Kemenag RI 2019:Lalu, di antara mereka ada yang beriman kepadanya dan di antara mereka ada pula yang berpaling darinya. Cukuplah (bagi mereka neraka) Jahanam yang apinya menyala-nyala. Prof. Quraish Shihab:Maka, di antara mereka ada yang beriman kepadanya (mengakui anugerah itu) dan ada yang menolak. Dan cukuplah neraka Jahannam yang menyala-nyala apinya sebagai balasan bagi mereka. Prof. HAMKA:Maka di antara mereka ada yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada yang berpaling darinya. Padahal, cukuplah neraka Jahannam sebagai tempat pembakaran.
Ayat ke-55 ini menceritakan tentang terbelahnya orang-orang yang didakwahi, sebagian ada yang menyatakan diri beriman, namun secara sunnatullah akan selalu ada dari mereka yang berpaling dan tidak mau beriman.
فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ
Kata fa-min-hum (فَمِنْهُمْ) artinya : maka sebagian dari mereka. Dalam hal ini para mufassir punya pandangan berbeda tentang siapa yang dimaksud dengan : sebagian dari mereka.
Kalau melihat siyaq atau konteksnya, di ayat sebelumnya Allah SWT sedang bicara tentang anak keturunan Nabi Ibrahim alaihissalam atau lebih tepatnya keturunan dan dzurriyah dari Nabi Ibrahim.
Kata man aamana bihi (مَنْ آمَنَ بِهِ) artinya : ada yang beriman kepadanya. Para ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang dimaksud dengan kata amana bihi (آمَنَ بِهِ) di ayat ini. Sebagian mengatakan dhamir itu kembali kepada Nabi Muhammad SAW. Namun pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan beriman kepadanya adalah beriman kepada nabi-nabi dari masing-masing zaman mereka di masa lalu.
Kalau pakai pendapat yang kedua, maka penggalan ini semacam bentuk tasliyah atau penguatan hati kepada Nabi SAW, bahwa para nabi dan rasul di masa lalu juga ada yang diimani tapi juga banyak yang mengingkari.
فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ
Kata fa-min-hum (فَمِنْهُمْ) artinya : maka sebagian dari mereka. Dalam hal ini para mufassir punya pandangan berbeda tentang siapa yang dimaksud dengan : sebagian dari mereka.
Kalau melihat siyaq atau konteksnya, di ayat sebelumnya Allah SWT sedang bicara tentang anak keturunan Nabi Ibrahim alaihissalam atau lebih tepatnya keturunan dan dzurriyah dari Nabi Ibrahim.
Kata man aamana bihi (مَنْ آمَنَ بِهِ) artinya : ada yang beriman kepadanya. Para ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang dimaksud dengan kata amana bihi (آمَنَ بِهِ) di ayat ini. Sebagian mengatakan dhamir itu kembali kepada Nabi Muhammad SAW. Namun pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan beriman kepadanya adalah beriman kepada nabi-nabi dari masing-masing zaman mereka di masa lalu.
Kalau pakai pendapat yang kedua, maka penggalan ini semacam bentuk tasliyah atau penguatan hati kepada Nabi SAW, bahwa para nabi dan rasul di masa lalu juga ada yang diimani tapi juga banyak yang mengingkari.
وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ
Kata wa min-hum (وَمِنْهُمْ) artinya : dan sebagian dari mereka. Kata man shadda anhu (مَنْ صَدَّ عَنْهُ) artinya : ada pula yang berpaling darinya.
Contoh keluarga Ibrahim yang berpaling dari kenabiannya adalah ayahanda Nabi Ibrahim sendiri. Sebagai ayah, alih-alih beriman dan mengikuti kenabian Ibrahim, yang terjadi justru malah berpaling tidak mau menerima fakta bahwa Nabi Ibrahim merupakan seorang nabi utusan Allah.
Selain itu contoh mereka yang berpaling dari keluarga Ibrahim adalah istrinya Nabi Luth alaihissalam. Disebutkan bahwa antara Nabi Ibrahim dan Nabi Luth itu bersaudara.
وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا
Kata wa-kafa (وَكَفَىٰ) artinya : dan cukuplah. Kata bi jahannam (بِجَهَنَّمَ) artinya : bagi mereka neraka Jahanam. Kata sa’ira (سَعِيرًا) artinya : yang apinya menyala-nyala. Namun ada juga yang berpendapat bahwa maknanya neraka.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini merupakan ancaman atau tahdid, bagi mereka orang-orang Yahudi. Meskipun mereka mengaku sebagai keturunan dari orang-orang mulia, termasuk di antaranya jajaran para nabi dan rasul, namun urusan masuk neraka Jahannam bukan hal yang mustahil. Khususnya bila mereka berpaling dari risalah yang dibawa oleh para nabi mereka sendiri.