''Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruh kamu menjadikan malaikatmalaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di saat kamu telah menjadi orang yang berserah diri {orangorang muslim)?"
Dan tidaklah Dia menyuruh kamu mengambil Malaikat dan nabi-nabi menjadi tuhan-tuhan. Apakah (mungkin) kamu kufur sesudah kamu menjadi orang yang berserah diri?
Lafazh wa-laa ya’murakum (وَلَا يَأْمُرَكُمْ) itu terdiri dari huruf waw (و) yang merupakan huruf ‘athaf disambung dengan huruf laa (لا). Maksudnya bukan larangan (nahiyah) melainkan pengingkaran (inkariyah). Maka artinya menjadi : “dan tidak sepatutnya”, atau bisa juga bermakna : “tidak layak”.
Lafazh ya’murakum (يَأْمُرَكُمْ) artinya : “Dia memerintahkan kamu”. Yang dimaksud dengan ‘Dia’ disini ada beberapa pendapat, salah satunya mengatakan bahwa maksudnya adalah Nabi Isa alaihissalam.
Jadi maknanya bahwa tidak sepatutnya dan tidak selayaknya Nabi Isa memerintahkan orang-orang untuk menyembah dirinya. Dasarnya karena sebagian ahli kitab yang menyimpang dari ajarannya mengaku-ngaku bahwa ketika mereka menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan yang disembah, dasarnya karena Nabi Isa yang memintakan hal itu kepada umatnya.
Tentu ini sebuah tuduhan yang sangat menghina dan sangat merendahkan martabat seorang Nabi Isa. Maka Allah SWT membantah tuduhan itu dalam Al-Quran, yaitu dalam surat Al-Maidah.
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. (QS. Al-Maidah : 116)
ketika Allah SWT mengkonfrontir langsung kepada Beliau dengan pertanyaan yang bersifat retoris, dimana tentu saja Nabi Isa alaihissalam juga langsung mengklarifikasi menjawab pertanyaan itu.
قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ
Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui". (QS. Al-Maidah : 116)
Namun menurut sebagian ulama lain, ayat ini bisa juga menyasar kepada Nabi Muhammad SAW, dengan dasar adanya tuduhan dari orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa Nabi SAW itu memerintahkan orang-orang untuk menyembah dirinya.
Lafazh an-tattakhidzu (أَنْ تَتَّخِذُوا) artinya mengambil atau menjadikan. Dan kata al-malaikata (الْمَلَائِكَةَ) adalah bentuk jamak yang artinya adalah para malaikat. Sedangkan lafazh wan-nabiyyina (وَالنَّبِيِّينَ) artinya para nabi. Lafazh arbaba (أَرْبَابًا) artinya Tuhan-Tuhan yang disembah, bisa juga diartikan sebagai sesembahan atau berhala.
Maka penggalan ayat ini menegaskan tidak layaknya seorang Nabi Isa atau pun Nabi Muhammad SAW sendiri menjadikan para malaikat atau para nabi menjadi Tuhan-Tuhan selain Allah yang disembah.
Prinsip ini menjadi simbol dasar sekaligus juga jadi brand image agama samawi terakhir, yaitu tidak ada Tuhan atau sesembahan kecuali hanya Allah. Maka agama ini juga dikenal sebagai agama Tauhid, sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi SAW juga dikenal sebagai dakwah tauhid.
Barangkali kita keberatan kalau dibilang bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengajarkan penyembahan kepada malaikat dan nabi karena tidak semua dari mereka seperti itu.
Maka perlu diketahui bahwa Al-Quran sedang membicarakan sejumlah faksi, sekte dan paham-paham merusak yang tumbuh liar tak terkendali di kalangan para ahli kitab.
Sebutlah misalnya beberapa sekte kecil dalam Yahudi. Meskipun dalam Yahudi tidak ada kecenderungan untuk menyembah para nabi, dalam sejumlah sekte atau gerakan keagamaan Yahudi yang sangat minoritas, pemimpin atau tokoh tertentu mungkin dianggap memiliki status yang hampir ilahi. Dalam beberapa kurun waktu tertentu, sekte itu mungkin tidak pernah diperhitungkan, karena kecilnya. Namun atas kehendak Allah, sekte semacam itu kadang bisa jadi besar juga dan mulai perlahan menggeser arus utama (main stream) sebuah agama samawi.
Rupanya beberapa gerakan sesat dalam Kristen ada juga yang menyimpang dari ajaran Kristen utama dan menganggap pemimpin mereka sebagai manifestasi Tuhan atau objek penyembahan. Kasusnya kalau di Kristen, justru paham menyimpang itu pada titik tertentu mendapatkan angin segar, khususnya ketika masuknya para penguasa kerajaan Romawi ke dalam agama itu.
Sejak itu paham keberhalaan dalam agama Kristiani sulit sekali dibendung. Penyebabnya karena pemahaman inilah yang menjadi mazhab penguasa. Penguasa disini bukan sembarang penguasa, tetapi imperium Romawi raya. Ini adalah kerajaan yang amat besar, dengan jumlah pasukan yang sangat besar. Sampai Al-Quran sendiri pun mencatat perang besar antara Romawi dan Persia yang amat begitu dahsyat. Yang menarik, di dalam Al-Quran sampai ada satu surat khusus yang judulnya surat Ar-Rum, yaitu Kerajaan Romawi.
Hasilnya sudah bisa dibayangkan. Paham ini menjadi bukan hanya dominan, tetapi memusuhi dan memerangi paham yang tidak sejalan.
Di masa berikutnya, paham keberhalaan yang sudah sangat dominan ini bahkan ditakui bukan hanya oleh orang biasa dan rakyat jelata, bahkan kalau pun ada raja yang naik tahta, mau tidak mau dia harus mendukung paham Tuhan ada banyak ini.
Disitulah kita bisa mengerti mengapa Raja An-Najasyi penguasa negeri Habasyah itu tidak pernah secara tegas menyatakan diri masuk Islam. Boleh jadi dalam hatinya dia tidak setuju dengan paham bahwa Nabi Isa itu Tuhan atau anak Tuhan. Maka ketika ada pengungsi dari negeri Arab yang keyakinannya tidak menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan, Dia pun mengulurkan tangan kemurahan dan kebaikan. Ditolongnya mereka dan diberi tempat penampungan. Namun tidak pernah terdengar dari mulutnya lafazh dua kalimat syahadat.
Hanya saja di saat wafat, ternyata Nabi Muhammad SAW menshalatkan jenzahanya. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam Islam, haram hukumnya menshalatkan jenazah yang bukan muslim. Kalau sampai Nabi SAW melakukannya, asumsinya kemungkinan besar dia muslim. Tetapi selama ini merahasiakan jati diri keislamannya.
Ini adalah fakta aneh, bahkan seorang raja sekalipun masih merahasiakan keyakinan. Semau itu bisa terjadi karena paham yang paling dominan di tengah mereka adalah paham bahwa Nabi Isa adalah Tuhan. Siapa pun yang menentang paham ini, dia akan celaka, tidak terkecuali seorang raja. Dia akan kehilangan kerajaannya.
Dan boleh jadi Kaisar Heraklius pun punya dilemma yang sama, yaitu takut kalau sampai kehilangan tahta kerajaannya di tangan kalompok radikal yang main paksa paham syiriknya.
Padahal dalam hatinya, siapa tahu kalau Kaisar sangat bersimpati kepada dakwa Nabi Muhammad SAW. Bahkan secara terselubung sebenarnya sudah mengakui kenabian Muhammad SAW. Berikut petikan pernyataan Kaisar kepada Abu Sufyan yang waktu itu masih kafir.
قَالَ: إِنْ يَكُ مَا تَقُولُهُ حَقًّا فَإِنَّهُ نَبِيٌّ وَإِنِّي كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَخَارِجٌ وَلَمْ أَكُنْ أَظُنُّهُ مِنْكُمْ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَأَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ، وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمَيْهِ، وَلَيَبْلُغَنَّ مُلْكُهُ مَا تَحْتَ قَدَمَيّ
Jika apa yang engkau katakan benar, maka Dia memang seorang nabi. Dan Aku tahu bahwa dia akan muncul namun Aku tidak menyangka asalnya malah dari kalian. Dan seandainya aku tahu bahwa aku akan setia kepadanya, niscaya aku pasti akan senang bertemu dengannya. Kalau aku berada di sisinya, pasti akan aku cuci kedua kakinya. Dan kekuasannya akan sampai ke tempat kedua kakiku berpijak ini.
Namun kita pernah membaca riwayat yang menyebutkan bahwa Kaisar Heraklius itu membaca dua kalimat syahadat. Apa sebabnya?
Jawabanya, wallahu ‘alam, boleh jadi Kaisar khawatir kalau masuk Islam secara terang-terangan, boleh jadi dia dikudeta atau bahkan nyawanya terancam dibunuh oleh kalangan fanatik Kristen yang memaksakan kehendak dan filsafat bahwa Nabi Isa adalah Tuhan.
Lafazh a-ya’murukum (أَيَأْمُرُكُمْ) terdiri dari huruf alif (أ) yang bermakna (هَلْ) : apakah, namun fungsinya bukan pertanyaan biasa, karena maksudnya bukan bertanya melainkan mengingkari, sehingga tidak keliru kalau disebut dengan istilah istifham ingkari. Bertanya tapi maksudnya mengingkari.
Kata ya’murukum (يَأْمُرُكُمْ) adalah fi’il mudhari’ yang artinya : memerintahkan kamu, lalu kata bil-kufri (بِالْكُفْرِ) artinya : kepada kekafiran.
Penggalan ayat ini memberikan batasan kepada kita bahwa dalam tauhid dan aqidah Islam, mengakui adanya Tuhan yang disembah selain Allah hasilnya adalah kekafiran. Walaupun yang dijadikan sembahan itu memang sangat mulia, yaitu para malaikat bahan para nabi.
Di beberapa paham kalangan ahli kitab, ada semacam ghuluw atau sikap berlebihan kepada malaikat dan nabi, sehingga sampai melanggar batas aqidah, terjebak offside ke daerah terlarang, yaitu wilayah yang sudah melewati batas menuhankan malaikat dan nabi.
Lafazh ba’da idz (بَعْدَ إِذْ) diartikan : setelah sebelumnya, lalu makna antum muslimin (مُسْلِمُونَ) artinya : kamu orang-orang muslim.
Maka seorang muslim ini pastinya tidak akan menuhankan siapapun, termasuk malaikat atau nabi, kecuali hanya punya satu Tuhan saja yaitu Allah SWT.
Di antara kesimpulan hukum yang bisa diambil dari ayat ini, paling tidak secara lahiriyah bahwa menyembah Tuhan selain Allah SWT itu kufur.