SFK > Shalat > Bagian Pertama : Dasar-dasar Shalat

⬅️

Bab 2 : Meluruskan Hikmah Shalat

➡️
1396 kata | show

Di tengah umat Islam ada banyak berkembang kajian yang mengaitkan shalat dan tujuannya secara duniawi. Biasanya tujuan shalat secara dunia seringkali dikaitkan dengan kesehatan tubuh, ketenangan jiwa, kedisiplinan bahkan dengan sains.

A. Hikmah vs Syarat Sah

Seringkali orang terjebak pada kerancuan untuk membedakan antara hikmah dan ’illat. Salah satu contohnya pada firman Allah SWT berikut ini :

إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر

Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. (Q.S. Al-Ankabut: 45)

Karena ayatnya memang shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, lalu ditariklah kesimpulan yang aneh. Misalnya kalau shalat tiap hari tapi masih terus saja melakukan perbuatan yang keji dan munkar, berarti shalatnya sia-sia.

Ungkapan shalat sia-sia ini bisa banyak penafsiran. Yang fatal kalau sampai yang dimaksud dengan sia-sia itu shalatnya dianggap tidak sah. Sehingga buat apa shalat kalau tidak sah dan tidak diterima oleh Allah SWT.

Pemahaman semacam ini jelas keliru fatal sekali. Sebab mencegah perbuatan keji dan munkar sebagaimana yang disebutkan ayat di atas sama sekali tidak dipahami sebagai syarat sah-nya shalat. Ayat itu sedang bicara hikmah, dimana salah satu hikmah orang yang shalat, insyaallah bisa terhindar dari perbuatan keji dan munkar.

Contoh mudah untuk membedakan antara syarat sah dan hikmah adalah keringanan qashar shalat empat rakaat menjadi dua. Dari sisi hikmah, keringanan ini diberikan Allah untuk menghindarkan dari keberatan beban tasyri’ (masyaqqah). Namun dari sisi syarat, dibolehkannya qashar itu harus disebabkan karena  perjalanan (safar) yang memenuhi jarak minimal, yaitu 4 burud .[1] Konversi di masa adalah menurut Wahbah Az-Zuhaili menjadi 88,704 km.[2]

B. Hikmah-hikmah Yang Sering Dipakai

Seringkali kita mendengar dan membaca ulasan tentang hikmah shalat, yaitu manfaat shalat secara ukuran duniawi. Di antara hikmah yang sering disinggung adalah kesehatan, olahraga, ketenangan jiwa, kedisiplinan dan juga mistik.

1. Kesehatan

Shalat dan kaitannya dengan kesehatan diungkapkan salah satunya dalam desertasi doktor yang ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Soleh yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi”.

Dalam disertasi itu dijelaskan bahwa tiap gerakan shalat ternyata punya nilai dan manfaat tersendiri dari sisi kesehatan. Misalnya gerakan sujud. Sujud menurut disertasi ini adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada.

Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi.

Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

2. Olahraga

Sebagian orang ada yang mengaitkan shalat dengan olahraga. Gerakan-gerakan shalat yang asalnya dari ketentuan Allah SWT itu dikupas dan dijelaskan manfaatnya seolah shalat itu adalah olahraga. Misalnya gerakan berdiri tegak, diasumsikan akan meluruskan tulang belakang dan melancarkan aliran darah. Atau gerakan ruku' yang membungkuk, akan mengencangkan otot-otot pada punggung. Atau posisi sujud akan mengalirkan lebih banyak darah ke kepala dan seterusnya.

Dalam kasus tertentu secara kebetulan bisa saja kita terima hal penjelasan itu. Namun jangan sampai kita salah arah, sehingga beranggapan bahwa tujuan shalat itu adalah berolahraga dan meregangkan otot-otot yang kaku.

Padahal Nabi SAW tidak pernah mengaitkan shalat dan olah raga, baik secara eksplisit atau pun secara implisit. Yang dikhawatirkan adalah apabila ada ketidak-sesuaian aturan dalam gerakan dan posisi shalat dengan aturan dalam berolah-raga. Maka akan terjadi kebingungan, manakah dari keduanya yang harus diikuti.

Dan akan menjadi fatal akhirnya ketika gerakan dan posisi shalat yang datang dari teks syariah harus 'dikalahkan' dengan ketentuan yang berlaku dalam dunia olahraga. Sayangnya, kita justru lebih sering mendengar hal seperti ini dalam kenyataannya. Sehingga ritual shalat berubah acuannya dari wahyu kepada semata-mata logika olahraga.

3. Ketenangan Jiwa

Sebagian dari umat Islam ada yang mengaitkan antara shalat dan kondisi jiwa seseorang. Seolah-olah ingin memaksakan bahwa di antara manfaat shalat itu menyebabkan jiwa menjadi tenang.

Padahal ketenangan jiwa yang dimaksud ternyata hanya hasil adaptasi dari praktek-praktek kontemplasi dan yoga. Keduanya coba dikawinkan dengan gerakan-gerakan shalat, yang seharusnya murni bersumber dari Al-Quran dan Sunnah.

Berbagai gerakan dan posisi shalat disebut-sebut mengandung unsur tertentu, yang dapat membantu agar seseorang bisa melakukan kontemplasi. Shalat yang benar dikatakan apabila bisa benar-benas mengosongkan pikiran.

Sayang sekali kemudian banyak orang yang terpana dengan cara-cara seperti ini. Dan apa yang dikhawatirkan kemudian terjadi, yaitu shalat akhirnya mengalami perubahan bentuk dari aslinya menjadi tapa dan yoga.

4. Kedisiplinan

Sebagian orang mengaitkan hikmah shalat dengan kedisiplinan. Konon manfaat shalat adalah melatih kedisiplinan para jamaah, dimana shalat jamaah merupakan model pelatihan untuk membentuk watak kedisiplinan. Di antaranya disiplin waktu, karena setiap shalat fardhu sudah punya waktu masing-masing. Sehingga apabila dijalankan dengan benar, maka shalat itu menjadi sarana mendisiplinkan diri.

Secara subjektif, boleh saja seseorang mengaku mendapatkan hikmah dari shalat berupa kedisiplinan waktu. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa arti dan maksud dari shalat adalah disiplin mengatur waktu. Sebab ada banyak orang yang disiplin dalam waktunya, bukan karena rajin shalat. Sebaliknya, banyak orang yang disiplin menjalankan shalatnya, tapi kurang disiplin dalam masalah waktunya.

Maka harus diakui bahwa sesungguhnya tidak ada hubungan secara langsung sebab akibat antara aktifitas shalat sebagai ibadah dengan tingkat kedisiplinan pelakunya.

5. Mistik

Ada lagi orang yang mengait-ngaitkan shalat ini dengan apa yang mereka sebut dengan sain, walaupun sebenarnya justru sama sekali bukan sain melainkan mistik. Misalnya Prof. Riset. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS. dalam bukunya, “The Science of Shalat”. Dalam buku itu, penulisnya menyampaikan apa yang belum pernah ditulis oleh siapa pun di dunia ini tentang kaitan waktu-waktu shalat dengan apa yang disebutnya sebagai sain.

Seolah-olah ada kesan bahwa ibadah shalat itu sangat ilmiyah, karena ada kecocokan dengan dunia sain modern. Sayangnya, kalau kita telusuri lebih dalam, lama-lama dahi kita jadi berkerut-kerut, karena apa yang dikatakannya sebagai sain ternyata sangat jauh dari kenyataan.

Menurutnya setiap peralihan waktu shalat, bersamaan dengan terjadinya perubahan energi alam yang dapat diukur dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Ini aneh di telinga kita, apa yang dimaksud dengan energi alam?

C. Shalat Berdasarkan Tuntunan

Namun yang menjadi pertanyaan penting adalah : apakah semua kaitan antara shalat dengan kesehatan atau tujuan-tujuan lainnya itu bisa diterima dalam syariat Islam? Dan apakah menjadi tugas kita untuk mencari manfaat dan hikmah di balik tiap gerakan ritual shalat? Dan bisakah semua itu dipertanggung-jawabkan sebagai bagian dari ilmu tentang shalat, ataukah sifatnya hanya manfaat yang bersifat subjektif dan kebetulan saja?

Sebenarnya gerakan shalat dan juga bacaannya merupakan tata cara peribadatan yang bersifat ritual, turun dari langit dibawa oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalam, sebagai paket amanat yang harus dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan ummatnya. Kejadiannya setelah malam sebelumnya, Rasulullah SAW menerima perintah prinsip shalat lima waktu dalam peristiwa mikraj ke Sidratil Muntaha.

1. Tidak Ada Rahasia

Pada hakikatnya gerakan shalat itu tidak boleh dicarikan makna atau rahasia, karena memang tidak pernah ada penjelasan dari Allah SWT untuk itu. Karena gerakan itu semata-mata merupakan gerakan ritual yang merupakan ketetapan dari Allah, dimana Dia hanya mau disembah hanya dengan cara itu. Allah SWT sama sekali tidak memberikan penjelasan atau pun alasan tentang makna-maknanya.

2. Hasil Imajinasi

Ketika ada yang mengaku ada rahasia yang tersembunyi di balik semua gerakan shalat, dipastikan sumbernya bukan dari Rasululllah SAW. Melainkan dari pengalaman diri sendiri, yang bisa saja benar dan bisa juga tidak benar.  Selain itu juga bisa saja seseorang mendapatkannya dan bisa juga tidak mendapatkanya.

 



[1] Jumhur ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah,  Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah umumnya sepakat bahwa minimal berjarak empat burud. Dasar ketentuan minimal empat burud ini ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini : يَاأَهْلَ مَكَّةَ لاَ تَقْصُرُوا فيِ أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بَرْدٍ مِنْ مَكَّةَ إِلىَ عُسْفَان Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR. Ad-Daruquthuny)

[2] Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/142