Al-Baqarah [2] : 6

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (QS. Al-Baqarah : 6)


Bagikan ke WhatsApp
5 | 6 | 7

1. Pengertian

Secara bahasa, kata kafir berasal dari ka-fa-ra, (كفر) yang punya banyak makna, diantaranya :

a. Menutupi : (الستر) dan (الغطاء), sebagaimana dikatakan dalam syiir Arab :

فِي لَيْلَةٍ كَفَرَ النُّجُومَ غَمَامُهَا

Pada malam dimana bintang-bintang menutupi mendungnya.

b. Laut & Sungai Yang Luas

Selain bermakna menutupi, kata kafir dalam bahasa Arab juga punya beberapa arti lainya, seperti laut atau sungai yang luas (الْبَحْرُ وَالنَّهَرُ الْعَظِيمُ). [1]

c. Petani

Bahkan ada juga yang bermakna petani, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut :

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَباتُهُ

seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. (QS. Al-Hadid : 20)

Karena petani itu menutup benih.

d. Malam

Kafir juga digunakan untuk menyebutkan malam, sebagaimana penyair Arab membacakan syiirnya :

فتذكرا ثقلا رثيدا بعد ما ... أَلْقَتْ ذُكَاءُ يَمِينَهَا فِي كَافِرِ

Karena malam itu menutup siang dengan gelapnya. [2]

2. Siapakah Kafir Yang Dimaksud Dalam Ayat Ini?

Membaca sekilas isi ayat ini cukup membuat penasaran, karena Allah SWT seolah-olah menutup harapan bahwa orang kafir itu tidak usah diajak masuk Islam dan tidak perlu didakwahi. Karena Allah SWT menganggapnya sama saja, diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, sama saja.

Lalu muncul pertanyaan, apakah memang demikian prinsip agama Islam mengajarkan, bahwa tidak usah berdakwah mengajak semua orang kafir masuk Islam?

Jawabannya kalau kita memenggal ayat Al-Quran sepotong-sepotong, memang kita mendapatkan kesan seperti itu. Namun Al-Qurthubi menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa ayat umum namun maknanyanya khusus, yaitu turun terkait dengan orang-orang kafir tertentu yang telah ditetapkan atas kehendak Allah SWT akan mati dalam keadaan kafir. Namun memang tidak disebutkan siapa namanya.

Berbeda dengan kasus surat Al-Lahab, dimana Allah SWT telah secara khusus menyebut namanya secara tegas sebagai orang yang akan mati dalam keadaan kafir.

Oleh karena itu timbul perbedaan pendaapt di kalangan para mufassir, siapakah sosok orang kafir yang dimaksud dalam ayat ini pada diturunkan. Ada dua pendapat dalam hal ini :

Pertama : menurut Ibnu Abbas dan Al-Kalbi, yang dimaksud adalah para pimpinan agama Yahudi, diantaranya Huyai bin Akhtab dan Ka'ab bin Al-Asyraf. Hal itu bisa diketahui dari ciri-ciri yang disebutkan bahwa mereka menutupi kebenaran, padahal mereka mengatahui kebenaran itu. [3].

Kedua : menurut sebagian ulama ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para musuh Nabi SAW dari kalangan musyrukin Mekkah, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Al-Walid bin Al-Mughirah dan teman-temannya.

Ar-Rabi' bin Unais menyebutkan bahwa mereka adalah para pimpinan musyrikin Mekkah yang mati pada Perang Badar.

Dalam hal ini perilaku mereka dikaitkan dengan firman Allah SWT :

فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ وَقَالُواْ قُلُوبُنَا فِى أَكِنَّة ٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ

Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)". (QS. Fushshilat : 5)

Padahal Rasulullah SAW sangat berharap agar mereka mau menerima agama Allah dan memeluk Islam, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut :

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَى ءاثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُواْ بِهَاذَا الْحَدِيثِ أَسَفاً

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). (QS. Al-Kahfi : ِ6)

Maka kalau dikaitkan dengan lanjutan ayat ini dimana Allah seolah-olah mengatakan percuma saja diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, mereka tetap tidak akan beriman juga. Dan ayat ini juga punya kaitan dengan ayat yang lain :

وقال أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Yunus : 99)

Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini merupakan hiburan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar tidak merasa sedih dan berkecil hati, karena para pemuka Quraisy yang diharapkan masuk Islam, ternyata tidak ada yang mau menerima dakwah Beliau SAW.[4]

Dengan kasus yang terjadi di masa Nabi SAW, dimana Allah SWT sedang memberi hiburan atau meringankan beban kepada Nabi SAW, yang sedang bersedih karena ternyata para pemuka orang kafir tidak ada yang mau masuk Islam.

[1] Al-Jami; li Ahkam Al-Quran, 1/183

[2] Al-Jami; li Ahkam Al-Quran, 1/183

[3] Al-Jami; li Ahkam Al-Quran, 1/184

[4] Ar-Razi

Kata sawa'un (سواء) artinya adalah sama. Maksudnya sama saja dan tidak ada bedanya, apakah diberi peringatan atau pun tidak diberi peringatan, tidak ada pengaruhnya apa-apa.

1. Qiraat

Ada tujuh qiraat yang berbeda dalam membaca kata ini, yaitu :

2. Makna Indzar

Indzar berasal dari an-dza-ra yun-dzir-u (أنذر ينذر), maknanya adalah :

التخويف من عقاب الله بالزجر عن المعاصي

Memberi rasa takut atas pembalasan dari Allah dengan cara mencegah maksiat

Sedangkan Al-Qurthubi menyebutkan makna indzar adalah :

الْإِنْذَارُ الْإِبْلَاغُ وَالْإِعْلَامُ، وَلَا يَكَادُ يَكُونُ إِلَّا فِي تَخْوِيفٍ يَتَّسِعُ زَمَانُهُ لِلِاحْتِرَازِ، فَإِنْ لَمْ يَتَّسِعْ زَمَانُهُ لِلِاحْتِرَازِ كَانَ إِشْعَارًا وَلَمْ يَكُنْ إِنْذَارًا

Indzar adalah menyampaikan dan memberitahukan. Dan dilakukan dengan cara memberi rasa takut yang waktunya cukup untuk bersiap-siap. Bila waktunya sudah tidak cukup, namanya isy'ar [1]

Lalu dalam terjemahan Depag, indzar sering diterjemahkan menjadi memberi peringatan.

Pasangannya adalah basy-sya-ra yu-basy-syi-ru (بشر يبشر) yang artinya memberi kabar gembira. Pasangan ini disebutkan dalam banyak ayat menjadi basyiran wa nadzira (بشيرا ونذيرا) atau mubasyyirin dan mundzirin (مبشرين ومنذرين).

كان الناس أمة واحة فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين

Dahulu manusia itu satu umat, lalu Allah mengutus para nabi menjadi pemberi kabar gembira dan peringantan. (QS. Al-Baqarah : 213)

وَمَا نُرْسِلُ المُرْسَلِينَ إِلاَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ

Sesungguhnya tidaklah Kami mengutus para rasul kecuali sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS. Al-Kahfi : 56)

Namun dalam konteks ayat ini maksudnya adalah mengajak masuk Islam.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW sangat kuat keingingannya agar orang-orang kafir mau masuk Islam dan ikut ajaran yang dibawanya. Namun Allah SWT memberitahu bahwa tidak akan beriman kecuali orang-orang yang Allah SWT kehendaki.

Kewajiban Beliau SAW hanya sekedar memberi indzar atau peringatan, sebatas mengajak saja. Tetapi kalau yang diajak tidak mau, maka hal itu bukan tangung-jawab Beliau SAW. Sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّما أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Sedangkan Allah menentukan segala sesuatunya. (QS. Hud : 13)

[1] Al-Qurtubi, 1/184

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ فَنَرْجُو وَنَقْرَأُ فَنَكَادُ أَنْ نَيْأَسَ فَقَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ» ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَواءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ «هَؤُلَاءِ أَهْلُ النَّارِ» قَالُوا: لَسْنَا مِنْهُمْ يا رسول الله، قال أجل

Ya rasulallah, kami membaca Al-Quran yang membuat kami berharap, namun kadang kami membaca Al-Quran membuat kami jadi putus asa. Rasulullah SAW menjawab,"Maukah Aku beri informasi?". Kemudian Beliau SAW membaca ("Sesungguhnya orang kafir itu sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman"). Rasulllah SAW bersabda,"Itulah penghuni neraka". Jadi kami bukan termasuk mereka ya Rasulallah?". Beliau menjawab,"Ya bukan".

 

TAFSIR WAJIZ

TAFSIR TAHLILI

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili