Al-Baqarah [2] : 7

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah : 7)


Bagikan ke WhatsApp
6 | 7 | 8

Ayat ini merupakan tasliyah atau pelipur lara bagi Nabi Muhammad SAW, dimana Allah SWT membantu meringankan beban utusan-Nya itu dengan meyakinkan bahwa tidak mau masuk Islamnya orang kafir itu karena memang disengaja oleh Allah SWT. Allah SWT memang menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka, karena itu janganlah bersedih dan kecewa bila dengan penolakan mereka. Dengan demikian, beban di pundak terasa lebih ringan. Kekafiran mereka memang atas kehendak Allah SWT juga dan bukan karena rendahnya kinerja Nabi SAW.

Ini ibarat atasan yang memberi kemakluman kepada bawahannya, bahwa tidak selesainya tugas bawahan bukan semata-mata karena bawahan itu tidak bekerja, tidak berprestasi atau belum memaksimalkan semua upaya. Namun karena memang target dan objek dakwahnya semata-mata karena sudah Allah SWT tutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka.

Lafadz khatama (ختم) dalam ayat ini bermakna menutup  hati sehingga mereka tercegah dari iman. Ada tiga bagian yang ditutup Allah atas orang kafir, yaitu hati, pendengaran dan penglihatan.

Selain menggunakan lafadz khatama, Allah SWT juga menggunakan beberapa kata yang lain terkait dengan menutup hati, yaitu :

Salah satu penyebab tertutupnya hati seseorang itu karena dia melakukan maksiat. Hal itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini :

إِنَّ المـُؤمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كاَنَتْ نَكْتَةَ سَوْدَاءَ فيِ قَلْبِهِ فَإِنْ تاَبَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقَلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُو قَلْبه ذاك الرين الذي ذكر الله عز وجل في القرآن: (كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ) .

Pertama : Salah satu hal yang penting untuk dicatat bahwa Allah SWT menggunakan kata 'ala (على)  tiga kali untuk masing-masing objek, menjadi 'ala qulubihim, a'al sam'ihim, dan 'ala absharihim.

Padahal sebenarnya bisa saja kata 'ala tidak perlu diulang-ulang 'ala qulubihim wa sam'ihim wa absharihim.

Tentu ada tujuannya, yaitu untuk penegasan bahwa tiap-tiapnya itu memang ada penutup sendiri-sendiri, seolah-olah berkata : ditutup hatinya, ditutup pendengarannya dan ditutup penglihatannya.

Kedua : tiga hal yang disebutkan ditutup itu adalah hati, pendengaran dan penglihatan. Namun yang menarik Allah SWT menggunakan lafadz jama' untuk hati (قلوبهم) dan penglihatan (أبصارهم), sedangkan untuk pendengaran hanya memakai bentuk tunggal (السمع) dan bukan asma' (أسماع). Mengapa?

Setidaknya ada tiga jawaban dalam masalah ini :

1. Bahwa lafadz as-sma' itu merupakan mashadar, dan mashdar itu tidak perlu diubah menjadi jama'. 

2. Bahwa ada lafadz yang mahdzuf dan muqaddar, dimana yang dihilangkan itu adalah hawas sam'ihim (حواس سمهعم).

3. Ahli Nahwu seperti As-Sibawaih menyebutkan tidak mengapa menyebutkan lafadz yang mufrad di tengah lafadz jama'. Dan itu akan menunjukkan bahwa yang diapit itu bermakna jama' juga. 

Dasarnya ketika Allah SWT berfirman : (من الظلمات إلى النور). Di dalam petikan ayat ini lafadz zhulumat itu berbentuk jama' yang berarti kegelapan-kegelapan, sedangkan lafadz nur itu mufrad (tunggal). Dalam hal ini tidak harus menggunakan lafadz jama untuk nur menjadi anwar (أنوار).

Para ulama memperhatikan kebiasaan Al-Quran, bahwa setiap kali Allah SWT menyebutkan pendengaran dan penglihatan, urutannya selalu pendengaran terlebih dahulu baru disebutkan penglihatan. Hal ini kemudian dipahami menjadi beberapa kesimpulan : 

1. Bahwa pendengaran itu lebih utama dari pada penglihatan. Sehingga ketika Allah SWT memilih utusannya sebagian nabi atau rasul, tidak ada satu pun yang tuli, walau pun ada yang buta. Misalnya Nabi Ya'qub 'alaihissalam yang sempat kehilangan penglihatan, namun tidak pernah kehilangan pendengaran.

2. Bahwa pendengaran bayi atau janin di dalam kandungan itu lebih dahulu terbentuk ketimbang penglihatannya. Sehingga bayi bisa bereaksi bila mendengar suara gaduh, namun tidak bereaksi bila ibu berada dalam suana terang atau gelap.

3. Bahwa cukup dengan pendengaran saja, seseorang bisa memperkirakan posisinya, meskipun dia dalam keadaan buta. Karena pendengaran itu bisa merasakan arah dan posisi. Orang buta bisa berjalan di keramaian cukup lewat pendengaran saja, setidaknya lewat suara ketukan tongkatnya.

Sebaliknya, orang yang tuli tidak bisa mendengar, meskipun penglihatannya normal namun dia akan kesulitan dalam memperkirakan posisi dan jarak, kecuali bila dia punya pandangan dari berbagai arah. Maka itu cukup satu pendengaran saja namun untuk penglihatan dibutuhkan beberapa posisi kamera yang berbeda.

1. Makna lafadz ghisyawah ini adalah ghitha' (غطاء) yang berarti sesuatu yang menutupi pandangan sehingga seseorang jadi tidak bisa melihat.

Bisa juga dibandingkan dengan firman Allah SWT ketika menyebutkan gelapnya malam dengan ungkapan : wallaili idza yaghsya (والليل إذا يغشى) yang berarti : Apabila malam telah gelap menutupi. 

2. Ragam qiraat untuk lafadz ghisyawah ini ada beberapa versi : 

Al-Khalib berkata bahwa makna dasar dari kata 'adzab' itu mencegah (المنع). Maksudnya segala hal yang mencegah seseorang dari apa yang diinginkannya, atau dalam ungkapan bahasa Arabnya : (ما يمنع الإنسان من مراده).

Dan dari situlah air tawar disebut dengan al-ma'ul 'adzb (الماء العذب), karena air tawar itu mencegah dari rasa haus.[1]

Namun lafadz adzab yang dimaksud dalam ayat ini adalah siksaan yang nanti mereka rasakan di akhirat. Walaupun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa di dunia pun juga mendapatkan adzab berupa pembunuhan dan penyanderaan, sedangkan di akhirat adzabnya berupa siksa yang tidak berhenti.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah layak bagi Allah SWT menjatuhkan adzab, padahal Dia adalah tuhan yang Maha Pemurah, Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Sebagian mengatakan bahwa adanya Allah SWT yang menjatuhkan adzab buat hamba-Nya disini hanya merupakan ancaman saja, sedangkan dalam kenyataannya Allah SWT itu akan mengampuni. Sehingga makna walahum adzabun azhim disini menjadi bahwa seharusnya mereka berhak untuk mendapatkan adzam yang besar.

Namun sebagian ulama lain menyebutkan bahwa tidak mengapa kalau Allah SWT itu mengadzab hamba-Nya, karena itu merupakan hak dan ketentuan-Nya juga. Sama sekali Allah tidak dipermalukan dengan ketegasannya dalam menyiksa makhluq-Nya sendiri.

[1] Al-Baghawi

TAFSIR WAJIZ

TAFSIR TAHLILI

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili