo Rusia di Iran.
Selain berupa penaklukan dan penyerangan negara-negara Barat juga banyak melakukan penindasan, penghisapan dan perbudakan, yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Penindasan dilakukan kepada wilayah-wilayah yang telah dikuasainya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Penghisapan terutama pada hasil bumi dan kekayaan alam negara yang dijajahnya serta perbudakan banyak dialami oleh orang-orang Islam yang wilayahnya telah jatuh ke tangan negara-negara Barat.
Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, justru menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal memancapkan kekuasaannya karena kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga mudah dapat ditaklukkan.
Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang, yang kemudian disusul oleh Belanda, Inggris, Demark dan Perancis. Belanda datang tahun 1595 M dan dengan segera memonopoli perdagangan di Indonesia. Tentu kehadirannya ditantang oleh penduduk setempat.
Oleh karena itu seringkali terjadi peperangan antara Belanda dengan penduduk, walaupun akhirnya peperangan dimenangkan oleh Belanda, yang terbesar diantaranya adalah perang Aceh, perang Paderi di Minangkabau dan perang Diponegoro di Jawa.
Perlawanan dari umat Islam terhadap pada penjajah bukan saja dilatar-belakangi perampasan harta benda dan kekayaan alam, tetapi juga karena para penjajah itu menerapkan hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang berlaku.
B. Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah
Faktor yang turun membantu runtuhnya hukum Islam di berbagai negeri Islam adalah karena sudah tidak adanya lagi kekuatan yang menyatukan umat Islam, akibat telah runtuhnya khilafah Islamiyah yang terakhir, yaitu Dinasti Bani Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
a. Berawal Dari Berita Nabi SAW
Khilafah Turki Utsmani adalah sejarah khilafah Islamiyah yang paling gemilang. Diawali dengan keberhasilan membobol Benteng Bosporus di Konstantinopel di belahan Eropa oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di tahun 1453. Keberhasilan ini adalah wujud dari kabar gembira yang telah ditanamkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya, bahkan umat Islam pasti akan dapat menaklukkan Konstantinopel, bahkan beliau memuji panglima dan prajuritnya.
لَتَفْتَحُنَّ القُسْطَنْطِيْنِيَّةِ فَلَنِعْمَ الأَمِيْرُ أَمِيْرُهَا وَلَنِعْمَ الجَيْشُ ذَلِكَ الجَيْشُ
Kalian pasti akan dapat menaklukkan Konstantinopel. Sungguh panglima yang paling baik adalah panglimanya dan tentara yang terbaik adalah tentara.
Al-Albani mendhaifkan hadits ini namun klaim ini ternyata keliru besar, sebab ada banyak muhaddits besar di masa lalu yang menyatakan kekuatan sanad hadits ini.
§ Al-Imam As-Suyuthi menshahihkan hadits ini di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir.
§ Ibnu Abdil Barr menghasankan hadits ini di dalam Al-Isti’ab 1/250.
§ Al-Hakim menshahihkannya di dalam Al-Mustadrak.
§ Al-Haitsami menyataan rijalnya tsiqat di dalam Majma’ Az-Zawaid 6/221.
Selain itu juga ada hadits shahih yang lain menguatkan hadits di atas.
بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللهِ r نَكْتُبُ إِذْ سُئِلَ رَسُولُ اللهِ r : أَيُّ المَدِيْنَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلاً؟ أَ قُسْطَنْطِيْنِيَّة أَوْ رُوْمِيَّة ؟ فَقَالَ رَسُول اللهِ r : مَدِيْنَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِيْنِيَّةِ
Ketika kami sedang bersama Nabi SAW menulis, tiba-tiba beliau ditanya,”Kota mana yang lebih dahulu dibebaskan? Konstantinopel atau Roma?”. Beliau SAW menjawab,”Kota Kaisar Heraklius akan dibebaskan lebih dahulu, yaitu Konstantinopel”. (HR. Al-Hakim)
b. Masa Kejayaan
Sepanjang abad ke-16 dan 17, tepatnya pada puncak kekuasaannya di bawah pemerintahan Suleiman agung, Kesultanan Utsmaniyah adalah salah satu negara terkuat di dunia, imperium multinasional dan multibahasa yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat (Kaukasus), Afrika Utara, dan Tanduk Afrika.
Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari 32 provinsi dan sejumlah negara vasal, beberapa di antaranya dianeksasi ke dalam teritori kesultanan, sedangkan sisanya diberikan beragam tingkat otonomi dalam kurun beberapa abad.
Dengan Konstantinopel sebagai ibu kotanya dan kekuasaannya atas wilayah yang luas di sekitar cekungan Mediterania, Kesultanan Utsmaniyah menjadi pusat interaksi antara dunia Timur dan Barat selama lebih dari enam abad. Kesultanan ini bubar pasca Perang Dunia I. Pembubarannya berujung pada kemunculan rezim politik baru di Turki, serta pembentukan Balkan dan Timur Tengah yang baru.
c. Keruntuhan
Namun berita gembira tentang kemenangan umat Islam bisa merebut Konstantinopel itu sudah terjadi, bahkan sudah berlalu. Masa kejayaan Khilafah Turki Utsmani sudah selesai menghiasi lembar-lembar sejarah umat Islam.
Tinggallah kita pada hari ini, kita sudah melewati masa kejayaan Turki Utsmani selama kurang lebih 500-600 tahun dan justru malah berada pada periode keruntuhannya di tahun 1924.
Runtuhnya Khilafah Bani Ustmani ini menandai awal runtuhnya peran hukum Islam sebagai bagian dari hukum positif yang dijalankan pada suatu negara.
C. Upaya Kebangkitan Kembali
Upaya untuk mengembalikan hukum Islam ke dalam sebuah negara yang berdeka dan berdaulat tanpa dicampuri dengan hukum-hukum asing secara umum dilakukan umat Islam lewat salah satu dari dua cara, yaitu lewat masuk ke dalam sistem suatu negara muslim, atau lewat membangun negara Islam tersendiri yang terpisah dari negara yang sudah ada.
1. Perjuangan Dari Dalam Sistem
Yang dimaksud dengan perjuangan dari dalam sistem adalah munculnya berbagai partai Islam, yang secara umum bertujuan untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam di dalam suatu sistem negara.
Mesir
Partai Kebebasan dan Keadilan (Hizbul Hurriyah wa a’dalah). Partai ini muncul di Mesir sebagai partai hasil bentukan Pergerakan Al-Ikhwanul Al-Muslimun.
Palestina
Sebagain rakyat Palestina yang mengadakan perlawanan kepada Israel menyebut diri mereka sebagai Hamas, akronim dari Harakah Muqawwamatul Islamiyyah, atau gerakan perlawanan Islam.
Salah satu pejabatnya, Ismail Haniya mengatakan ketika berkunjung ke Mesir bahwa HAMAS adalah perpanjangan tangan dari Ikhwan di mesir
Turki
Turki adalah negara yang unik, secara geografis negeri ini berada sebagainnya di benua Eropa, namun secara agama, rakyat Turki mayoritas beragama Islam. Sementara pemerintahannya dikuasai oleh kalangan muslim yang sekuler, sehingga oleh sebagian kalangan diposisikan sebagai ‘musuh’ syariah Islam.
Maka kita menemukan banyak sekali partai-partai yang notabene ingin memperjuangkan syariat datang dan pergi silih berganti. Di antaranya pernah ada REFAH dan juga Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi).
Indonesia
Indonesia pernah punya beberapa partai Islam dalam sejarahnya, mulai dari Masyumi, Nahdlatul Ulama di masa awal, hingga muncul fusi antara berbagai partai Islam di masa Orde Baru menjadi PPP, hingga masa reformasi 98, yang melahirkan lusinan partai yang berafiliasi kepada penegakan syariat Islam.
Malaysia
Di Malaysia yang bisa disebut dengan partai Islam adalah PAS, akronim dari Partai Islam Se-Malaysia. Sebelumnya ada partai bernama Hizbul Muslimin.
Libya
Partai Keadilan dan Pembangunan (Hizbul al-’Adalah wal Bina’)
Maroko
Partai Keadilan dan Pembangunan (Hizbul Adalah wat Tanmiyah)
Tunisia
Partai An-Nahdlah
Yaman
Partai Al Ishlah (At Tajammu’ Al Yamani li Al Ishlah)
Yordania
Partai Front Amal Islami (Hizb Jabhah Al-Amal Al-Islami)
Aljazair
Partai Front Keadilan dan Pembangunan
2. Perjuangan Dari Luar Sistem
Yang dimaksud dengan perjuangan dari luar sistem adalah sekian banyak harakah, tanzim atau jamaah yang ingin menegakkan syariat Islam, namun tidak mau lewat sistem parlemen atau membangun partai secara resmi. Mereka memilih untuk berada di luar sistem dan membangun berbagai macam gerakan, baik yang bersifat sosial, politik ataupun kekuatan bersenjata.
¨