Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad) kepada orang-orang yang kufur, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” Prof. Quraish Shihab:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, "Kamu pasti akan dikalahkan dan akan digiring ke ]ahannam. Dan itulah ayunan (tempat) yang seburuk-buruknya"
Prof. HAMKA:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, "Kamu akan dikalahkan dan akan dikumpulkan kepada Jahannam, (yaitu) seburuk-buruk tempat persediaan."
Semua pasti akan dikalahkan di dunia ini, kalaupun tidak oleh kaum muslimin, maka akan dikalahkan oleh lawan-lawan alami mereka, meskipun sama-sama kafirnya.
Dan tidak sampai hanya disitu, nanti di akhirat mereka akan dijebloskan ke dalam neraka Jahannam sebagai tempat tinggal yang paling buruk.
Intinya, menjadi orang kafir itu bukan pilihan, karena kesialannya dua kali lipat. Namun begitulah yang terjadi, ternyata masih saja orang-orang memilih jadi orang kafir.
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا
Lafaz qul(قُلَّ) artinya : katakanlah. Kalau di dalam Al-Quran ada perintah seperti ini di awal ayat, maka maksudnya ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Biasanya perintah ini terkait dengan apa yang harus dijawab oleh Nabi SAW atas sikap atau pernyataan orang kafir.
Lafazh lilladzina kafaru (لِلَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : kepada orang-orang kafir. Dalam hal ini maksudnya kepada orang kafir yang sudah disebutkan pada ayat sebelumnya.
Dalam hal ini apa yang harus disampaikan oleh Nabi SAW kepada orang-orang kafir berupa ancaman yang tegas, yaitu mereka akan dikalahkan di dunia ini dan juga akan disiksa nanti di hari akhir.
Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi mereka kecuali menyatakan diri untuk beriman kepada apa yang telah disampaikan oleh NAbi SAW dan mengimaninya.
سَتُغْلَبُونَ
Makna sa-tughlabuna (سَتُغْلَبُونَّ) adalah : kamu pasti akan dikalahkan. Asalnya katanya dari (غلّب–ّيغّلِبّ) sebagaimana firman Allah SWT ketika menjelaskan kekalahan dan kemenangan bangsa Romawi atas Bangsa Persia.
Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. (QS. Ar-Ruum : 1-3)
Yang menarik bahwa kabar bahwa orang-orang kafir itu kalah disampaikan dalam bentuk fi’il majhul : dikalahkan. Tidak disebutkan siapa yang mengalahkannya, karena boleh jadi yang mengalahkan tidak harus kaum muslimin secara langsung.
Bisa saja lewat kekuatan lain, entah itu bangsa lain yang samasama kafir atau bisa juga dikalahkan oleh kekuatan alam seperti berbagai bencana yang sudah banyak diceritakan di dalam AlQuran.
Bukankah tentara Jepang itulah yang mengusir tentara Belanda dari tanah air kita? Ratusan tahun para leluhur kita melawan tentara Belanda, pada akhirnya Belanda memang hengkang, tapi tidak secara langsung karena perlawanan rakyat. Belanda kocar-kacir karena ditabrak oleh tentara Jepang.
Lalu Jepang menjajah negeri kita dan akhirnya angkat kaki. Bukan secara langsung karena berhadapan dengan perlawanan rakyat, tetapi negaranya dibom atom oleh Amerika.
Dua kota industri mereka yaitu Nagasaki dan Hiroshima lebur jadi debu. Industri Jepang bubar seketika, ekonomi mereka pun terjun bebas.
Pemerintah Jepang hanya bisa pasrah, terpaksa mereka menarik semua pasukannya dari berbagai negara, termasuk dari tanah air kita. Padahal sebelumnya pasukan Jepang itu tidak ada bandingannya, tentara paling kuat di Asia. Saat itulah kita memproklamasikan kemerdekaan.
Kesimpulannya, musuh itu bisa saja kalah secara langsung lewat kekuatan kita, atas izin Allah SWT tentunya. Namun seringkali Allah punya begitu banyak skenariolain. Bisa saja mereka kalah lewat tangan-tangan pihak lain yang tidak ada hubungannya dengan kita secara langsung.
Kalau dipikir-pikir, Amerika itu juga bukan sahabat bangsa Indonesia. Tidak ada urusannya Amerika membela Indonesia. Tapi urusannya mereka tidak suka dengan Jepang yang telah menghancurkan pangkalan militer Amerika Pearl Harbour secara tiba-tiba dan mendadak.
Karuan saja publik Amerika marah besar, dan akhirnya bom atom yang seharusnya ditentang oleh para aktifis kemanusiaan jadi malah diizinkan untuk dijatuhkan di negara Jepang. Lalu Jepang pun ambruk dan selesai.
Dan memang begitulah sunnatullah. Di saat seperti itulah kemudian apa yang Allah SWT firmankan menjadi benar, bahwa mereka pasti akan terkalahkan.
وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ
Makna watuhsyaruna ila (وَتُحْشَرُونَ إِلَىَّ) adalah kamu akan digiring ke jahannam(جَهَنّم). Ungkapan ini menarik untuk disimak, karena seolah-olah mereka itu hewan ternak yang digiring masuk ke tempat pejagalan. Mereka menurut saja digiring ke tempat pembantaian dan belum pernah ada yang melakukan perlawanan.
Dalam hal ini orang-orang kafir sudah seperti ternak yang digiring masuk ke dalam neraka jahannam.
Para ulama umumnya telah bersepakat mengatakan bahwa neraka Jahannam itu adalah neraka yang paling dahsyat siksanya. Salah satunya karena yang menempatinya memang para penjahat kelas kakap, yang bukan saja kafir tidak mau beriman, tetapi mereka termasuk influencer yang banyak mempengaruhi orang lain untuk ikut jadi kafir pula.
Itulah mengapa di ayat sebelumnya disebutlah nama besar seperti Firaun. Dia bukan hanya kafir tetapi dia adalah raja dan penguasa besar. Kalau dia sekedar kafir untuk dirinya sendiri, tentu dosa dan siksaannya lebih sederhana. Berhubung dia kafir dan sekalian jadi raja kafir, maka hukumannya tidak bisa disamakan begitu saja dengan kafir kelas teri.
Maka posisinya nerakanya adalah neraka kelas kakap juga, yaitu neraka Jahannam.
وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Lafazh wabi’sa-mihad (وَبِئْسَّ الْمِهَادَّ) artinya : seburuk-buruk tempat tinggal. Dikatakan seburuk-buruk karena di neraka tidak ada lagi tempat yang lebih buruk dari neraka Jahannam.
Dan dikatakan mihad yang artinya tempat tinggal, maksudnya neraka Jahannam adalah tempat peristirahatan terakhir, yang sudah tidak ada lagi cerita pindah atau mengungsi ke tempat lain.
Jangankah ke surga, sekedar ke neraka lain yang lebih ringan siksaannya pun juga tidak mungkin.