Al-Baqarah [2] : 10

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah : 10)


Bagikan ke WhatsApp
9 | 10 | 11

Qulub dalam qulibihim (قلوبهم) adalah bentuk jama' dari qalb (قلب), yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan agak berbeda menjadi 'hati'. Padahal secara makna harfiyah dalam ilmu faal tubuh manusia, qalb itu bukan hati tetapi jantung. Sedangkan secara biologis, organ hati kita di dalam tubuh itu dinamakan dengan kabid dalam bahasa Arab atau liver dalam bahasa Inggris. 

Lalu bagaimana sampai bisa terjadi pergeseran makna dari jantung menjadi hati? 

Ada banyak analisa, tapi salah satunya yang patut dicurigai adalah gara-gara kasus penyingkatan kata.  Boleh jadi pada awalnya kata qalb itu diartikan masih seusai aslinya yaitu 'jantung'. Namun bisa jadi disesuaikan dengan rasa bahasa menjadi jantung hati. Ungkapan 'jantung hati' ini lazim kita temukan dalam bahasa sastra di Indonesia. Engkau adalah pujaanku dan engkau adalah 'jantung hatiku'.

Padahal seharusnya cukup disebut dengan 'jantung' saja. Sehingga menjadi ungkapan 'Engkau adalah jantungku', begitu semestinya. Namun boleh jadi karena terbiasa dan terasa lebih enak, orang-orang lalu menyebutnya menjadi 'jantung hati'.

Kemudian mungkin karena agak ribet harus mengucapkan dua kata, mulai terjadilah penyingkatan. Tapi alih-alih menyebut 'jantung', justru yang disebut malah 'hati' saja. Dan pada akhirnya berubah makna, al-qalbu menjadi 'hati'. Itu sekedar analisa seadanya, belum tentu benar juga.

Padahal kalau kita perhatikan dalam bahasa Inggris misalnya, 'hati' itu mereka sebut dengan sesuai yaitu heart yang artinya jantung. Lambang perasaan cinta berupa gambar jantung yang tertusuk dan tertancap anak panah itu jelas-jelas menggambarkan bahwa cinta itu urusan jantung dan bukan urusan hati. 

Namun lepas dari bagaimana penerjemahan qalb menjadi hati atau jantung, yang jelas makna qalb di dalam ayat ini dan juga umumnya di dalam Al-Quran atau teks hadits bukanlah maknanya secara biologis. Qalb selalu disebut untuk melambangkan jiwa, diri, batin, atau pikiran seseorang. Jadi kalau mau diterjemahkan lebih objektif, bukan 'dalam hati mereka ada penyakit', namun menjadi : 'dalam jiwa mereka ada penyakit'. 

Tidak salah kalau kalimat 'berniat di dalam hati' itu kita ungkapkan dengan cara berbeda menjadi 'berniat di dalam batin' atau 'berniat di dalam jiwa', atau 'berniat di dalam pikiran'.

Namun penggunaan lafadz qalb untuk mewakili diri, batin, jiwa ataupun pemikiran adalah hal yang lazim di dalam Al-Quran. Dan kita temukan dalam banyak ayat dengan makna demikian. Justru hampir tidak ada yang maknanya sebagai organ di dalam tubuh yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Arti kata maradh (مرض) itu penyakit secara fisik, namun ketika dikaitkan dengan jantung atau hati secara simbolis, maka penyakit ini jelas maksudnya bukan penyakit jantung secara ilmu kedokteran. Bukan heart attack atau serangan jantung akibat penyempitan pembuluh darah, sehingga dilakukan tindakan bypass dengan memasang ring. 

Penyakit yang dimaksud tentu saja penyakit hati secara bukan biologis.

Makna zaada (زاد) adalah menambahi atau bertambah. Dalam hal ini Allah SWT menambahkan penyakit yang sudah ada sebelumnya dengan penyakit yang baru namun penyakitnya sama. Sehingga penyakit itu berlapis atau bertumpuk-tumpuk.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa penyakit hati yang dimaksud adalah keragu-raguan dalam hati atas keimanan kepada Allah atau keimanan kepada risalah Nabi Muhammad SAW. Maka dengan ditambahkannya penyakit keraguan dalam hati mereka, jadi semakin bertambah parah rasa ragu di dalam jiwa mereka, lebih dari sekedar ragu tapi sudah sampai ke tingkat sama sekali tidak beriman. 

Keadaan seperti ini juga terjadi kepada orang beriman, dimana keimanan mereka ditambahkan oleh Allah SWT. Dan sebaliknya orang kafir atau munafik itu Allah SWT tambahkan keraguan dalam hati mereka. Allah SWT berfirman tentang penambahan ini ;

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. (QS. At-Taubah : 124)

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS. At-Taubah : 125)

Adapun penjelasan bagaimana keimanan orang beriman bertambah dan keraguan orang munafik juga bertambah, kaitannya dengan turunnya ayat-ayat Al-Quran. Dalam kasus orang beriman, setiap kali turun suatu ayat baru, maka keimanan mereka bertambah lagi, setidaknya jumlah ayat yang diimani jadi bertambah.

Sebaliknya bukan orang kafir atau munafik, bertambahnya keraguan dan penyakit hati mereka juga dengan semakin banyak turunnya ayat. Setiap ada ayat yang turun, bertambahlah keraguan dalam hati mereka. Setidaknya jumlah ayat yang mereka ingkari jadi semakin banyak.

 

TAFSIR WAJIZ

Hal itu karena dalam hati mereka ada penyakit, seperti penyakit iri dan dengki kepada orang-orang yang beriman, keraguan terhadap ajaran Islam, keyakinan yang keliru, dan lainnya, lalu Allah menambah parah penyakitnya itu dengan kemenangan yang besar bagi orang-orang yang beriman.

Kemenangan itu sangat menyakitkan mereka karena rasa iri, dengki, dan sombong yang ada dalam diri mereka.

Keraguan mereka pun semakin menjadi. Dan, sebagai akibatnya, selain menderita di dunia, mereka akan mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta dengan memperlihatkan keimanan padahal hati mereka ingkar.

TAFSIR TAHLILI

Pada ayat ini diterangkan keburukan dusta atau sikap berpura-pura dan akibat-akibatnya. Dendam, iri hati dan ragu-ragu termasuk penyakit jiwa. Penyakit ini akan bertambah parah, bilamana disertai dengan perbuatan nyata. Misalnya rasa sedih pada seseorang akan bertambah dalam, apabila disertainya dengan perbuatan nyata, seperti menangis, meronta-ronta dan sebagainya.

Penyakit-penyakit dengki demikian itu terdapat dalam jiwa orang-orang munafik. Oleh karena itu mereka memusuhi Allah dan Rasul-Nya, menipu dengan sikap pura-pura dan berusaha mencelakakan Rasul dan umatnya.

Kemudian penyakit itu bertambah-tambah setelah melihat kemenangan-kemenangan Rasul. Setiap kali Rasul memperoleh kemenangan, bertambah pulalah penyakit mereka. Terutama sekali penyakit bimbang dan ragu-ragu, menimbulkan ketegangan jiwa yang sangat pada orang-orang munafik.

Akal pikiran mereka bertambah lemah untuk menanggapi kebenaran agama dan memahaminya, bahkan pancaindra mereka tidak mampu menangkap obyek dengan benar, seperti yang diungkapkan Allah dengan firman-Nya:

"Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah" (al-A'raf/7: 179)

Bukti-bukti telah nyata, cahaya kebenaran yang terang benderang juga jelas bagi mereka, namun mereka enggan menerimanya, bahkan mereka tambah erat berpegang kepada pendiriannya yang lama.

Cahaya terang menjadi gelap di mata mereka dan menjadi penyakit di hati mereka. Hati mereka bertambah susah disebabkan lenyapnya kepemimpinan mereka. Iri dan dengki tambah mendalam karena menyaksikan kukuhnya Islam dari hari ke hari. Akibat pendustaan mereka, yaitu mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir dan tipu daya mereka terhadap Allah, mereka akan menderita azab yang pedih.

Dalam ayat ini dan ayat-ayat berikutnya, Allah menerangkan sebagian dari sifat-sifat orang munafik yang melakukan tindakan-tindakan yang merusak, antara lain membantu orang-orang kafir (musuh-musuh Islam) dengan membukakan rahasia kaum Muslimin, mendorong orang-orang kafir segera menghancurkan kaum Muslimin, mengadakan perjanjian kerja sama dengan lawan-lawan Islam, menimbulkan pertentangan-pertentangan dalam masyarakat, menghasut orang-orang Islam agar meninggalkan Nabi saw dan lain sebagainya.

Firman Allah:

Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan. (al-Baqarah/2: 205)

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili