Kata wa idza (وَإِذَا) artinya : dan apabila. Kata nadaytum (نَادَيْتُمْ) artinya : kalian menyeru. Kata kerja ini merupakan fi'il madhi dari tiga huruf dasarnya yaitu huruf nun (ن), huruf dal (د) dan huruf wawu (و) yaitu (ن د و). Ada juga yang bilang asalnya dari (ن د ا). Bentuknya kemudian menjadi naada-yunaadi (نادى - ينادي) dengan bentuk mashdar-nya adalah nida’ (نداء).
Kata ini bisa punya banyak makna dan fungsi, meskipun saling berdekatan dan kadang juga tumpang tindih satu sama lain. Misalnya, maknanya bisa menyapa, sebagaimana Nabi Zakaria berdoa dengan menyapa Allah di dalam surat Maryam :
إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
Ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam : 3)
Kadang bisa juga maknanya berteriak memanggil seseorang yang tidak ada di depan mata, misalnya memanggil orang dengan suara keras yang ada di balik tabir.
إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. Al-Hujurat : 4)
Bisa juga bermakna teriakan keras meminta perhatian, sebagaimana kisah orang-orang di neraka yang berteriak keras minta air.
وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ
Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu. (QS. Al-Araf : 50)
Bisa juga bermakna ajakan untuk melakukan sesuatu, sebagaimana ayat berikut :
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman. (QS. Ali Imran : 193)
Namun dalam konteks ayat ini, kata nadaytum (نَادَيْتُمْ) artinya : memanggil untuk shalat, alias lantunan adzan. Hal itu mengingat bahwa lanjutannya jelas sekali yaitu (نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ). Kata ila (إِلَى) artinya : kepada. Kata ash-shalaati (الصَّلَاةِ) artinya : shalat. Maksudnya shalat lima waktu berjamaah. Sedangkan untuk shalat jumat, ada adzan yang juga menggunakan kata nida’.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah. (QS. Al-Jumuah : 9)
Dengan demikian, menurut para ulama, ayat ini turunnya bukan di Mekkah melainkan di Madinah. Syariat adzan belum ada di Mekkah, sebab di Mekkah belum ada perintah untuk shalat lima waktu dengan berjamaah yang diawali dengan panggilan adzan.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran memperjelas konteks turunnya ayat ini ketika menuliskan apa yang terjadi saat itu. Setiap kali muadzin Nabi yaitu Bilal mengumandangkan adzan untuk memanggil penduduk Madinah ke masjid melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, orang-orang Yahudi saling tertawa dan saling mengedipkan mata satu sama lain dalam suasana main-main dan olok-olok.
Rupanya mereka mempertanyakan suara adzan yang merupakan suara manusia. Mereka menghina adzan yang berupa suara manusia dengan mengatakan bahwa suara lengkingan adzan itu seperti teriakan keledai yang tidak enak didengar.
Hal itu boleh jadi dengan alasan bahwa adzan itu memang sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya dalam syariat orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi biasanya menggunakan alat musik tiup semacam terompet yang terbuat dari tanduk domba. Mereka meniupnya untuk mengumpulkan kaum mereka dalam acara ibadah, khususnya pada hari Sabat atau hari-hari besar keagamaan. Sampai sekarang pun dalam tradisi Yahudi Ortodoks, syofar masih digunakan pada momen-momen tertentu, seperti Tahun Baru Yahudi (Rosh Hashanah) dan Hari Pendamaian (Yom Kippur).
Sementara kaum Nasrani umumnya menggunakan lonceng gereja untuk memanggil jemaatnya berkumpul. Lonceng ini dibunyikan untuk memberi tanda bahwa waktu ibadah sudah dekat atau dimulai, baik itu misa, doa, maupun kebaktian khusus. Tradisi ini berkembang hingga sekarang di banyak gereja, terutama di Eropa dan wilayah Kristen lainnya.
Nabi Muhammad SAW tidak menggunakan terompet atau lonceng untuk memanggil umat Islam ke shalat karena ada beberapa alasan yang terkait dengan keistimewaan wahyu yang diterimanya dan tujuan ibadah dalam Islam. Berikut beberapa alasan mengapa adzan dipilih sebagai bentuk panggilan shalat:
1. Wahyu yang Langsung dari Allah
Adzan adalah bentuk wahyu yang diberikan langsung oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Keistimewaan adzan adalah bahwa ia merupakan seruan yang membawa pesan spiritual dan panggilan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan hanya sebagai pemanggilan fisik semata. Ini adalah sunnah yang diwariskan dan menjadi bagian dari tata cara ibadah dalam Islam yang unik dan khas.
2. Keindahan dalam Suara Manusia
Allah memilih suara manusia sebagai sarana panggilan untuk shalat agar umat Muslim dapat merasakan keindahan dan kekhusyukan dalam setiap seruan yang dilantunkan. Dalam Islam, suara manusia — dengan kata-kata yang penuh makna seperti "Allahu Akbar" — memiliki dampak spiritual yang lebih mendalam daripada suara alat musik atau benda mati seperti terompet atau lonceng.
3. Pengingatan terhadap Tauhid
Adzan terdiri dari seruan-seruan yang mengingatkan kepada tauhid, yaitu pengesaan Allah. Setiap kata dalam adzan mengandung kalimat-kalimat yang membesarkan Allah, seperti "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar), "Ashhadu an la ilaha illallah" (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah). Ini bukan sekadar panggilan untuk berkumpul, tetapi sebuah pengingat untuk mentauhidkan Allah di dalam hati umat Islam.
4. Pembedaan dengan Agama Lain
Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat Islam agar memiliki identitas tersendiri yang membedakan mereka dari umat-umat lain. Dengan menggunakan adzan, umat Islam memiliki cara khas untuk memanggil umatnya untuk shalat, berbeda dengan tradisi menggunakan terompet atau lonceng yang ada pada agama-agama sebelumnya, seperti Yahudi dan Nasrani. Ini juga menjadi simbol bahwa Islam adalah agama yang berbeda dengan cara-cara ibadah yang unik dan memiliki makna spiritual tersendiri.
5. Penghindaran dari Sifat-Sifat Duniawi
Menggunakan terompet atau lonceng dapat dianggap sebagai penggunaan alat yang terhubung dengan hal-hal duniawi dan lebih mekanis. Sebaliknya, adzan yang dilantunkan oleh seorang muezzin memiliki kedalaman makna, di mana selain berbunyi, adzan juga menjadi medium doa bagi umat Islam. Suara yang lantang, dipenuhi dengan doa dan panggilan kepada Allah, mengandung unsur penghormatan dan kesucian yang tidak bisa diperoleh dengan penggunaan alat musik atau lonceng.
6. Menghindari Kekeliruan Makna
Dengan memilih adzan yang diucapkan oleh manusia, Nabi Muhammad SAW juga menghindari potensi kesalahan dalam interpretasi makna. Misalnya, terompet dan lonceng adalah suara yang bisa dimanipulasi atau terkesan biasa, sehingga hilang esensi panggilan ibadahnya. Adzan yang disuarakan langsung dari mulut seorang manusia adalah panggilan yang jelas dan mudah dipahami, dengan makna yang langsung tersampaikan, yakni untuk mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya.
7. Keharmonisan dengan Ibadah
Ibadah dalam Islam bersifat sederhana, alami, dan langsung. Adzan yang dilantunkan oleh manusia memberikan nuansa keharmonisan antara tubuh, suara, dan jiwa. Hal ini sangat sejalan dengan konsep ibadah dalam Islam yang memandang keseimbangan antara aspek fisik dan spiritual dalam setiap aktivitas yang dilakukan umat Islam, termasuk dalam shalat.
Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
Kata ittakhadzuuha (اتَّخَذُوهَا) artinya : mereka menjadikannya. Kata huzuwaan (هُزُوًا) artinya : olok-olokan. Kata wa-la‘iban (وَلَعِبًا) artinya : dan permainan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa adzan yang dikumandangkan dengan suara yang kurang enak didengar bisa menimbulkan kesan yang kurang baik. Bisa jadi, pada masa awal pensyariatan adzan, Bilal bin Rabah — yang menjadi muadzin pertama — belum menemukan nada yang paling pas dalam lantunannya.
Apalagi mengingat bahwa di masa itu belum ada teknologi pengeras suara sebagaimana sekarang, sehingga tujuan utama adzan adalah agar suara muadzin dapat terdengar sejauh mungkin. Wajar jika cara penyampaiannya pun terkesan seperti orang berteriak.
Bagi telinga orang-orang Yahudi, yang memang sejak awal telah menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap Islam, adzan dengan suara manusia ini menjadi bahan untuk menghina dan mencemooh. Mereka menjadikan adzan sebagai olok-olokan dan permainan, sebagaimana dikisahkan dalam beberapa riwayat dan dikuatkan oleh ayat ini.
Namun seiring waktu, kualitas suara adzan pun berkembang. Ketika Islam mulai menyebar ke wilayah-wilayah maju, terutama daerah yang memiliki kemampuan arsitektur tinggi, bentuk dan fungsi masjid pun ikut berkembang.
Menara-menara tinggi mulai dibangun, yang bukan hanya sebagai penanda tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperkuat suara muadzin. Bangunan tinggi itu memungkinkan suara memantul dan menghasilkan resonansi, gema (echo), dan efek akustik alami yang membuat adzan terdengar lebih merdu dan menggelegar. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana adzan tidak hanya dipertahankan sebagai syiar Islam, tetapi juga terus disempurnakan dari sisi estetika dan jangkauan suara.
Seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam ke luar Jazirah Arab, umat Islam mulai bersentuhan dengan peradaban-peradaban besar yang telah lebih dahulu maju dalam teknologi bangunan dan tata kota. Peradaban Persia, Bizantium, hingga India dan Andalusia menawarkan banyak inspirasi, termasuk dalam hal arsitektur.
Salah satu transformasi yang paling kentara adalah pada struktur masjid. Di masa Nabi Muhammad SAW, masjid Nabawi dibangun sangat sederhana, tanpa menara atau pengeras suara, dan adzan dikumandangkan langsung dari tempat terbuka — cukup dari atap atau sisi tertinggi bangunan. Namun, kebutuhan akan penyebaran suara adzan secara lebih luas segera menuntut inovasi.
Konsep menara masjid (minaret) mulai dikenal dan berkembang pada masa Dinasti Umayyah, khususnya di bawah kepemimpinan Khalifah al-Walid I. Pengaruh arsitektur Romawi dan Bizantium sangat terasa di sini. Menara dibangun tinggi, tidak hanya untuk estetika dan simbol kejayaan, tetapi juga untuk fungsi praktis: memperluas jangkauan suara adzan.
Di wilayah Syam dan Mesir, misalnya, menara dibangun dengan memperhatikan akustik dan arah angin agar suara muadzin dapat menjangkau lebih banyak penduduk. Bahkan di beberapa tempat, terdapat lebih dari satu menara agar suara bisa dikumandangkan dari berbagai arah.
Menara-menara itu secara arsitektural tidak hanya vertikal dan menjulang, tapi juga sering kali dibangun dengan semacam kubah resonansi di bagian atasnya — yang secara alami memperkuat gema suara. Hal ini sangat membantu sebelum teknologi pengeras suara ditemukan.
Dalam peradaban Islam klasik, muadzin bukan hanya orang yang memiliki suara keras, tetapi juga orang yang terlatih secara vokal. Kemampuan mengatur napas, memilih nada, dan memainkan irama menjadi bagian penting dari keterampilan muadzin. Di beberapa wilayah seperti Andalusia dan Turki Utsmani, adzan bahkan dilagukan dengan teknik tertentu yang mendekati kaidah musikal — bukan untuk mempertontonkan seni, melainkan agar terasa menyentuh dan menggugah hati.
Fenomena ini menjadikan suara adzan bukan sekadar panggilan, tetapi juga sebuah pengalaman spiritual dan budaya. Bahkan sampai hari ini, adzan dari masjid-masjid besar di Kairo, Makkah, Istanbul, atau Damaskus masih dikenal memiliki karakteristik unik masing-masing.
Revolusi industri dan perkembangan teknologi audio membawa transformasi baru. Pengeras suara mulai digunakan di masjid-masjid besar sejak awal abad ke-20. Ini memudahkan adzan menjangkau lebih jauh tanpa harus mengandalkan tenaga suara alami muadzin.
Namun, kemajuan ini pun tidak luput dari tantangan. Di satu sisi, teknologi membuat adzan lebih mudah terdengar. Di sisi lain, kualitas suara terkadang justru menurun jika tidak diiringi pelatihan dan pengaturan akustik yang tepat. Di sinilah pentingnya tetap menjaga kualitas vokal dan niat ikhlas muadzin agar adzan tetap menjadi panggilan yang agung dan penuh wibawa.