Al-Baqarah [2] : 11

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". (QS. Al-Baqarah : 11)


Bagikan ke WhatsApp
10 | 11 | 12

Makna la tusfidu secara harfiyah adalah : jangan merusak, atau jangan berbuat kerusakan. Begitu yang banyak orang tuliskan dalam terjemahan atau penafsiran yang sifatnya ijmali. 

Namun kalau kita perdalam, perbuatan merusak apakah yang dilakukan oleh orang-orang munafik? Khususnya kalau kita kaitkan dengan konteks pada saat turunnya ayat ini, dimana mukhatabnya memang kalangan munafikin Madinah. Pertanyaannya mungkin perlu diperjelas : kerusakan macam apa yang dilakukan oleh kalangan munafikin di Madinah pada saat itu? 

Apakah mereka telah melakukan pembakaran hutan, atau mengotori alam dengan berbagai macam pencemaran di air dan udara? Apakah mereka melakukan peperangan dan membunuh jutaan nyawa manusia dengan meledakkan bom, roket dan nuklir? 

Pertanyaan ini muncul karena seringkali kita mendengar para penceramah bercerita kemana-mana terkait dengan istilah 'berbuat kerusakan' yang banyak terdapat dalam ayat Al-Quran, dan salah satunya di ayat ini. 

Mungkin kalau cerita tentang bagaimana kerusakan ditimbulkan oleh ulah manusia di bumi, atau pun ulah orang-orang yahudi, kita masih bisa merasakan keterkaitannya. Tapi kalau orang munafik disebut berperilaku merusak di bumi, tentu kita akan berpikir apa yang yang dimaksud dengna kerusakan disini? 

Apakah keberadaan orang-orang munafik di Madinah itu menimbulkan bencana alam seperti banjir, erosi, tanah longsor, gunung meletus, tsunami atau pun gejala-gejala alam yang lain? Sejarah dan sirah nabawiyah nyaris tidak pernah mencatat hal-hal semacam itu. Memang Madinah pernah banjir selama seminggu lamanya setelah sebelumnya diserang dengan musim kekeringan yang panjang.

Namun banjir itu sendiri bukan ulah orang-orang munafik, setidaknya dalam riwayat disebutkan justru karena Nabi SAW didatangi beberapa orang yang mengadukan kekeringan lalu meminta agar Nabi SAW berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. Dan hujan pun turun tanpa henti hingga seminggu lamanya. Sehingga berubah jadi bencana banjir. Kemudian Nabi SAW meminta kepada Allah agar hujan diturunkan di luar kota Madinah, di gunung-gunung dan lembah, asalkan di luar Madinah. Terkenal sekali doa itu dengan lafaz :

اللهم حوالينا لا علينا

Ya Allah turunkan hujan di luar kami dan jangan di tengah kami.

Namun sekali lagi yang jadi pertanyaan, apakah bencana kemarau diteruskan dengan banjir seminggu itu akibat ulah orang-orang munafik kala itu? 

Jawabannya jelas bukan. Lalu kalau bukan, perbuatan 'merusak' macam apa yang dilakukan oleh kalangan munafikin di Madinah kala itu?

Jawabannya bisa kita temukan dalam berbagai kitab tafsir bil ma'tsur. Sebutlah misalnya apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ketika menjelaskan siapakah yang dilarang untuk berbuat kerusakan di muka bumi, beliau tegaskan mereka adalah orang-orang munafik. Lalu apa yang dimaksud dengan 'melakukan kerusakan di muka bumi', beliau jelaskan :

أما"لا تفسدوا في الأرض"، فإن الفساد، هو الكفر والعملُ بالمعصية.

Sesungguhnya al-fasad (kerusakan) itu adalah kekufuran (al-kufru) dan mengerjakan maksiat (al-'amal bil ma'shiyah). 

Penjelasan ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari dari dua shahabat yaitu Abdullah bin Abbas dan juga Abdullah bin Mas'ud radhiyallahuanhuma. [1]

Ath-Thabari juga menceritakan dari Ar-Rabi' ketika menafsirkan larangan untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi : 

لا تَعْصُوا فِي الأرْضِ. قالَ: فَكانَ فَسادُهُمْ عَلى أنْفُسِهِمْ ذَلِكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ جَلَّ ثَناؤُهُ، لِأنَّ مَن عَصى اللَّهَ فِي الأرْضِ أوْ أمَرَ بِمَعْصِيَتِهِ فَقَدْ أفْسَدَ فِي الأرْضِ، لِأنَّ إصْلاحَ الأرْضِ والسَّماءِ بِالطّاعَةِ

Janganlah melakukan maksiat di muka bumi. Sebab ketika mereka merusak diri sendiri akan menjadi maksiat kepada Allah SWT. Karena siapa yang menentang Allah  di muka bumi dengan perbuatan maksiat atau memerintahkan perbuatan maksiat, dia telah melakukan kerusakan di muka bumi. Dan lawannya yaitu ishlah atau memperbaiki langit dan bumi dengan cara taat.

Jadi jelaslah disini bagaimana salah satu cabang ilmu Al-Qurn yaitu ilmu al-wujuh wa an-nazhair harus digunakan. Lafadz al-fasadu secara harfiyah memang berarti kerusakan, namun tidak selamanya bermakna kerusakan secara fisik, seperti pencemaran (polusi) atau berbagai kerusakan fisik lainnya. Ternyata dalam konteks ini, kerusakan di muka bumi justru bermakna : kekafiran atau perbuatan maksiat. 

Lalu kemaksiatan model apa yang orang-orang munafik lakukan di masa kenabian? 

Apakah mereka melakukan pencurian, penjarahan, atau pun juga perzinaan dan lainnya? Jawabnya tidak. Jenis kekufuran dan kemaksiatan yang mereka lakukan bukan dari jenis tersebut. 

[1] At-Thabari, Jamiul Bayan, 2/197

TAFSIR WAJIZ

Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di bumi, dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan. 

Mereka menjawab, Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.

Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan. Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya: selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan. .

TAFSIR TAHLILI

Bila mereka dinasihati agar meninggalkan perbuatan yang menimbulkan kerusakan di bumi, mereka selalu membuat dalih dan alasan dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya berusaha mengadakan perbaikan.

Mereka bahkan menganggap apa yang mereka kerjakan sebagai usaha untuk kebaikan orang-orang Islam dan untuk menciptakan perdamaian antara kaum Muslimin dengan golongan lainnya.

Mereka mengatakan bahwa tindakan-tindakan mereka yang merusak itu sebagai suatu usaha perbaikan untuk menipu kaum Muslimin.

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili