Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang menjadikan agamamu bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelummu dan orang-orang kafir, sebagai teman setia(-mu). ) Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-
orang yang membuat agama kamu bahan olok-olokan dan permainan,
(yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelum kamu dan
orang-orang yang kafir, sebagai wali (teman dekat dan penolong). Dan
bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang mukmin. Prof. HAMKA:Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang yang telah menjadikan agamamu sebagai ejekan dan permainan—(yaitu) dari orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu, dan orang-orang yang kafir—sebagai pemimpin-pemimpin. Bertakwalah kepada Allah jika memang kamu orang-orang yang beriman.
Ayat ke-57 ini seperti jadi penegasan ulang yang kesekian kalinya, yaitu bahwa orang-orang beriman tidak boleh memberikan loyalitas dan kesetiaan serta dukungan kepada orang-orang Yahudi.
Dasar yang Allah SWT jadikan argumen kali ini karena mereka terbiasa merendahkan kaum muslimin, dengan menghina dan mengejek tata cara ibadah yang sebenarnya datang dari Allah SWT.
Melecehkan agama lain dalam syariat Islam itu diharamkan, sebab nantinya akan menimbulkan pembalasan, dimana agama kita pun akan ikut dihina dan dilecehkan. Maka dalam hal ini, Allah SWT tidak memerintahkan kaum muslimin untuk membalas hinaan dan ejekan mereka dengan hinaan dan ejekan lagi, karena akan jadi lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Perintahnya sederhana dan simpel tapi realistis dan tepat sasaran, yaitu jangan berikan lagi kesetiaan, loyalitas, dukungan serta keterikatan kepada mereka dalam bentuk apapun.
Tidak usah takut kepada resikonya, karena yang berhak ditakuti hanya Allah SWT saja. Sedangkan pembalasan dari pihak orang kafir atau pun juga resiko akibat dari memutus loyalitas kepada orang kafir, tidak usah dirisaukan. Karena memang begitulah seharusnya mentalitas orang beriman, tidak perlu merasa harus butuh kepada orang kafir, apalagi ketika mereka menghina agama kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
Kata ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) artinya : wahai. Huruf ya (يا) disebut dengan harfun-nida yaitu huruf hijaiyah dalam bahasa Arab gunanya untuk menyapa orang yang posisinya agak jauh. Sedangkan kata ayyuha terdiri dari ayyu dan ha, dimana ayyu (أي) adalah ism munada dan ha (ها) berfungsi sebagai tanbih : memberi perhatian.
Secara keseluruhan sulit untuk bisa dicarikan padanan kata yang pas dan presisi karena keterbatasan bahasa, sehingga para penerjemah sering ambil jalan pintas dengan menerjemahkannya dengan sederhana menjadi : Wahai.
Kata alladzina amanu (الَّذِينَ آمَنُوا) artinya : orang-orang yang beriman. Kata alladzina (الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya : “orang-orang yang”. Dan lafazh aamanu (آمَنُوا) merupakan kata kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi yaitu dari asal (آمَنَ - يُؤْمِنً). Makna kata kerja itu adalah : “melakukan perbuatan iman”.
Namun sudah jadi kebiasaan dalam penerjemahan disederhanakan menjadi : “orang-orang yang beriman”. Padahal kalau “orang yang beriman”, secara baku dalam bahasa Arab itu disebut mu’min (مُؤْمِن) dan bukan alladzina amanu.
Sapaan yang menjadi pembuka ayat ini menunjukkan siapa yang diajak bicara atau mukhathab oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang beriman, yang di masa turunnya ayat itu tidak lain adalah para shahabat nabi ridhwanullahi ‘alaihim.
Kata laa tattakhizu (لَا تَتَّخِذُوا) artinya : janganlah kamu mengambil. Kata alladziina ittakhaaduu (الَّذِينَ اتَّخَذُوا) artinya : orang-orang yang menjadikan. Kata diinakum (دِينَكُمْ) artinya : agama kalian.
Kata huzuwan (هُزُوًا) artinya : bahan ejekan. Kata al-huzu-u’ (الهُزُؤُ) menurut kamus klasik kitab ash-Shihah berarti as-sukhiryah (السُّخْرِيَةُ) yaitu olok. Sedangkan kata huzu’an (هُزُؤًا) dan mahza’ah (مَهْزَأَةً) adalah bentuk mashdar alias kata dasar dari perbuatan mengejek. Kata wala‘iban (وَلَعِبًا) artinya : dan permainan.
Secara umum bentuk teknis mengejek dan mengolok-olok yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam di masa kenabian bukan sekadar olok-olok verbal biasa, melainkan bagian dari strategi sistematis penghinaan yang terdiri dari beberapa bentuk, disertai niat untuk menggugurkan wibawa, menciptakan keraguan, dan mempermalukan Islam serta pemeluknya.
Orang-orang kafir mencela Nabi dengan julukan-julukan merendahkan, antara lain Beliau SAW dituduh sebagai tukang sihir, sebagaimana firman Allah SWT :
وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Sesungguhnya orang ini adalah seorang tukang sihir yang banyak berdusta’. (QS. Sad: 4)
Selain itu ada juga yang menuduh Beliau SAW sebagai orang gila, sebagaimana firman Allah SWT berikut :
Bahkan mereka mengatakan: ‘Dia hanyalah seorang penyair! Maka tunggulah terhadapnya bencana maut sebagaimana yang menimpa orang-orang dahulu!’. (QS. At-Thur: 30)
Tujuannya adalah mengaburkan status kerasulan Nabi SAW dan membuat masyarakat tidak mempercayai beliau. Terkadang ejekan yang mereka lakukan diarahkan langsung kepada ibadah yang NAbi SAW jalankan, seperti mentertawakan kaum muslimin yang shalat.
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. (QS. Al-Muthaffifin : 29)
Namun dari semua penafsiran di atas, sebenarnya kalau kita melirik ke ayat selanjutnya, justru kita temukan munasabah yang lebih erat, yaitu orang-orang kafir Yahudi itu mengejek tata cara adzan yang disyariatkan dalam agama Islam. Dalam pendengaran mereka, suara adzan itu buruk sekali dan membuat mereka jadi mempermainkan agama ISlam.
Apabila kamu menyeru untuk (melaksanakan) salat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. (QS. Al-Maidah : 58)
Al-Qurthubi memperjelas konteks turunnya ayat ini dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] bahwa setiap kali Bilal mengumandangkan adzan untuk memanggil penduduk Madinah ke masjid melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, orang-orang Yahudi saling tertawa dan saling mengedipkan mata satu sama lain dalam suasana main-main dan olok-olok.
Rupanya mereka mempertanyakan suara adzan yang merupakan suara manusia. Mereka menghina adzan yang berupa suara manusia dengan mengatakan bahwa suara lengkingan adzan itu seperti teriakankeledai yang tidak enak didengar.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ
Kata walkuffaara (وَالْكُفَّارَ) artinya : dan orang-orang kafir. Sebenarnya yang disebut dengan orang kafir adalah siapapun yang tidak memeluk agama Islam, baik dari kalangan ahli kitab ataupun dari kalangan pemeluk agama berhala.
Namun dalam konteks ayat ini, Allah SWT mensejajarkan antara ahli kitab dengan orang-orang kafir. Maka banyak pihak yang berasumsi bahwa yang dimaksud dengan al-kuffar atau orang-orang kafir adalah kaum musyrikin Arab yang menyembah berhala.
Jika asumsi ini benar, maka penjelasannya adalah bahwa problem krisis identitas yang melanda kaum munafikin Madinah awalnya terkait dengan loyalitas mereka kepada kalangan Yahudi ahli kitab dari keturunan Bani Israil. Namun masalahnya kemudian merembet juga kepada peringatan Allah SWT kepada kaum muslimin untuk juga tidak memberikan loyalitas dan dukungan kepada kaum musyrikin Arab.
Kata awliyaa’a (أَوْلِيَاءَ) sudah dibahas pada ayat-ayat sebelum ini. Kata ini punya banyak makna, namun yang terasa lebih relevan dengan kontek kisah di masa kenabian adalah urusan memberikan loyalitas dan dukungan kepada orang-orang yang menjadi oposisi dan menentang kewenangan Nabi Muhammad SAW.
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Kata wattaquu (وَاتَّقُوا) artinya : dan bertakwalah. Kadang juga bisa bermakna : dan takutlah kamu. Kata allaaha (اللَّهَ) artinya : kepada Allah. Nampaknya yang lebih tepat adalah : takutlah kamu kepada Allah. Sebab hal ini terkait dengan rasa takut yang dialami kaum munafikin kalau harus berlepas dari orang-orang Yahudi yang selama ini jadi sekutu mereka.
Kata in kuntum (إِنْ كُنتُمْ) artinya : jika kamu benar-benar. Kata mu’miniin (مُؤْمِنِينَ) artinya : orang-orang yang beriman.
Penggalan yang jadi penutup ini sangat erat kaitannya dengan perintah untuk berhenti dari memberikan loyalitas kepada orang kafir yang telah menghina agama kita. Memang pasti ada resikonya karena sudah tidak lagi punya dukungan dari mereka.
Namun Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang beriman itu hanya takut kepada Allah SWT saja. Orang beriman itu tidak takut segala macam resiko akibat sudah tidak lagi punya kerja sama dengan orang-orang kafir, apalagi mereka telah menghina agama Islam.
Tidak layak orang yang telah menghina agama lain untuk diberikan loyalitas dan dukungan. Loyalitas dan dukungan hanya boleh kita berikan kepada orang yang juga punya kesetiaan yang sama. Kalau hanya bertepuk sebelah tangan, maka tidak ada gunanya pengorbanan yang kita berikan.