Kemenag RI 2019:Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil ) dan kamu menyembunyikan kebenaran, ) padahal kamu mengetahui? Prof. Quraish Shihab:
Wahai Ahl al-Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang b.aq dengan yang batih dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?"
Prof. HAMKA:
Wahai, Ahlul-kitab! Mengapa kamu campur aduk kebenaran itu dengan kepalsuan dan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.
Ayat 71 dari surat Ali Imran ini mempertanyakan sikap dan tindakan orang-oang Yahudi yang punya kebiasaan mencampur aduk antara kebenaran dan kebatilan atau menutupi kebenaran sehingga tidak dapat ditemukan.
Secara prakteknya, kitab suci Taurat yang turun di masa kenabian Musa pun mereka campur-campur dengan apa yang mereka tuliskan sendiri, sehingga tidak jelas lagi mana yang sebenarnya merupakan firman Allah SWT dan mana yang hasil pemikiran mereka sendiri.
Namun hal itu wajar bila mengingat bahwa jarak waktu yang terbentang antara zaman Nabi Musa ke zaman Nabi Muhammad SAW cukuh jauh. Nabi Musa diperkirakan hidup di tahun 1.300-an sebelum masehi, sementara orang-orang Yahudi yang disebutkan dalam ayat ini adalah mereka yang bertemu dengan Nabi Muhamamd SAW. Padahal Nabi SAW hidup terpisah jarak waktu 600-an tahun jaraknya dari Nabi Isa, bila ditambahkan dengan 1.300-an tahu dari Isa ke Musa, maka total jaraknya menjadi 1.900-an tahun. Dengan usia setua itu, kitab Taurat pun sudah tidak jelas lagi keasliannya. Karena memang sejak awal Taurat tidak diproteksi oleh Allah SWT, tidak sebagaimana Allah SWT menyiapkan Al-Quran yang diproteksi lewat janji yang tegas.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Lafazh ahlal kitab (أَهْلِ الْكِتَابِ) maksudnya para pemeluk agama samawi di masa lalu yang telah diturunkan kepada mereka berbagai kitab suci dari langit. Namun yang masih tersisa dan sampai berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW hanyalah Yahudi dan Nasrani. Yahudi mendapat kitab suci Taurat dari Allah SWT, sedangkan Nasrani menerima kitab suci Injil dari Allah SWT.
Bila dikaitkan dengan sirah nabawiyah, secara teknis ayat ini cenderung mengarah kepada orang-orang Yahudi. Sebab orang-orang yahudi memang sudah menempati Madinah atau Yatsrib sejak sebelum kedatangan Nabi SAW hijrah kesana. Sedangkan orang nasrani meskipun termasuk juga sebagai ahli kitab, karena mereka mendapatkan kitab Injil, namun yang lebih banyak mereka justru berdomisili di Mekkah. Padahal ayat ini turun di Madinah, dimana Nabi SAW lebih intens berinteraksi dengan kalangan Yahudi.
Di antara beberapa yahudi Madinah yang dimaksud ayat ini oleh para mufassir disebutkan ada beberapa nama. Az-Zuhri dan Qatadah menyebut Ka’ab bin Al-Asyraf. Sedangkan Ibnu Abbas, Ikrimah dan Said bin Jubair menyebut Huyai bin Akhtab dan Abu Yasir bin Akhtab.
Memang kita sering mendapatkan isyarat dalam Al-Quran bahwa sesungguhnya sikap dari kalangan para pemeluk agama ahli kitab itu tidak bisa diseragamkan. Ada yang kafir dan memusuhi, namun ada yang yang tidak mau masuk Islam tetapi tidak bersikap memusuhi. Dan dari sebagian mereka juga ada yang benar-benar mendapatkan hidayah dan masuk Islam menjadi shahabat nabi sejati.
لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
Kata li-ma (لِمَ) adalah bentuk kata tanya dan maknanya : mengapa. Sedangkan lafazh talbisuna (تَلْبِسُونَ) asalnya dari kata (لبس - يلبس) yang maknanya memakai atau mengenakan, sebagaimana penghuni surga mengenakan pakaian khusus mereka
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Anam : 82)
Selain itu di dalam Al-Quran juga ada kata ini dengan makna keragu-raguan.
Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri. (QS. Al-Anam : 9)
Dalam konteks ayat ini, yang nampaknya lebih tepat adalah mencampur-aduk antara yang hak dan yang batil. Walaupun tidak salah juga kalau mau kita maknai dengan : mengenakan, karena kebatilah itu kemudian dibungkus dengan pakaian kebenaran, seolah-olah kebatilan itu menjadi seperti benar.
Sedangkan secara teknisnya, seperti apa bentuk mencampur-aduk antara kebatilan dan kebenaran, ternyata ada beberapa pendapat dari para ulama yang berbeda-beda. Rinciannya sebagai berikut .
1. Tercampurnya Taurat Dengan Pemikiran Para Rahib
Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal seperti ini menjadi kebiasaan tokoh agamawan di kalangan Yahudi yaitu mencampur-adukkan isi Taurat dengan hasil pemikiran dari mereka sendiri, sampai tidak jelas lagi mana yang original merupakan kitab suci dan mana yang hasil penambahan disana-sini oleh pemikiran mereka.
Oleh karena itulah ketika Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad, sejak awal sudah ada upaya yang amat serius untuk tidak boleh menuliskan kecuali hanya ayat Al-Quran saja. Sedangkan hadits-hadits nabi justru terlarang untuk dituliskan, termasuk juga penjelasan-penjelasan atas suatu ayat pun juga dilarang. Rupanya hal itu terkait untuk menjaga kemurnian Al-Quran dari berbagai macam unsur tambahan, agar jangan terulang seperti yang pernah terjadi di masa sebelumnya.
Dalam sejarah kita ingat bagaimana Khalifah Utsman bin Affan memerintahkan untuk membakar semua mushaf yang ditulis tangan oleh para shahabat yang mulia. Salah satu alasannya bahwa di dalam mushaf mereka terdapat banyak keterangan yang bukan bagian dari Al-Quran.
Misalnya Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu menuliskan dalam ayat tentang perintah menjaga shalat fardhu dan shalat pertengahan (صلاة الوسطى) sebuah tambahan yaitu : shalat Ashar. Yang tahu tambahan itu hanya Ibnu Masud saja, sedangkan orang lain bila membaca mushaf itu pasti akan mengira tambahan itu bagian dari ayat Al-Quran.
2. Status Kenabian Muhammad
Pendapat lain datang dari Abu Al-'Aliyah yang mengatakan bahwa dicampur-aduknya al-haq dengan al-batil itu ketika orang-orang yahudi memposisikan kenabian Muhammad SAW bagi mereka. Di satu sisi mereka mengakui kenabian Muhammad yang merupakan bagian dari risalah para nabi yang pernah ada sebelumnya. Namun di sisi yang lain, mereka menyatakan tidak diperintah untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan bagi mereka.
Sebab menurut mereka setiap umat sudah punya nabi tersendiri. Dan nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Musa alaihissalam. Sementar untuk Nabi Muhammad SAW, mereka mengakui bahwa dirinya seorang nabi utusan Allah, namun diutusnya untuk bangsa Arab saja. Sedangkan mereka bukan bangsa Arab, jadi tidak terkena kewajiban untuk mengikuti kenabian Muhammad.
Kalau dipikir-pikir, logika dan alur pikiran mereka ada benarnya juga. Hanya saja kekeliruan mereka ketika tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang universal, risalahnya tidak hanya berlaku buat bangsa Arab saja, tetapi untuk semua bangsa, termasuk bangsa Yahudi atau Bani Israil.
وَتَكْتُمُونَ الْحَقّ
Lafazh taktumun (تَكْتُمُونَ) bermakna menutupi, sedangkan makna al-haq (الْحَقَّ) adalah kebenaran. Dalam hal ini nampak ada perbedaan antara talbisul haq dengan taktumul-haq. Talbis itu memalsukan kebatilan biar nampak seperti kebenaran, sedang taktumu artinya menyembunyikan atau menutupi.
Pertanyaannya kemudian adalah kebenaran apakah yang ditutupi oleh Bani Israil dalam ayat ini?
Sebagian mufassir mengatakan bahwa generasi Bani Israil yang datang berikutnya ditutupi dan tidak diberitahu bahwa akan datang nabi utusan Allah SWT yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Padahal generasi yang sebelumnya, yaitu ayah dan kakek mereka mengetahui hal itu.
Namun secara sengaja mereka tutupi informasi kedatangan Muhammad SAW kepada generasi yang datang sesudahnya, sehingga anak keturunan Bani Israil berikutnya sama sekali tidak tahu bahwa seharusnya mereka juga ikut beriman kepada Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT menyatakan bahwa Bani Israil mengenal Nabi Muhammad SAW sudah seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. (QS. Al-Baqarah : 146)
Sebab kabar kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan segala cirinya sudah tertuang di semua kitab suci mereka. Bahkan mereka bisa sampai tinggal di Madinah, jauh-jauh datang dari Palestina tempat asal mereka, juga dilatar-belakangi dengan keinginan generasi awal mereka untuk bisa bertemu dengan nabi akhir zaman.
Konon nama Yatsrib itu sendiri adalah nama seorang Yahudi yang pertama kali datang dan menetap. Ketika Nabi SAW tiba di Yatsrib kemudian namanya diubah menjadi : Al-Madinah Al-Munawarah, yang secara bahasa bermakna : kota yang gemerlap dan bersinar karena datangnya Muhammad SAW.
Sayangnya semua fakta di atas kemudian tertutupi dan hilang begitu saja di level generasi berikutnya dari kalangan Yahudi Madinah. Disini kita tahu bahwa generasi awal Yahudi itu bertanggung-jawab atas tertutupnya fakta-fakta itu. Makanya Allah SWT membongkar semua tindakan orang-orang tua Yahudi dengan menyebut bahwa selain mereka mencampur-aduk antara yang haq dengan yang batil, mereka juga bertanggung-jawab atas hilangnya bukti-bukti kenabian Muhammad SAW dalam kitab suci mereka.
وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Lafazh wa antum ta’lamun (وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ) diartikan menjadi : padahal kamu mengetahui. Maksudnya bahwa semua kejahatan intelektual yang mereka lakukan, mulai dari mencampur-aduk kitab suci mereka dan juga menutupi bukti-bukti kongkret kenabian Muhammad SAW itu mereka lakukan atas dasar pengetahuan mereka, bukan karena ketidak-tahuan.
Dosa yang semacam ini jelas lebih besar ancamannya ketimbang orang yang bersalah tapi karena ketidak-tahuannya. Bani Israil itu tahu persis apa yang jadi kewajiban mereka, yaitu beriman dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi bagi mereka, sekalian juga menjadikan Al-Quran sebagai kitab suci mereka.
Namun mereka tidak mau melakukannya, walaupun secara nalar dan logika mereka tahu kesalahan mereka ketika mengingkari kenabian Muhammad.
Berbeda dengan kaum musyrikin Mekkah yang mengingkari kenabian Muhammad SAW karena latar belakang keawaman mereka dengan sistem kenabian dan kitab suci samawi. Memang tidak ada dalam tradisi bangsa Arab sebelumnya tentang sistem kenabian, sebab di jazirah Arab sepanjang sejarah memang tidak pernah ada nabi diutus.
Sehingga kita bisa memaklumi kalau musyrikin Mekkah sampai mengingkari kenabian Muhammad SAW, sebab ketidak-tahuan mereka. Sedangkan Bani Israil itu memang biang-kerok sekali. Mereka tahu persis siapa itu Nabi Muhammad SAW, tapi mereka tidak mau mengimaninya meksi harus dengan berperang melawan hati nuraninya.