Kata adzillatin (أَذِلَّةٍ) artinya : bersikap lemah lembut. Kata ‘alal mu’miniin (عَلَى الْمُؤْمِنِينَ) artinya : terhadap orang-orang beriman.
Dua kata ini merupakan dua sifat yang saling berlawanan. Dua sifat ini digunakan untuk menggambarkan suatu kaum, tergantung kepada siapa mereka bersikap seperti itu.
Kata ini adzillah (لأذِلَّةُ) adalah bentuk jamak dari kata adz-dzalil (الذَّليل) yaitu orang yang bersifat dzull (ذلّ) alias kerendahan diri atau tunduk. Bisa diucapkan dengan dhammah (ذُلٌّ) atau dengan kasrah (ذِلٌّ). Dengan dhammah (ذُلٌّ), maknanya adalah lawan dari kemuliaan, yaitu kehinaan atau kerendahan. Dengan kasrah (ذِلٌّ), sebagian ahli tafsir menyebutnya sebagai lawan dari kekakuan atau kesulitan, namun penjelasan ini tidak memiliki dasar kuat dalam ilmu bahasa Arab. Contoh penggunaannya terdapat dalam firman Allah:
Dan sungguh Allah telah menolong kalian di Badr, padahal saat itu kalian dalam keadaan lemah (أذِلَّةٌ)” (QS. Ali Imran: 123).
Kata (الذُّلُّ) juga digunakan dalam konteks yang bermakna lembut, rendah hati, dan penuh kasih sayang, seperti dalam firman-Nya:
Rendahkanlah dirimu kepada keduanya (orang tuamu) dengan penuh kasih sayang” (QS. Al-Isra: 24)
Jadi dalam ayat ini, makna kerendahan hati yang dimaksud adalah kelembutan, kasih sayang, dan kepedulian yang mendorong seseorang untuk memberikan manfaat.
Oleh karena itu, dalam ayat yang dibahas digunakan kata ‘alal-mu’minin (عَلى المؤمنين) yaitu terhadap sesama mukmin, karena mereka bersikap lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang beriman.
Kata adzillah (أذِلَّةٍ) ini diikuti oleh kata depan ‘ala (على) dan bukan li- (ل). Kalau adzillatin-li (أذلة لـ) maknanya berubah jadi penyayang dan pengasih.