Kemenag RI 2019:Sementara itu, orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan Dia berikan pahala mereka dengan sempurna. Allah tidak menyukai orang-orang zalim. Prof. Quraish Shihab:
Sedang orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Dia akan memberi mereka dengan sempurna pahala amal-amal mereka; Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, makaAllah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amal-amal mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.
Prof. HAMKA:
Dan adapun orang-orang yang beriman dan rnengamalkan perbuatan-perbuatan yang saleh maka akan Dia sempumakan ganjaran-ganjaran mereka. Dan, Allah tidaklah suka kepada orangorang yang aniaya.
Lafazh wa ammalladzina (وَأَمَّا) diterjemahkan oleh Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA menjadi : adapun, sedangkan Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : sementara itu.
Lafazh alladzina amanu (الَّذِينَ آمَنُوا) artinya : orang-orang yang beriman. Kalau dikaitkan dengan dari orang-orang kafir yang disebutkan sebelum ayat ini, maka dalam konteks ayat ini, mereka tidak lain adalah para pengikut Nabi Isa alaihissalam.
Namun ayat ini bisa juga berlaku secara umum, tidak hanya terkait dengan kisah pembunuhan Nabi Isa alaihissalam.
Lafazh wa amilush-shalihat (وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ) diterjemakan oleh Kemenag RI menjadi : “dan beramal shalih”. Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “dan mengerjakan amal-amal saleh”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “dan rnengamalkan perbuatan-perbuatan yang saleh”.
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan ternyata iman saja tentu tidak cukup, tapi harus juga ada usaha yang disebut dengan ‘amal shalih’.
Sekilas memperhatikan ungkapan iman dan amal shalih, ayat ini nampak membedakan antara iman secara konsepsi, dengan amal shalih yang didasari dengan iman. Dan ini bisa diterima karena kadang ada juga pengertian iman yang didalamnya sudah terkandung amal.
Lalu apakah yang dimaksud dengan amal shalih?
Ibnu Abbas sebagaimana dikutipkan oleh Ath-Thabari mengatakan maknanya adalah : mengerjakan faraidh atau kewajiban-kewajiban agama, menjalankan syariat Allah dan melaksanakan sunnah nabinya.
Intinya amal shalih itu segala perbuatan baik yang melahirkan pahala di sisi Allah. Kalau dibagi lagi, maka bisa kita rinci bahwa amal shalih ada yang sifatnya ritual peribadatan seperti shalat, puasa, umrah, haji, dan lainnya.
Namun ada juga yang sifatnya non-ritual ibadah seperti segala yang halal dan diridhai Allah SWT serta membawa kemashlahatan baik kepada diri sendiri atau pun orang lain.
فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ
Lafazh fa yuwaffii-him (فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ) asalnya dari (وفّضى – يُوَفِّي - وفاء) artinya menunaikan dengan sempurna. Sebagaimana firman Allah SWT tentang Nabi Ibrahim yang menunaikan janjinya :
وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ
dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (QS. An-Najm : 37)
Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia bisa berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “akan Dia berikan pahala mereka dengan sempurna”.
Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amal-amal mereka”.
Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “akan Dia sempurnakan ganjaran-ganjaran mereka”.
Yang jadi pertanyaan adalah : apa yang dimaksud dengan pahala atau ganjaran yang sempurna? Dan apakah ada pahala atau ganjaran yang tidak sempurna?
Boleh jadi, wallahu a’lam, kalau diperiksa dengan teliti dan cermat, ada saja amal-amal kita yang tidak sempurna. Namanya juga usaha manusia, tentunya disana sini pasti ada kekurangannya. Entah motivasinya yang kurang murni, atau memang bercampur-campur dengan motivasi yang lain.
Atau bisa juga ada sisi-sisi kelemahan dalam beribadah, tidak khusyu’, tidak sempurna, tidak terpenuhi makna dan hikmah di balik tiap amal ibadah.
Semua amal itu kalau mau dicari-cari kesalahannya dan diperiksa dengan cara seperti dosen ‘killer’, pastinya tidak akan bisa lulus. Setidaknya akan mengurangi nilai yang dihasilkan.
Disinilah kemudian Allah SWT menegaskan bahwa pahala-pahala mereka tidak akan dikurangi. Tetap akan diberikan secara utuh tanpa ada pengurangan sedikit pun, walaupun yang kita kerjakan tidak sempurna.
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Lafazh wallahu la yuhibbu (وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ) artinya : Dan Allah tidak menyukai.
Sedangkan azh-zhalimin (ظَالِمِينَ) maknanya : “Orang-orang yang melakukan kezhaliman” . Kata dasar dari zhalim ini adalah zhulmun (ظُلْمٌ) yang artinya kegelapan sebagaimana firman Allah SWT (اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ). Namun secara hakikinya, zhulm itu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Allah SWT Maha mengetahui bahwa orang-orang yahudi itu banyak sekali melakukan berbagai jenis kezhaliman. Ayat-ayat Al-Quran yang turun kepada Nabi Muhammad SAW cukup banyak bercerita tentang berbagai bentuk kezaliman mereka. Ibaratnya kartu mati orang-orang Yahudi sudah ada di tangan Nabi Muhammad SAW.
Yang jadi pertanyaan adalah kenapa ayat ini ditutup dengan penggalan bahwa Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang zhalim? Padahal ayat ini sedang bicara tentang orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa mereka akan disempurnakan ganjaran pahalanya. Lalu kenapa tiba-tiba Allah SWT seperti pindah channel membicarakan ketidak-sukaannya dengan orang-orang zhalim.
Kenapa tidak disebutkan tentang orang zhalim ini ketika sedang membicarakan orang kafir di ayat sebelumnya?
Jawabannya -wallahua a’lam- bahwa tindakan yang zhalim itu bisa saja terjadi bahkan pada diri orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Setidaknya kalau tidak menzhalimi orang lain, yang sering terjadi adalah menzhalimi diri sendiri.
Bahkan beberapa nabi yang pernah diutus pun mengucapkan dalam dzikir mereka bahwa mereka termasuk orang yang zhalim.
Nabi Adam alaihissalam dan istrinya sama-sama mengakui bahwa diri mereka berdua telah berlaku zhalim. Hal itu tercermin dalam doa mereka berdua.
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-Araf : 23)
Begitu juga dengan Nabi Yunus yang sedang di dalam perut ikan. Beliau berdizikir dengan mengakui perbuatan zhalim yang telah dilakukannya :
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim". (QS. Al-Anbiya : 87)
Maka meski ayat ini sepertinya sekedar hanya mengatakan bahwa Allah tidak suka dengan orang-orang yang berlaku zhalim, namun makna yang terkandung di dalamnya adalah larangan agar jangan berlaku zhalim.
Disisi lain boleh jadi juga -wallahu a’lam- bahwa yang dimaksud dengan berlaku zhalim bukanlah orang yang beriman dan beramal shalih, tetapi akan keturunannya yang lahir dari mereka di masa depan, boleh jadi mereka ada yang zhalim.
Beberapa ayat Al-Quran menceritakan tentang lahirnya keturunan yang zhalim dari orang yang beriman, bahkan dari para keturunan nabi.
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir : 32)
Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (QS. Ash-Shaffat : 113)
Oleh karena itu ayat ini sebenarnya bicara tentang perintah untuk mendidik anak-anak keturunan agar menjadi orang yang shalih.