Kemenag RI 2019:Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” Prof. Quraish Shihab:Adakah kamu hadir ketika ¥a<)ub`‘ kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika dia berkala kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku?`¹ Mereka menjawab: “Kami (sedang dan akan) menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu; ?brahim.” Ismail dan ?shaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami kepada-Nya adalah orang-orang Muslim (tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah swt.). Prof. HAMKA:133. Atau apakah telah kamu menyaksikan ketika telah dekat kepada Ya`kub kematian, tatkala dia ber kata kepada anak-anaknya, "Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Akan kami sembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim dan lsma`il dan lshaq yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepadaNyalah kami akan menyerahdiri (Muslimin)."
Dalam tafsir Al-Basith, Al-Wahidi[1] menuliskan bahwa ayat ini turun ketika orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi SAW,”Tidakkah kamu mengetahui hari dimana Nabi Ya’qub telah berwasiat kepada anak-anaknya agar memeluk agama Yahudi?”. Dalam hal ini mereka mengklaim bahwa semua nabi di masa lalu memeluk agama yahudi. Padahal apa yang mereka katakan itu tidak pernah terjadi dan Nabi Ya’qub tidak pernah berwasiat agar anak-anaknya memeluk agama Yahudi.
Oleh karena itu maka turunlah ayat ini untuk menolak klaim mereka serta membalas juga dengan pertanyaan yang sama, yaitu apakah kalian wahai Yahudi juga hadir disana para waktu itu?.
Lafazh am (أَمْ) biasanya digunakan untuk menawarkan dua pilihan dengan makna : “atau” , seperti apakah A “atau” B. Seperti yang biasa digunakan dalam banyak ayat Al-Quran, misalnya :
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? (QS. Yusuf : 39)
Namun di ayat ini tidak disebutkan pilihan sebelumnya, tiba-tiba yang disebutkan langsung tawaran kedua : “… ataukah kamu hadir?”. Seakan-akan sebelumnya ada pertanyaan yang tidak dituliskan. Lalu kalimat apakah yang menjadi taqdirnya?
Al-Wahidi dalam Al-Basith menuliskan kalimat yang dihapus kurang lebih sebagai berikut :
أبلغكم ما تقولون وتنسبون إلى يعقوب - أم -كنتم شهداء حضرتم وصيته
Apakah yang kalian katakan itu hanya cerita tentang Ya’qub ataukah kamu memang hadir langsung menyaksikan wasiatnya?[1]
Sedangkan Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasyasyaf mengatakan bahwa pilihan kalimat yang mahdzuf itu taqdirnya adalah :
أتدّعون على الأنبياء اليهودية - أم -كنتم شهداء حضرتم وصيته
Apakah kalian mengklaim bahwa semua nabi itu Yahudi, ataukah, kamu hadir ketika Nabi Ya’qub berwasiat?[2]
Pendapat yang lain mengatakan bahwa lafazh am (أَمْ) disini bermakna nafyi (النَفْيِ) yang artinya tidak, sehingga terjemahannya menjadi : “Kamu tidak hadir ketika Nabi Ya’qub berwasiat kepada anak-anaknya menjelang wafat.”
Lafazh kuntum (كُنْتُمْ) dalam ayat ini lebih dimaknai terkait waktu yang lalu, sehingga maknanya menjadi : “kamu berada di waktu itu”.
Sedangkan lafazh syuhada’ (شُهَدَاءَ) dari kata syahid (شَهِيْد) maknanya bisa berbeda-beda tergantung konteksnya. Secara harfiyah makna kata syahid itu memang saksi, namun kadang bisa juga bermakna hadir atau berada di suatu tempat, seperti pada ayat berikut :
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Siapa dari kalian yang hadir di bulan itu berpuasa (QS. Al-Baqarah : 185)
Kata syahida dalam ayat ini maksudnya bukan menyaksikan bulan, tetapi maksudnya hadir alias berada di bulan Ramadhan. Karena kalau mau dibilang menyaksikan bulan, seharusnya bukan syahr tetapi qamar yang merupakan satelit bumi satu-satunya. Sedangkan syahr adalah nama untuk bentangan waktu, jadi tidak mungkin disaksikan tetapi dihadiri.
Lafazh idz (إِذْ) diartikan ketika. Lafazh hadhara (حَضَرَ) artinya menghadiri, sedangkan makna al-mautu (الْمَوْتُ) secara bahasa artinya kematian. Maksudnya tentu saja bukan ketika sedang mengalami kematian alias ajal, namun yang dimaksud adalah ketika Nabi Ya’qub sudah menginjak usia senja dan sudah tidak terlalu jauh lagi dari akhir dari kehidupannya.
Beliau berwasiat atau berpesan kepada anak-anaknya, apakah kalian wahai yahudi Madinah ikut hadir dan menyaksikan apa-apa yang jadi wasiatnya?
إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ
Ketika Nabi Ya’qub berkata atau tepatnya bertanya kepada anak-anaknya. Lafazh li-banii-hi (بَنِيهِ) artinya kepada anak-anaknya. Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya bahwa Nabi Ya’qub punya anak 12 orang dari tiga istri yang berbeda. Oleh karena itulah ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu, keluarlah 12 mata air yang memancar, sejumlah anak-anak Nabi Ya’qub.
فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا
Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. (QS. Al-Baqarah : 60)
Dari istri pertama yang bernama Laya ada 5 anak yaitu : Yahudza, Rubail, Syam'un, Lawiazalun dan Yasyjar. Dari istri kedua yaitu Zulfa atau Balhah ada 4 orang yaitu Daan, Naftali, Jaad dan Asyir. Sedangkan dari istri terakhir yang bernama Rahil hanya dua anaknya yaitu Nabi Yusuf dan adiknya Bunyamin. Mereka inilah yang sempat ditanyakan tentang mau menyembah apa setelah ayah mereka sudah tidak ada nanti.
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي
Lafazh maa (مَا) adalah adatul-istifham yaitu digunakan untuk bertanya, maknanya : “Apa?”. Pertanyaannya bukan siapa yang kamu sembah, tetapi apa yang kamu sembah, ruang lingkupnya lebih luas, tidak terbatas pada sesembahan dari jenis yang hidup, tetapi mencakup juga jenis sembahan yang tidak hidup. Hal itu mengingat bahwa di masa kenabian Ya’qub waktu itu cukup banyak bangsa di dunia ini yang menyembah benda-benda yang tidak layak disembah, seperti menyembah bintang-bintang di langit. Padahal semuanya benda mati, jangankan jadi tuhan, bahkan hidup pun tidak mampu.
Lafazh ta’budun (تَعْبُدُونَ) artinya : “kamu menyembah”, baik dengan cara ritual gerakan seperti shalat atau pun dengan memberikan ritual-ritual lainnya, termasuk juga dengan memberikan persembahan qurban hewan dan lainnya.
Sedangkan lafazh min ba’di (مِنْ بَعْدِي) artinya : setelah Aku. Maksudnya setelah Nabi Ya’qub sudah wafat nanti. Dalam salah satu versi sejarah disebutkan Beliau lahir di Kan’an pada tahun 1751 sebelum masehi dan wafat di Mesir pada tahun 1604 sebelum masehi, sehingga diperkirakan Beliau wafat di usia 147 tahun. Waktu itu Beliau sudah tinggal di Mesir dan meninggalkan tanah Kan’an, karena diajak pindah ke Mesir oleh puteranya, Nabi Yusuf alaihissalam yang menjadi raja.
Adapun terkait latar belakang kenapa Nabi Ya’qub bertanya tentang apa yang akan disembah oleh anak-anak setelah aku nanti tiada, boleh jadi karena di masa itu sangat marak di Mesir penyembahan kepada berhala.
Dalam catatan sejarah bangsa Mesir mengamalkan sistem kepercayaan politeistik, yaitu mempercayai banyak dewa. Berikut adalah beberapa dewa yang dianut oleh bangsa Mesir pada masa itu:
§ Amon-Ra: Dewa matahari yang merupakan penyatuan antara dewa Amon (dewa kekuatan) dan dewa Ra (dewa matahari). Amon-Ra dianggap sebagai dewa utama dan dihormati secara luas di seluruh Mesir.
§ Osiris: Dewa kematian, kehidupan setelah mati, dan kebangkitan. Osiris dianggap sebagai raja dunia bawah dan menjadi simbol peremajaan dan kehidupan yang abadi.
§ Isis: Dewi kesuburan, kelahiran, dan magis. Isis dihormati sebagai istri dan saudara Osiris, dan dia dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan dan perlindungan.
§ Horus: Dewa langit dan pelindung raja. Horus sering digambarkan sebagai elang atau manusia dengan kepala elang. Dia dianggap sebagai pelindung penguasa dan mewarisi tahta dari ayahnya, Osiris.
§ Hathor: Dewi kecantikan, cinta, dan kesenangan. Hathor juga dikenal sebagai pelindung musik, tarian, dan kesenian. Dia sering dihubungkan dengan aspek feminin dan dianggap sebagai ibu dewi.
§ Anubis: Dewa embalsamasi dan pemakaman. Anubis dipercaya bertanggung jawab dalam mempersiapkan mayat untuk perjalanan ke akhirat dan membantu dalam proses pemakaman.
§ Thoth: Dewa pengetahuan, kebijaksanaan, dan tulisan. Thoth adalah penjaga pengetahuan dan disebut sebagai dewa yang memberikan tulisan dan kalender bagi umat manusia.
§ Seth: Dewa ketidakstabilan, kekacauan, dan badai. Seth memiliki hubungan yang kompleks dengan dewa-dewa lain dan terkadang dianggap sebagai saudara Osiris yang membunuhnya.
§ Bastet: Dewi kucing, kegembiraan, dan rumah tangga. Bastet sering kali dihubungkan dengan kesuburan dan melambangkan perlindungan terhadap hama dan penyakit.
§ Sekhmet: Dewi perang, penyembuhan, dan hukuman. Sekhmet dipercaya memiliki kekuatan untuk menyebabkan penyakit dan mampu menyembuhkannya. Dia sering digambarkan sebagai singa betina atau sebagai wanita dengan kepala singa.
§ Ptah: Dewa seni, kerajinan, dan arsitektur. Ptah dihormati oleh para pengrajin dan ahli bangunan, serta dianggap sebagai pencipta alam semesta.
§ Amun: Dewa kesembuhan dan perlindungan. Amun sering dihubungkan dengan dewa Amon-Ra, dan kuil-kuil yang didedikasikan untuk Amun menjadi tempat penting dalam kehidupan agama Mesir.
قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ
Lafazh qaaluu (قَالُوا) artinya mereka berkata, namun lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi : “mereka menjawab”. Mereka yang dimaksud adalah anak-anak Nabi Ya’qub. Lafazh na’budu (نَعْبُدُ) artinya : “kami menyembah”. Sedangkan lafazh ilahaka (إِلَٰهَكَ) artinya : “tuhanmu”.
Penggalan ini adalah penjelasan dari ungkapan sebelumnya yaitu tuhan ayah-ayahmu. Dan mereka itu adalah Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai ayah yang berada pada hirarki paling atas. Lalu disusul dengan Nabi Ismail alaihissalam sebagai anak pertama, baru kemudian Nabi Ishak sebagai anak kedua.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa jarak antara keduanya itu 14 tahun, ada juga yang mengatakan 16 tahun.
إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Lafazh ilaahan waahidan (إِلَٰهًا وَاحِدًا) maknanya adalah : “tuhan yang satu”. Kedudukannya dalam ilmu Nahwu disebut sebagai badal (بَدَل). Kasusnya mirip dengan lafazh nashiyah (نَاصِيَةٍ) pada surat Al-‘Alaq.
Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. (QS. Al-Alaq : 16)
Jawaban dari anak-anak Nabi Ya’qub inilah adalah penegasan untuk menolak klaim sepihak orang-orang Yahudi di masa kenabian. Ternyata mereka tidak pernah memerintahkan anak keturunannya untuk menjadi orang yang memeluk agama Yahudi.
Kalau mau ditelusuri jejak sejarahnya, meski diyakini bahwa kata yahudi itu diambil dari nama anak pertama Nabi Ya’qub, namun penggunaanya sebagai sebuah agama, baru muncul setelah masa kenabian Sulaiman berakhir dan masa itu lebih dekat lagi ke masa kenabian Isa alaihissalam.
Thahir Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[1] menuliskan bahwa Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada sekitar 970 SM. Sepeninggalnya kerajaan warisan Nabi Sulaiman lantas pecah dua. Kerajaan yang pertama itulah yang menggunaan nama Yahudza, dipimpin oleh anaknya yang bernama Rahba’am.
Dinamakan kerajaan Yahudza karena kebanyakan rakyatnya memang berasal dari anak keturunan dari Yahudza, putera pertama Nabi Ya’qub alaihissalam. Mereka menampati kota Jurusalem tempat dimana Nabi Sulaiman bertahta dahulu.
Dan yang unik, nama yahudza yang awalnya mereka gunakan sebagai nama negara, akhirnya ikutmelekat juga untuk nama agama yang mereka peluk sebagai agama yahudi.