Kemenag RI 2019:Janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu.” ) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk (yang sempurna) itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu atau mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” Prof. Quraish Shihab:
Dan janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk yang sempurna ialah petunjuk Allah, dan bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepada kamu, dan bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu. " Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
Prof. HAMKA:
"Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang-orang yang menuruti agama kamu." Katakanlah, "Sesungguhnya, yang petunjuk ialah petunjuk Allah, bahwa akan diberikan kepada seseorang sebagaimana pemberian yang diberikan kepada kamu, atau akan ada orang yang menempelak kamu di sisi Tuhan kamu." Katakanlah, "Sesungguhnya, karunia itu adalah di tangan Allah, diberikan-Nya akan dia kepada barangsiapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah itu adalah Mahaluas, lagi Mengetahui."
Ayat ke 73 ini berisi tentang sikap sebagian kelompok Yahudi yang melarang orang-orang Yahudi pengikutnya untuk beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya larangan ini masih kelanjutan dari perintah yang ada di ayat sebelumnya.
Bedanya kalau di ayat sebelumnya, perintahnya adalah mengimani sebagian ajaran Islam, yaitu ikut shalat di awal hari alias shalat Shubuh yang menghadap ke Masjid Al-Haram. Tetapi untuk siangnya shalat Zhuhur arah kiblatnya berbalik ke Baitul Maqdis.
Sedangkan di ayat ini perintahnya berupa larangan beriman kepada Nabi Muhammad SAW, kecuali bila masih ikut dengan ajaran Yahudi.
وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ
Ungkapan wa la tu’minu (وَلَا تُؤْمِنُوا) adalah fi’il nahyi yang pada intinya melarang untuk melakukan sesuatu dan artinya adalah : Dan jangalah kamu beriman.
Lafazh illa (إِلَّا) adalah istitsna’ aatau pengecualian atas larangan beriman. Sehingga maknanya boleh saja beriman, yaitu selaam dia termasuk orang yang mengikuti agamamu.
Lafazh li-man (لِمَنْ) artinya : orang yang, lafazh tabi’a (تَبِعَ) artinya mengikuti. Sedangkan makna dinakum (دِينَكُمْ) adalah : agama kamu, yaitu agama Yahudi. Kamu yang dimaksud disini memang orang-orang Yahudi.
Dan penyataan ini datang dari pimpinan Yahudi garis mencla-mencle alias jalur kemunafikan. Beberapa kelompok Yahudi yang terpecah sikapnya ada yang mengambil jalur kemunafikan. Tidak secara tegas memusuhi Nabi Muhammad SAW, karena secara resminya mereka menyatakan diri beriman. Namun isi hati mereka tidak sejalan dengan pernyataan dan pengakuan mereka.
Maka wajar sekali bila mereka ini masih mau sedikit berkompromi dengan kaum muslimin, yaitu beriman pada sebagian dan mengingkari pada sebagian yang lain. Sikap ambigu inilah yang sejak awal kita membuka mushaf Al-Quran telah diceritakan.
Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukan lah orangorang yang beriman. (QS. Al-Baqarah : 8)
Maka ketika bertemu dengan para shahabat yang merupakan pengikut Nabi Muhammad SAW, mereka ini secara tegas mengaku sebagai muslim juga.
Apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka menyendiri dengan setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya pengolok-olok.” (QS. Al-Baqarah : 14)
قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ
Lafazh qul (قُلْ) artinya : katakanlah, maksudnya Allah SWT memerintahkan untuk merespon sikap orang-orang Yahudi yang bersikap ambigu dengan hanya ikut sebagian perintah Allah SWT shalat shubuh menghadap Masjid Al-Haram, tetapi di siang hari shalatnya kembali lagi ke Baitul Maqdis.
Lafazh innal-huda (إِنَّ الْهُدَىٰ) artinya : bahwa petunjuk itu, lalu makna hudallah (هُدَى اللَّهِ) artinya adalah petunjuk Allah. Ini adalah ungkapan kekecewaan atas sikap Yahudi yang tidak mau tunduk secara seratus persen kepada perintah Allah SWT. Rupanya mereka masih merasa berat hati meninggalkan tata ibadah lama mereka.
Dan kalau ditimbang-timbang, latar belakang mereka bersikap seperti itu tidak lain karena mereka tidak mendapat hidayah. Memang hidayah itu milik Allah SWT saja. Dan dalam hal ini mereka berubat seperti itu karena tidak mendapat hidayah. Dan ini menjadi pelipur lara buat seorang Nabi Muhammad SAW atas sikap Yahudi yang bikin pusing dan sakit hati
أَنْ يُؤْتَىٰ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ
Lafazh an yu’ta (أَنْ يُؤْتَىٰ) artinya : bahwa seseorang akan diberi, sedangkan lafazh ahadun (أَحَدٌ) artinya : seseorang. Lalu lafazh mitsla (مِثْلَ) artinya : seperti dan lafazh ma-utitum (مَا أُوتِيتُمْ) artinya : apa yang diberikan kepada kamu.
Fakhurddin Ar-Razi di dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib menuliskan bahwa penggalan ini agak sulit untuk dijelaskan maknanya. Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang mengatakan penggalan ini, apakah masih sambungan dari perkataan pemimpin Yahudi kepada anak buahnya, ataukah itu pernyataan dari Allah SWT.
1. Pendapat Pertama : Perkataan Yahudi
Sebagian ulama mengatakan bahwa penggalan ini adalah masih perkataan pemimpim Yahudi kepada anak buahnya. Dan penggalan ini merupakan sambungan kalimat yang terputus dari ayat sebelumnya.
Kalau menggunakan versi ini, berarti para pemimpin yahudi lagi sedang berusaha meyakinkan pengikutnya agar jangan percaya kepada ajaran Muhammad SAW. Dasar argumentasi mereka bahwa apa yang telah Allah SWT turunkan yaitu kitab Taurat jauh lebih tinggi derajatnya dari sekedar apa yang diturunkan kepada seorang Muhammad.
Seolah mereka ingin berkata,”Kalian wahai orang Yahudi, kedudukan kalian dengan Taurat dan agama nabi Musa jauh lebih tinggi dan mulia dari pada Al-Quran dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Itulah versi pertama, dimana penggalan ini dianggap merupakan perkataan para pemimpin Yahudi kepada anak buahnya.
Team penerjemah di Kemenag RI nampaknya memilih pendapat ini, yaitu bahwa penggalan ini masih sambungan dari perkataan pemimpin yahudi kepada anak buah mereka. Bacalah terjemahan versi Kemenag RI yaitu :
(Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu.”
Menanggapi ucapan mereka, Allah segera berkomentar dan memerintahkan Nabi saw. menyampaikan kepada umat Islam dan kepada mereka,
Katakanlah: wahai Muhammad "Sesungguhnya petunjuk yang sempurna dan yang harus diikuti ialah petunjuk Allah. "
Kalian tidak akan mampu menjadikan umat Islam murtad setelah petunjuk itu bersemai dalam kalbu kami. Kami pun tidak dapat menjadikan kalian, wahai Ahl al-Kitab atau siapa pun, memeluk Islam jika kalian enggan menerimanya.
2. Pendapat Kedua : Perkataan Allah
Lalu versi kedua yang menyatakan penggalan ini merupakan perkataan Allah SWT dan bukan lanjutan dari pernyataan Yahudi di ayat sebelumnya. Kalau pakai versi ini, berarti Allah SWT tidak memberikan hidayah-Nya kepada mereka yaitu orang-orang Yahudi sebagaimana hidayah yang diberikan kepadamu, yaitu Nabi SAW.
Kalimat ini menjadi semacam kalimat pertanyaan yang bersifat retorika, yaitu : “Bagaimana kalian bisa berlaku seperti itu?”.
أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ
Lafzh au (أو) artinya : atau, yang menunjukkan keterkaitan antara penggalan ini dengan penggalan sebelumnya. Maksudnya ada dua pilihan antara kondisi pertama atau kondisi kedua.
Sedangkan lafazh yuhajjukum (يُحَاجُّوكُمْ) artinya : atau mereka akan menyanggah kamu, sedangkan makna inda rabbikum (عِنْدَ رَبِّكُمْ) artinya : di hadapan Tuhanmu.”
Karena ketika menafsirkan penggalan sebelumnya para ulama berbeda pendapat terkait siapakah yang mengatakannya, apakah para pemuka Yahudi ataukah Allah SWT, maka hal yang sama pastinya terulang lagi pada penggalan berikutnya.
Pilihan pertama bahwa yang berkata adalah orang Yahudi kepada anak buahnya, maka maknanya menjadi : atau Nabi Muhammad mendebat kamu, wahai orang Yahudi, di hadapan Allah SWT.
Sedangkan bila menggunakan pilihan kedua, yaitu bahwa penggalan ini merupakan perkataan Allah SWT sendiri, maka maksudnya menjadi : atau mereka orang-orang Yahudi menghujatmu di sisi Allah.
Lafazh qul (قُلْ) adalah perintah untuk menjawab yang bermakna : katakanlah. Sebagai reaksi dari pernyataan sebelumnya.
Lafazh al—fadhla (الْفَضْلَ) diartikan menjadi karunia, maksudnya apa yang Allah SWT berikan dalam bentuk risalah kenabian. Lafazh biyadillah (ِيَدِ اللَّهِ) secara harfiyah berarti : di tangan Allah. Namun umumnya para ulama menafsirkannya menjadi ditentukan oleh Allah SWT.
Maksudnya siapa yang Allah SWT muliakan dengan diberi kedudukan sebagai utusan Allah, baik sebagai nabi ataupun sebagai rasul, itu sepenuhnya hak preogratif Allah SWT. Orang-orang Yahudi boleh bangga bahwa selama ini benar bahwa kebanyakan para nabi diutus ditengah-tengah mereka.
Namun karena semua itu ada di ‘tangan Allah’, bisa-bisa saja bagi Allah SWT untuk menjadikan nabi dari kalangan luar Yahudi,
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) artinya : Dan Allah. Maksudnya penggalan ini semacam membuat kesimpulan akhir bahwa Allah SWT Maha Luas tidak merasa sempit. Selain itu Allah SWT juga Maha Mengetahui.
Lafazh waasi’ (وَاسِعٌ) secara bahasa bermakna luas. Namun apa yang dimaksud dengan Allah SWT Maha luas disini? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, antara lain :
· Prof. Quraish Shihab menjelakan bahwa yang dimaksud dengan luas adalah rahmat-Nya.
· Al-Farra’ mengatakan maksudnya luas dalam hal pemberian atau karunia.
· Ada juga yang mengatakan yang dimaksud luas adalah ilmunya.
· Ada juga yang mengatakan yang luas itu kekuasaannya.
Sedangkan lafazh ‘aliim (عَلِيمٌ) maknanya : Maha mengetahui, asalnya dari ilmu. Orang yang berilmu disebut ‘aalim (عَالِم). Namun kalau kita ingin menyebut orang yang sangat-sangat berilmu atau sangat banyak pengetahuannya, maka sebutannya adalah ‘aliim (عَلِيْم). Dan untuk Allah SWT, kita biasa menyebutnya dengan ungkapan : “Maha mengetahui.”
Luasnya pengetahuan Allah SWT itu digambarkan dalam bentuk tulisan yang akan menghabiskan seluruh air laut di dunia sebagai tintanya dan seluruh pohon sebagai penanya.
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman : 27)
Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (QS. Al-Kahfi : 109)
Secara iseng Penulis coba cari data tentang berapa banyak jumlah air laut di seluruh dunia. Total volume air di semua lautan di Bumi adalah sekitar 1.332.000.000 kilometer kubik (km³). Dalam satuan metrik yang lebih umum, volume air laut dinyatakan sebagai 1.332 x106 liter atau sekitar 1.332 juta kilometer kubik.
Mari kita asumsikan bahwa ilmu itu dituliskan dalam bentuk buku. Untuk mencetak 1000 halaman dengan ukuran halaman ukuran 8,5x11 inch dibutuhkan sekitar 100 - 200 mililiter (mL) tinta hitam. Dengan demikian, dengan 1 liter tinta, secara perkiraan kasar dapat mencetak sekitar 6 atau 7 buku.
Jadi, dengan perkiraan tersebut, 1.332 juta kilometer kubik tinta dapat digunakan untuk mencetak sekitar 8.880.000.000.000.000 (8 ribu trilyun) buku. Bila semua buku itu dibuat dalam bentuk digital, diperlukan server dengan kapasitas sekitar 82.814.025.878.906.25 terabyte (TB).
Tentu saja penggambaran buku digital semacam ini tidak digunakan dalam Al-Quran, karena Al-Quran turun di abad ketujuh masehi. Orang-orang di zaman itu pasti bingung dengan kopsep data digital.
Buat mereka lebih mudah memahami air laut di tujuh samudera dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu Allah. Pokoknya banyak sekali dan tidak terhitung, seperti jumlah tetes air di tujuh samudera.