Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitdb, hukum dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. "Akan tetapi ( dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan al-Kitdb dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. "
Tidaklah layak bagi kalangan manusia yang diberikan Allah kepadanya Kitab dan hukum dan nubuwwat, kemudian dia berkata kepada manusia, "Hendaklah kamu menjadi hamba-hamba bagiku, bukan hamba Allah." Tetapi ( dia berkata), "Jadilah kamu orang-orang ketuhanan, dari sebab kamu mengajakan Kitab itu dan dari sebab kamu membacanya."
Lafazh bima kuntum (بِمَا كُنْتُمْ) artinya : karena kamu, lafazh tu’allimunal-kitab (تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ) artinya kamu mengajarkan kitab. Sedangkan makna lafazh wa-bima kuntum (وَبِمَا كُنْتُمْ) artinya : dan karena kamu, sedangkan lafazh tadrusun (تَدْرُسُونَ) artinya : kamu mempelajari.
Penggalan terakhir ini menjadi kunci dari perintah untuk menjadi pribadi yang rabbani, yaitu lewat dua proses yang logis dan masuk akal, yaitu mengajarkan kitab dan mempelajarinya. Keduanya adalah satu paket, karena tidak mungkin ada yang bisa belajar kitabullah, kecuali bila ada yang mengajarkannya.
Kuncinya tetap pada kitab suci, dimana isi kitab suci itulah yang perlu dilaksanakan. Namun ketika Allah SWT menyebutkan keharusan mengajarkan dan belajar kitab suci, pesan yang kita dapat bahwa kitab suci itu memang perlu dipelajari secara serius.
Kalau dikaitkan dengan Taurat dan Nabi Muhammad, maka yang mengajarkan justru para rahib dan pendeta Yahudi. Sebab mereka yang paham bahasanya, selain bahwa kitab suci itu ada di tangan mereka. Sedangkan Nabi Muhammad SAW saat itu sebagaimana juga para nabi yang lain sebelumnya, diposisikan sebagai user dari Taurat. Untuk itu Beliau SAW diperintahkan untuk ‘belajar’ Taurat kepada para rahib dan pendeta, setidaknya meminta mereka untuk membacakan Taurat di tengah pengadilan hukum yang berlaku di Madinah saat itu. Tentang Nabi SAW disepakati menjadi hakim di Madinah, memang Allah SWT sudah tegaskan dalam Al-Quran :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa : 65)
Sedangkan bila yang dimaksud dengan kitab adalah Al-Quran, maka posisi Nabi Muhammad SAW justru sebagai yang mengajarkannya. Lalu yang belajar adalah para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim.
Yang unik adalah proses belajarnya, dimana Allah SWT secara khuhus menurunkan Al-Quran secara berangsur-angsur sepanjang masa hidup Nabi SAW, atau lebih tepatnya sepanjang masa tugas menjadi nabi utusan Allah, yaitu sepanjang 23 tahun.
Kalau kita bandingkan dengan Taurat yang turun secara sekaligus, maka Al-Quran turun sedikit demi sedikit selama kurun waktu yang amat panjang. Salah satu rahasianya agar terjadi proses belajar mengajar atas setiap ayat yang turun.
Proses seperti itu menjadi Al-Quran itu secara huruf per huruf, kata per kata, penggalan per penggalan, ayat per ayat, kelompok ayat, surat dan seterusnya, semuanya mengandung ilmu yang padat dan kaya.
Di kemudian hari, Al-Quran kemudian melahirkan berbagai macam cabang ilmu yang beragam, bukan hanya sekedar dibaca atau dihafal saja, melainkan ada begitu banyak cabang ilmu Al-Quran lainnya yang boleh jadi saat ini belum terlalu banyak dari umat Islam yang menyadari keberadaannya. Berikut ini adalah sebagian kecil sekian banyak cabang ilmu-ilmu Al-Quran.
1. Ilmu Tajwid
Ilmu Tajwid adalah cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur'an yang memperhatikan bagaimana tata cara serta hukum-hukum dalam melafazhkan ayat-ayat Al-Quran. Tujuannya adalah untuk mencapai bacaan Al-Qur'an yang benar sesuai dengan bagaimana Nabi SAW melafazhkannya melalui studi tentang hukum-hukum khusus dalam bacaan dan pelafalan huruf, kata, dan ayat.
Ilmu Tajwid mencakup banyak aturan dan hukum yang mengatur pembacaan Al-Qur'an, seperti tempat keluarnya huruf (tempat keluarnya dari tenggorokan dan cara pengucapannya), pola kata, infleksi, tanda-tanda baca, berhenti dan memulai, panjang dan pendeknya huruf, serta lainnya. Aturan-aturan ini membantu dalam mencapai pembacaan yang benar dan terampil.
Ilmu Tajwid dianggap sebagai bagian penting dari pembelajaran dan pemahaman Al-Qur'an, karena membantu dalam memahami makna kata-kata dengan lebih baik serta meningkatkan dampak spiritual dan keindahan dalam membaca Al-Qur'an.
2. Ilmu Qiraat
Ilmu Qira'at dalam Al-Qur'an adalah cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur'an yang mempelajari perbedaan-perbedaan terkait dengan variasi bacaan Al-Qur'an yang berbeda. Ilmu Qira'at didasarkan pada studi tentang metode-metode bacaan yang beragam yang termasuk dalam Qiraah Sab'ah bahkan Qiraah Asyrah yang dikenal dan ditransmisikan oleh para sahabat Nabi.
Tujuan dari ilmu ini adalah untuk memahami, menganalisis, dan menafsirkan perbedaan-perbedaan dalam bacaan Al-Qur'an yang berbeda serta mengetahui penyebab, bentuk, dan aplikasinya dalam pemahaman teks Al-Qur'an.
Ilmu Qira'at membantu dalam memahami teks Al-Qur'an secara lebih mendalam serta menghargai kekayaan dan keragaman dalam Al-Qur'an. Ini juga membantu dalam pemahaman struktur linguistik dan retorika Al-Qur'an serta menafsirkan maknanya dengan lebih luas dan lebih akurat.
3. Ilmu Waqf wa Al-Ibtida'
Cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur'an yang mempelajari aturan dan hukum terkait dengan berhenti (waqaf) dan memulai (ibtida') saat membaca Al-Qur'an. Tujuan ilmu ini adalah untuk menentukan tempat-tempat yang tepat untuk berhenti dan memulai sesuai dengan aturan syar'i dan linguistik.
Dalam ilmu waqaf, para ulama mempelajari aturan yang menentukan kapan harus berhenti saat membaca, baik untuk istirahat, penafsiran, atau alasan lainnya. Ini berkaitan dengan struktur linguistik teks, serta hukum-hukum syar'i terkait berhenti. Sementara itu, ilmu ibtida' mempelajari aturan yang menentukan bagaimana memulai membaca dengan benar sesuai dengan aturan linguistik dan syar'i.
Ilmu waqaf dan ibtida' memainkan peran penting dalam memahami dan membaca Al-Qur'an dengan benar dan tepat, membantu dalam menjaga pelafalan yang benar dan pemahaman yang lebih baik terhadap makna-makna, serta berkontribusi pada pemeliharaan efek spiritual dan keindahan dalam membaca Al-Qur'an.
4. Ilmu Nagham dan Maqamat
Ilmu Nagham dan Maqamat dalam membaca Al-Qur'an adalah cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur'an yang mempelajari aspek musikal dan melodis dalam membaca Al-Qur'an. Ini mencakup studi tentang suara, ritme, dan nuansa suara yang digunakan dalam membaca untuk menyoroti makna dan meningkatkan kinerja dalam membaca Al-Qur'an.
Ilmu ini bertujuan untuk memahami bagaimana perubahan dalam nada, ritme, dan nuansa suara digunakan untuk menyoroti hukum linguistik, perasaan, dan retorika dalam teks Al-Qur'an. Ilmu ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk mempertahankan kinerja yang benar dan luar biasa dalam membaca Al-Qur'an.
Ilmu ini membantu meningkatkan kualitas bacaan dan dampak spiritual dari teks Al-Qur'an, serta meningkatkan kesenangan dan kontemplasi dalam membacanya.
Berikut adalah beberapa contoh seni nagham dan maqamat yang umum dalam melantunkan ayat Al-Quran:
§ Maqam Hijaz: Salah satu maqam yang paling umum digunakan dalam melantunkan ayat Al-Quran. Maqam ini memberikan nuansa yang penuh emosi dan menenangkan, sering digunakan dalam ayat-ayat yang menekankan pesan kekuasaan dan kebesaran Allah.
§ Maqam Bayati: Maqam ini memiliki nuansa yang lebih ceria dan optimis, sering digunakan dalam ayat-ayat yang menyampaikan pesan tentang harapan, keberuntungan, dan kebahagiaan.
§ Maqam Nahawand: Maqam ini sering digunakan dalam melantunkan ayat-ayat yang mengekspresikan kesedihan, kesendirian, atau penyesalan.
§ Maqam Rast: Maqam ini memberikan nuansa yang lebih dinamis dan bersemangat, sering digunakan dalam ayat-ayat yang mengandung pesan keberanian, kegembiraan, atau semangat perjuangan.
§ Maqam Hijaz Kar: Variasi dari Maqam Hijaz yang memberikan nuansa yang lebih dalam dan memukau. Maqam ini sering digunakan dalam melantunkan ayat-ayat yang menekankan pesan keagungan dan kemuliaan Allah.
§ Maqam Saba: Maqam ini memberikan nuansa yang penuh dengan keindahan dan kedamaian, sering digunakan dalam ayat-ayat yang menekankan pesan tentang keindahan alam dan ciptaan Allah.
§ Maqam Kurd: Maqam ini sering digunakan dalam melantunkan ayat-ayat yang mengekspresikan kebahagiaan, kegembiraan, atau kemenangan.
Ini hanya beberapa contoh dari berbagai macam seni nagham dan maqamat yang digunakan dalam melantunkan ayat Al-Quran. Setiap maqam memiliki karakteristiknya sendiri dan digunakan untuk mengekspresikan berbagai nuansa dan emosi yang terkandung dalam teks suci Al-Quran.
5. Ilmu Rasm Al-Quran dan Mushaf
Ilmu Rasm dalam penulisan Al-Qur'an adalah cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur'an yang mempelajari metode dan aturan terkait penulisan teks Al-Qur'an. Ini mencakup studi tentang huruf, kata, dan ayat serta bagaimana cara menulisnya dengan benar dan sesuai dengan standar yang diakui.
Studi ilmu Rasm bertujuan untuk memahami cara menulis Al-Qur'an dengan akurasi dan keahlian, sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip dan tradisi Al-Qur'an dalam penulisan. Ini melibatkan pembelajaran gaya penulisan Al-Qur'an, teknik yang digunakan dalam menghias dan mengatur teks, serta memastikan kebenaran linguistik dan bentuk penulisan.
Ilmu Rasm dalam penulisan Al-Qur'an dianggap sebagai bagian penting dari upaya pelestarian teks Al-Qur'an, serta menjamin kelangsungan tradisi penulisan yang benar dan dapat diandalkan. Perhatian terhadap resam dan penataan dalam penulisan Al-Qur'an merupakan bagian integral dari penghormatan dan penghargaan terhadap teks yang agung ini.
6. Ilmu Khat Arabi
Ilmu Khat atau Ilmu kaligrafi Arab termasuk salah satu cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur'an yang mempelajari seni dan teknik penulisan Al-Qur'an dengan menggunakan kaligrafi Arab. Ini meliputi studi tentang teknik dan gaya yang terkait dengan penulisan yang indah dari Al-Qur'an dengan menggunakan kaligrafi Arab yang khas.
Tujuan dari studi ilmu kaligrafi Arab dalam Al-Qur'an adalah untuk memahami bagaimana menerapkan kaligrafi Arab dengan indah dan sesuai untuk teks Al-Qur'an, sambil tetap memperhatikan keindahan dan kecocokannya dengan pentingnya teks Al-Qur'an. Ini termasuk belajar pola-pola kaligrafi Arab yang digunakan dalam penulisan Al-Qur'an, serta latihan dalam teknik dekorasi dan penyusunan untuk menyoroti keindahan teks.
Ilmu kaligrafi Arab dalam Al-Qur'an dianggap sebagai bagian penting dari upaya kontemporer untuk memperlihatkan Al-Qur'an dengan cara yang paling indah, dan mencerminkan perhatian dan penghargaan terhadap keindahan teks Al-Qur'an. Penerapan kaligrafi Arab dengan keterampilan dan seni meningkatkan dampak pembacaan dan berkontribusi pada penonjolan nilai-nilai seni dan budaya dari Al-Qur'an.
Ada beberapa corak kaligrafi yang sudah paten di tengah umat Islam sepanjang zaman, seperti Naskh, Tsuluts, Diwani, Riq’ah, Kufi, Taliq, Jali hingga aliran modern dan post modern.
7. Ilmu Mushaf
Ilmu studi tentang mushaf, dalam konteks Al-Qur'an, merujuk pada bidang penelitian yang mempelajari berbagai aspek terkait mushaf Al-Qur'an. Mushaf adalah naskah Al-Qur'an yang ditulis atau dicetak dalam bentuk buku atau gulungan, dan ilmu studi tentang mushaf meliputi analisis tentang sejarah, struktur fisik, varian tekstual, serta isu-isu budaya, sosial, dan artistik yang terkait dengan mushaf Al-Qur'an.
Objek penelitiannya menjadi studi tentang asal usul penulisan mushaf dari masa kenabian, pengumpulan di masa Abu Bakar, pembakuan dan standarisasi di masa Utsman bin Affan. Setelah itu juga studi tentang perkembangan dan evolusi mushaf Al-Qur'an di masa berikutnya seperti penambahan titik, tanda baca dan harakat dari masa ke masa.
Ilmu studi tentang mushaf juga memeriksa teks Al-Qur'an yang terdapat di dalamnya, serta variasi atau varian tekstual yang mungkin terjadi di antara mushaf-mushaf yang berbeda. Ini termasuk membandingkan naskah-naskah lama dengan versi-versi modern, serta mempelajari perbedaan dalam bacaan atau tanda-tanda baca.
Studi tentang mushaf juga melibatkan analisis terhadap fisik dan penampilan artistik dari mushaf, seperti jenis kertas, tinta, gaya kaligrafi, dan dekorasi artistik yang mungkin ada di dalamnya. Aspek ini juga mencakup studi tentang penataan dan rancangan teks di dalam mushaf.