Kemenag RI 2019:Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu (umat Islam) agar bertakwa kepada Allah. Akan tetapi, jika kamu kufur, maka sesungguhnya hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Prof. Quraish Shihab:Dan milik Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan demi (keagungan dan kekuasaan Kami), sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu (umat Islam); bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka sesungguhnya milik Allah apa yang di langit dan yang di bumi dan Allah adalah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji. Prof. HAMKA:Dan bagi Allah-lah apa yang ada di semua langit dan apa yang ada di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami pesankan kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dari sebelum kamu dan kepada kamu juga, supaya bertakwalah kamu kepada Allah. Tetapi jika kamu kufur, maka sesungguhnya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di semua langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah itu Mahakaya, lagi Maha Terpuji.
Namun memang benar sekali bahwa meski ayat ini terkait dengan kasus perceraian yang terpaksa dilakukan pada ayat sebelumnya, tetapi terasa sekali adanya plot-twist alias pembelokan tema yang mendadak dan tiba-tiba.
Tiba-tiba saja arah pembicaraan berbelok tajam menjadi bicara tentang orang-orang yang menerima kitabullah dari umat terdahulu. Seolah-olah alur pembicaraan keluar dari tema besar yaitu hukum terkait dengan wanita. Terhitung sejak ayat 127 sudah mulai bicara tentang hukum terkait wanita.
وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ
Mereka meminta fatwa kepada engkau (Nabi Muhammad) tentang perempuan.
Tema tentang wanita ini berlanjut hingga ke ayat berikutnya yaitu ayat 128, 129, 130 dan 131. Namun di ayat 131 tiba-tiba menukik tajam dan kembali lagi bicara tentang Yahudi dan umat terdahulu yang pada kufur dan tidak mau beriman.
)وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
Lafazh walillahi(لله): maknanya adalah "dan milik Allah". Huruf maa(ما) diartikan menjadi "apa-apa", lalu huruf fi (في) artinya adalah "yang ada di". Lafazh as-samawati (السماوات) maknanya adalah "langit" dalam bentuk jamak. Kalau dalam bentuk tunggal disebut sama’(سماء).
Kalau ayat ini dan di banyak ayat lainnya menggunakan bentuk jamak, maka timbul pertanyaan menggelitik: apakah maknanya menjadi "langit yang banyak jumlahnya", ataukah maksudnya "langit yang luas ukurannya"?
Dan juga menjadi pertanyaan, kerajaan apa yang adanya di langit yang banyak atau langit yang luas? Jawabannya pasti bukan kerajaan manusia, melainkan kerajaan yang secara umum kita akan memahaminya sebagai kerajaan makhluk ghaib, entah itu kerajaan para malaikat, atau boleh jadi kerajaan para jin, dan entah apa nama makhluk yang menghuni langit.
Sebagian kalangan penggemar cerita fiksi luar angkasa ada yang mencoba mengaitkan ayat ini dengan isyarat tentang adanya kehidupan makhluk cerdas (extra-terrestrial) di luar angkasa. Dikesankan seolah-olah Al-Qur’an mengakui adanya alien dengan segala kemajuan teknologinya.
Padahal secara ilmiah, sampai hari ini masih terlalu dini untuk memperkirakan adanya kehidupan makhluk cerdas di luar bumi, bahkan untuk sekedar makhluk hidup yang paling sederhana pun masih menjadi asumsi dan spekulasi.
Belum ada bukti pasti tentang keberadaan makhluk cerdas di luar angkasa. Meskipun ada beberapa laporan tentang penampakan UFO atau benda terbang aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan, namun sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dalam kesimpulannya, asumsi tentang kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar angkasa didasarkan pada bukti dan teori ilmiah yang ada. Namun sampai saat ini belum ada bukti pasti yang dapat diandalkan.
وَمَا فِي الْأَرْضِ
Kata al-ardhi (الأرض): artinya bisa "tanah" atau "bumi", tergantung pada konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi "tanah", seperti pada ayat berikut:
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah." (QS. Al-Baqarah: 71)
Menerjemahkan ayat di atas tentu tidak tepat jika sapi digunakan untuk membajak "bumi". Yang lebih tepat adalah membajak "tanah" atau "sawah". Namun, kadang lebih sesuai jika diterjemahkan menjadi "bumi" dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sambil juga bergerak mengelilingi matahari.
Penerjemahan sebagai "planet bumi" adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini. Adapun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi "tanah" atau "negeri".
Lepas dari perbedaan penerjemahannya, yang jelas penyebutannya berbentuk tunggal, sehingga pengertiannya pasti tidak banyak, hanya satu saja. Dan tidak keliru jika dimaknai sebagai isyarat bahwa luasnya lebih kecil dibandingkan luasnya langit.
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
Lafazh wa-la-qad (وَلَقَدْ) artinya : dan sungguh telah. Kata washshayna (وَصَّيْنَا) artinya : Kami berwasiat atau Kami wasiatkan. Kata alladzain utul-kitab (الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ) artinya : orang-orang yang diberi al-kitab.
Maksudnya adalah orang-orang Yahudi, karena yang tinggal di Madinah saat itu memang kebanyaknnya orang yahudi. Kepada mereka Allah SWT telah menurunkan Taurat, yaitu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.
Walaupun begitu sebenarnya secara umum, orang-orang nasrani pun juga termasuk kategori orang-orang yang diberi kitab. Sebab mereka juga mendapatkan Injil yang turun kepada Nabi Isa ‘alaihissalam.
مِنْ قَبْلِكُمْ
Kata min qablikum (مِنْ قَبْلِكُمْ) artinya : dari sebelum kamu. Semua kitab suci samawi itu turun jauh sebelum era kenabian Muhammad SAW. Taurat itu diturunkan kepada Nabi Musa alaihissalam. Beliau diperkirakan hidup sekitaran abad ke-13 hingga ke-15 SM, meskipun tidak ada konsensus mutlak tentang tanggal pastinya.
Periode ini didasarkan pada berbagai sumber sejarah, arkeologi, dan tradisi keagamaan, termasuk catatan tentang eksodus bangsa Israel dari Mesir, yang sering dikaitkan dengan pemerintahan Firaun di era Mesir Kuno.
Dalam hal ini ada dua pandangan utama tentang waktu kehidupan Nabi Musa. Pandangan pertama mengatakan bahwa Musa diperkirakan hidup di sekitaran abad ke-15 SM, yaitu sekitar tahun 1446 SM. Hal ini berdasarkan perhitungan tradisional dari Alkitab yang menempatkan eksodus sekitar 480 tahun sebelum pembangunan Bait Suci oleh Nabi Sulaiman (sekitar 966 SM).
Pandangan lainnya yang juga populer bahwa Musa hidup di sekitaran abad ke-13 SM atau sekitar tahun 1250 SM. Didukung oleh bukti arkeologis dan beberapa catatan Mesir, yang menghubungkan eksodus dengan era Ramses II atau Merneptah.
Adapun kitab Zabur turun kepada Nabi Daud ‘alaihissalam. Daud diperkirakan hidup di sekitaran abad ke-10 SM, berdasarkan tradisi sejarah dan keagamaan yang menghubungkannya dengan masa pemerintahan Kerajaan Israel Kuno. Kerajaan Nabi Daud diyakini berlangsung sekitar tahun 1010–970 SM.
Sebelum menjadi raja, beliau terkenal dengan kisahnya mengalahkan Jalut (Goliath), yang menandai awal popularitasnya di kalangan Bani Israel. Kitab Zabur, yang diwahyukan kepada beliau, dianggap sebagai kumpulan pujian dan doa. Sering disamakan dengan Mazmur dalam tradisi Yahudi dan Kristen.
Sedangkan kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihisalam yang tahun kelahirannya setiap orang sudah tahu, karena dijadikan patokan dasar perhitungan tahun Masehi.
وَإِيَّاكُمْ
Lafazh wa iyyakum (وَإِيَّاكُمْ) artinya : dan kepada Kamu. Kamu dalam hal ini tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Al-Quran adalah bagian dari kitab-kitab suci samawi yang turun khusus kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir tahun 571 dan diangkat menjadi utusan Allah SWT tahun 610 Masehi.
Jarak waktu yang terbentang antara turunnya Al-Quran dengan kitab suci samawi terakhir sebelumnya, yaitu Injil adalah enam abad. Sedangkan ke masa turunnya Zabur berarti 16 abad. Lalu jarak ke masa turunnya Taurat adalah 21 abad atau 19 abad.
أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
Kata an (أَنِ) artinya : bahwa, atau bisa juga dimaknai : agar, atau juga bisa bermakna : supaya. Kata ittaqullah (اتَّقُوا اللَّهَ) adalah kata kerja perintah alias fi’il amr. Asalnya dari (اتقى - يتقي) artinya : bertaqwalah kamu kepada Allah. Namun juga bisa bermakna : takutlah kepada Allah. Terkadang bisa juga maknanya : jagalah dirimu.
Dalam konteks ayat ini tentu makna yang paling cocok adalah perintah untuk bertaqwa kepada Allah. Umumnya para ulama menyebutkan bahwa taqwa itu sebuah derajat yang tinggi yang diawali dengan derajat iman. Hal itu berdasarkan ayat yang memanggil orang beriman untuk melakukan ini dan itu, lalu di akhir disebutkan semoga menjadi orang yang bertaqwa. Atau juga karena taqwa disebutkan setelah iman seperti yang disebutkan dalam ayat berikut :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-Araf : 96)
Pesan Allah SWT untuk bertaqwa itu adalah pesan universal yang ditujukan kepada semua umat di berbagai lini sejarah. Kepada orang Yahudi, Allah SWT berpesan taqwa. Begitu juga kepada orang-orang Nasrani, mereka diwajibkan bertaqwa. Dan tentu saja kepada umat Nabi Muhammad SAW, taqwa juga yang diperintahkan.
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata takfuru (تَكْفُرُوا) artinya : kamu ingkar, atau kamu kufur. Ungkapan fainna lillahi ma fissamawati wa ma fil-ardhi (فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ) sudah dijelaskan maknanya pada penggalan sebelumnya.
Penggalan ini jelas-jelas merupakan pengulangan dari penggalan sebelumnya di ayat ini juga. Yang paling utama bahwa pengulangan ini bertujuan sebagai ta’kid alias penegasan ulang bahwa Allah SWT adalah pemilik dari langit dan bumi. Dan penegasan dengan jalan diulang-ulangnya suatu kata atau kalimat adalah hal yang sering kita temukan dalam Al-Quran.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa tiap penggalan menjadi komentar atas penggalan yang berbeda juga. Ketika di awal ayat Allah SWT menegaskan bahwa Dirinya adalah pemilik langit dan bumi, nampaknya pembicaraan diarahkan kepada mereka yang beriman.
Sehingga pesannya kepada orang beriman untuk jangan khawatir atau takut miskin, sebab Allah SWT itu Maha Kaya
Raya, kekayaannya meliputi langit dan bumi. Kalau sekedar menjadikan seseorang yang beriman mendadak kaya raya, itu hanya persoalan sepele di sisi Allah.
Namun ketika ungkapan bahwa Allah SWT adalah pemilik langit dan bumi diulangi lagi, nampaknya diarahkan kepada orang-orang yang kufur, ingkar, dan tidak mau beriman.
Seakan pesannya kepada orang kafir itu bahwa Allah SWT sama sekali tidak merasa rugi sedikitpun dengan ulah kalian yang sombong dan tidak mau beriman. Toh Allah SWT Maha Kaya Raya, sama sekali tidak butuh kepada makhluk ciptaan-Nya sendiri.
Pesan ini menjadi sangat penting dan merupakan sebuah identitas baru yang jarang-jarang atau tidak pernah sebelumnya ditegaskan kepada umat-umat terdahulu.
Coba perhatikan ayat-ayat Allah SWT yang diarahkan kepada umat terdahulu dan ancaman yang Allah SWT sampaikan bila mereka tidak mau beriman. Rata-rata ancamannya itu adalah mereka akan dibinasakan, dihukum, dimatikan, ditimpakan adzab, bencana, kematian dan kesengsaraan di dunia.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-Araf : 96)
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. Al-Anam : 6)
Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. (QS. Al-Araf : 4)
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran : 137)
Sementara pernyataan Allah SWT di ayat ini terasa seperti anomali, yaitu bahwa orang-orang yang ingkar itu tidak lagi diancam dengan ini dan itu, tetapi hanya dikatakan bahwa Allah SWT itu Maha Kaya, dan sama sekali tidak butuh apakah mereka mau beriman atau tidak mau beriman.
وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
Lafazh wakanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah itu. Lafazh kaana menunjukkan masa dalam bentuk lampau. Sehingga banyak yang memaknai ungkapan semacam ini menjadi : sejak dahulu dan bukan baru sekarang ini saja.
Kata ghaniyyan (غَنِيًّا) artinya : Maha Kaya. Ini merupakan kesimpulan dari dua kali di ayat ini Allah SWT mengulangi bahwa Allah SWT adalah pemilik langit dan bumi. Maka kesimpulannya Allah SWT itu Maha Kaya. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah.
Biasanya kekayaan seseorang diukur dari kepemilikan atas harta tertentu, seperti emas perak, hewan peliharaan, tanah ladang pertanian, ataupun juga bisnis dan perdagangan. Emas perak diukur dengan beratnya. Sedangkan hewan peliharaan dihitung berdasarkan jumlah ternaknya. Tanah ladang diukur dari luasnya. Dan perdagangan diukur dengan volume penjualannya.
Namun ketika Allah SWT menegaskan bahwa Dirinya adalah pemilik langit dan bumi, maka selesai sudah pembicaraan. Semua kekayaan yang dimiliki oleh manusia, betapa pun jumlah kekayaannya, semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan milik Allah SWT.
Kata hamida (حَمِيدًا) artinya : terpuji. Perpaduan antara Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Kaya dengan Allah SWT Yang Maha Terpuji ini cukup unik, seakan menyindir manusia yang biasanya hanya bisa mendapatkan salah satu saja.
Kalau manusia itu kaya dan banyak harta, biasanya dia akan kurang mendapat pujian, yang ada hanya rasa iri hati dan dengki dari orang-orang. Kalaupun ada yang memujinya sebagai orang kaya, maka pujiannya tidak tulus. Sebab pujian itu hanya diberikan selama yang memuji mendapatkan bagian dari harta itu. Begitu tidak lagi diberikan, maka yang keluar adalah makian dan sumpah serapah.
Berbeda dengan Allah SWT, meskipun Maha Kaya, tetapi orang-orang yang miskin dan tidak punya harta apa-apa tetap akan terus memujinya. Bahkan semua makhluk Allah SWT tetap akan selalu memujinya. Maha Benar lah Allah ketika berfirman :
Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Qashash : 70)
dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. (QS. Ar-Rum : 18)
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti.
[1] Al-Wahidi (w. 468 H), Tafsir Al-Basith, (Riyadh, Jamiah Al-Imam Muhammad bin Suud Al-Islamiyah, Cet. 1, 1430 H)