Maka di ayat ini seperti Allah SWT sedang memberi ulasan, komentar, kesimpulan atau pun juga penegasan. Memang sebenarnya yang termuat di ayat ini hanya pengulangan dari apa yang sudah disebutkan di ayat sebelumnya. Tetapi kali ini dalam bentuk kesimpulan.
Bedanya di ayat ini Allah SWT hanya mengulangi dua hal saja, yaitu bahwa setan memberikan janji-jannji kosong dan membuat mereka berangan-angan secara halusinasi. Sedangkan bahwa setan memerintahkan mereka untuk memotong telinga hewan atau pun mengubah ciptaan Allah SWT, menurut para ulama, memang sengaja tidak disebutkan, karena dianggap sudah sama-sama diketahui.
Kata ya’idu-hum (يَعِدُهُمْ) artinya : memberikan janji-janji kepada mereka. Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata yumanni-him (يُمَنِّيهِمْ) artinya : membangkitkan angan-angan kosong mereka.
Janji setan itu seringkali bisa merasuk dalam sekali ke lubuk hati manusia. Karena setan itu memang bermain di wilayah hati, sebagai firman Allah :
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia (QS. An-Nas : 4-5)
Begitu setan sudah merasuk ke dalam hati yang paling dalam, maka dia bebas memainkan perasaan korbannya. Ditiupkan ke dalam hati manusia berbagai janji yang kosong yang tidak mungkin juga akan tercapai. Sehingga korbannya hanya termakan janji-janji yang tidak pernah akan ditepati.
Dalam Al-Quran, istilah janji setan tidak selalu nanji manis, tetapi perasaan khawatir dan takut miskin pun termasuk dalam kategori itu. Allah SWT berfirman :
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 268)
Maka diantara ciri korbannya adalah orang yang didera perasaan takut miskin, sehingga terus menerus menumpuk harta dan kekayaan, dilatar-belakangi perasaan takut tidak kebagian rejeki, takut miskin, takut melarat.
Dengan semua rasa takut itu, maka akan membawanya kepada sifat kikir, tidak mau berbagi, ogah menolong orang lain dan seterusnya. Jadilah dia hamba Allah yang kikir.
Kata wa maa (وَمَا) artinya : dan tidak. Kata ya’iduhum (يَعِدُهُمُ)artinya : menjanjikan kepada mereka. Kata asy-syaithanu (الشَّيْطَانُ) artinya : setan.
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata ghurura (غُرُورًا) artinya : tipuan. Menurut Ibnu 'Arafah, ghurur alias tipu daya adalah sesuatu yang kamu lihat secara lahiriah tampak menarik dan kamu menyukainya, namun di baliknya ada keburukan yang tidak disukai.
Tidak ada yang dijanjikan oleh setan selain tipuan, yaitu apa yang mengelabui mereka dengan menganggap adanya manfaat padahal itu sebenarnya adalah keburukan.