Al-Baqarah [2] : 9

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah : 9)


Bagikan ke WhatsApp
8 | 9 | 10

Asal katanya al-khida' (الخداع) yang berarti ihtiyal yaitu menampilkan hal-hal yang berbeda dengan yang ada di batinnya. Aslinya adalah al-ikhfa' atau menyembunyikan.

Nabi SAW pernah mengatakan bahwa perang itu khid'ah (خدعة) yang artinya tipu daya. Maka dalam ayat ini sesungguhnya Allah SWT sedang menjelaskan hakikat peperangan yang intinya tidak lain adalah tipu daya dari kedua-belah pihak. Di satu sisi Rasulullah SAW beserta para shahabat dan di seberangnya adalah orang-orang munafikin yang sedang dibicarakan dalam ayat ini.

Lafadznya secara zhahir adalah yukhadi'unallah (يخادعون الله), seolah-olah yang ditipu itu Allah SWT. Padahal mana mungkin seorang makhluk bisa menipu Tuhannya sendiri dan tidak mungkin Allah SWT tertipu oleh makhluknya. Bukankah Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan makhluk, lalu bagaimana bisa Tuhan malah ditipu oleh makhluk ciptaan-Nya sendiri? Jelas tidak mungkin hal itu terjadi dan tentunya kita tidak boleh memahami ayat ini secara harfiyah, lantaran bisa terkena pasal penghinaan kepada Allah SWT. 

Lagi pula apa yang orang-orang munafikin lakukan itu memang tidak diniatkan untuk menipu Allah SWT, melainkan untuk menipu NAbi Muhammad SAW. 

Maka dalam hal ini para ulama menyebutkan bahwa yang mereka tipu sesungguhnya bukan Allah SWT melainkan Nabi Muhammad SAW. Sehingga taqdir lafazh itu sesungguhnya adalah yukhadi'una nabiyyallah (يخادعون نبي الله), yaitu mereka telah melakukan tipu daya kepada Nabi Allah. Hanya saja dimungkinkan untuk menghilangkan (hadzf) lafadz 'nabi' dan langsung menyebutkan lafadz 'Allah'. 

Seolah-olah ingin ditegaskan bahwa yang mereka lakukan sudah tidak hanya sekedar menipu Nabi Muhammad SAW saja, tetapi sudah sampai ke level menipu Allah SWT langsung.

Dan hal-hal semacam ini lazim disebutkan di dalam Al-Quran. Contohnya ketika Allah SWT menyebutkan peristiwa bai'atnya para shahabat di masa kenabian dengan ungkapan :

إنَّ الَّذِينَ يُبايِعُونَكَ إنَّما يُبايِعُونَ اللَّهَ

Sesungguhnya mereka yang membai'atmu (Muhammad) mereka itu membai'at Allah (QS. Al-Fath : 10)

Begitu juga mirip dengan ungkapan lainnya, yaitu ketika Allah SWT menyebutkan pembagian harta rampasan perang di dalam Surat Al-Anfal, bahwa yang berhak dari harta itu yang pertama justru Allah SWT. 

واعْلَمُوا أنَّما غَنِمْتُمْ مِن شَيْءٍ فَأنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ

Dan ketahuilah bahwa harta yang kamu rampas dari perang itu sesungguhnya merupakan hak Allah SWT seperlimanya (QS. Al-Anfal : 41)

Maka menjadi wajar kalau perbuatan orang-orang munafik yang menipu Rasulullah SAW itu pada dasarnya mereka sedang menipu Allah SWT juga.

Umumnya kita membaca lafadz ini dengan bacaan yakhda'una (يخدعون), namun sebagian ulama qiraat ada yang membacanya berbeda, yaitu yukhadi'una (يخادعون). Diantaranya adalah Nafi, Ibnu Katsir dan Abu 'Amr. Sedangkan yang lainnya membaca yakhda'una seperti yang tertulis di mushaf yang kita kenal. 

Lalu apakah perbedaan bacaan ini berpengaruh kepada perbedaan makna? 

Jawabnya dalam hal ini berpengaruh pada perbedaan makna, meskipun punya asal akar kata yang sama, yaitu khada'a sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya. Lalu perbedaannya bahwa pada lafadz yukhadi'una (يخادعون) ada makna saling melakukan tipu daya, seolah-olah mereka menipu Allah SWT dan Allah SWT pun menipu mereka atau membalas tipu daya mereka.

Sedangkan bila dibaca yakhda'una (يخدعون), maka pekerjaan menipu itu terjadi tanpa ada balasan dan tidak saling melakukan, namun hanya pekerjaan yang dilakukan sepihak saja. Maknanya jadi lebih kuat, karena seolah-olah tidak diladeni oleh Allah SWT. Mereka melakukan tipu daya kepada Allah, namun tipu daya itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa dan mereka akan kelelahan sendiri, sementara Allah SWT sama sekali tidak membalas tipu daya mereka.

Ibarat anak bau kencur petantang petenteng sok mengajak bertarung seorang pendekar silat. Sudahlah si anak bau kencur ini memperagakan jurus-jurus andalannya, namun sama sekali serangannya hanya memukul angin, sama sekali tidak kena dan akhirnya malah dia sendiri kecapean dan jatuh tak berdaya. Sama sekali tidak diladeni bahkan diilirik pun tidak. 

Kondisi seperti ini jelas jauh lebih meyakitkan ketimbang kalah dengan mendapatkan pukulan balasan, setidaknya masih ada perlawanan. Tapi kalau dia yang memukul tapi dia sendiri yang jatuh, jelas peristiwa itu sangat memalukan dan sama sekali tidak punya muka. 

Yasy'urun berasal dari kata sya'ara (شعر) yang artinya merasakan dengan menggunakan indera secara fisik.

Padahal ketidak-merasaan mereka bukanlah sesuatu yang sifatnya fisik, melainkan sesuatu yang sifatnya nilai-nilai. Penggunaan sya'ara dalam konteks meminjam (isti'arah) agar mendapatkan makna lebih kuat lagi, seolah mereka secara fisik pun tidak merasakan apa-apa.

Dikatakan bahwa mereka tidak merasakan atau tidak menyadari bahwa pada dasarnya mereka tidak menipu Allah atau menipu Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka hanya menipu diri mereka sendiri, hanya saja mereka tidak merasakan atau tidak menyadari hakikatnya.

Oleh karena itu kalau dikaitkan dengan lafadz sesudahnya dimana Allah SWT sebutkan bahwa mereka hanya menipu diri sendiri tapi mereka tidak merasakannya, jelas bacaan yakhda'una lebih sesuai. 

وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ

Dan mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri.

Lafazh yakhda'una lebih sesuai dengan lafadz berikutnya yaitu menjadi menipu diri sendiri, ketimbang menggunakan lafadz yukhadi'una, karena maknanya akan menjadi janggal :  'Saling menipu diri sendiri'. Yang lebih tetap adalah : 'menipu diri sendiri'.

TAFSIR WAJIZ

Mereka menduga, dengan mengatakan seperti itu, telah berhasil menipu Allah dengan menganggap Allah tidak mengetahui rahasia yang mereka sembunyikan, padahal Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak; dan mereka juga merasa telah berhasil menipu orang-orang yang beriman, dengan berpura-pura beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Sebab akibat buruk perbuatan mereka itu, cepat atau lambat, akan kembali kepada mereka sendiri.

TAFSIR TAHLILI

Orang munafik itu menipu Allah, dengan cara menipu Rasul-Nya yaitu Muhammad saw. Menipu Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin ialah dengan memperlihatkan iman, kasih sayang dan menyembunyikan permusuhan dalam batin. Mereka bergaul dengan kaum Muslimin, untuk memata-matai mereka dan kemudian menyampaikannya kepada musuh-musuh Islam. Mereka menyebarkan permusuhan dan fitnah, untuk melemahkan barisan kaum Muslimin.

Usaha kaum munafik itu gagal dan sia-sia. Hati mereka bertambah susah, sedih dan dengki, sehingga pertimbangan-pertimbangan yang benar dan jujur untuk menilai kebenaran semakin lenyap dari mereka. Mereka sejatinya bukanlah menipu Allah, Rasul-Nya dan para mukminin, tetapi mereka menipu diri mereka sendiri.

Akibatnya, perbuatan mereka itu akan menimpa diri mereka sendiri, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Kesadaran merupakan daya jiwa untuk menanggapi sesuatu yang tersembunyi, yang tersirat dari yang nyata atau yang tidak nyata.

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili