Kata wa adzinat (وَأَذِنَتْ) artinya : dan dia diizinkan. Namun maksudnya bahwa langit itu patuh kepada Tuhannya. Kata li-rabbiha (لِرَبِّهَا) artinya : oleh Tuhannya.
Ayat ini menggambarkan kepatuhan langit kepada perintah Allah. Kata wa adzhinat li rabbihā (“dan patuh kepada Tuhannya”) menunjukkan bahwa langit tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah. Tidak ada keraguan, penolakan, atau ketidaktaatan; langit bergerak, berputar, dan menjalankan hukum-hukum alam sesuai dengan perintah-Nya.
Kat wa-huqqat (وَحُقَّتْ) artinya : dan telah benar, atau bisa bermakna : dan sudah semestinya. Kata ini menegaskan bahwa kepatuhan langit itu merupakan sesuatu yang wajar dan seharusnya terjadi. Artinya, sebagai ciptaan Allah yang sempurna dan tertib, langit memang diciptakan untuk patuh, mengikuti hukum Allah tanpa penyimpangan.
Secara tafsir naratif: Allah menekankan bahwa segala sesuatu di alam semesta—termasuk langit yang sangat besar dan kuat—adalah makhluk yang mau tidak mau tunduk pada aturan-Nya. Ini menjadi pengingat bagi manusia bahwa ketundukan kepada Allah adalah hukum alam yang seharusnya berlaku juga bagi manusia, sebagai makhluk yang diberi akal dan kehendak.