قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?”
Katakanlah: "Wahai Ahlal-Kitab, mengapa kamu terus-menerus mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?"
Katakanlah: Wahai Ahlul Kitab! Mengapa kamu tidak peraya kepada ayat-ayat Allah itu, padahal Allah menyaksikan apa-apa yang kamu kerjakan?
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Kata qul (قُلْ) adalah fi’il amr yang asalnya dari (قَالَ - يَقُول) yang artinya : katakanlah. Allah SWT perintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berkata atau menjawab kepada lawan debatnya, yaitu kalangan ahli kitab, baik orang-orang Yahudi atau pun Nasrani.
Lafazh li-ma (لِمَ) terdiri dari dua unsur, yaitu li (لـِ) dan kata maa (ما), merupakan sebuah pertanyaan yaitu mengapa.
Kata takfuruna (تَكْفُرُونَ) merupakan fi’il mudhari’ yang artinya kafir dalam arti bukan Islam, bisa diterjemahkan murtad keluar dari agama Islam. Namun dalam kontens ayat ini nampaknya lebih tepat bila diterjemahkan menjadi : meningkari. Bahkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : tidak percaya.
Kemenag RI menambahkan dengan ungkapan : terus menerus, sebab bentuknya berupa fi’il mudhari’. Dan kalau mengingkarinya bersifat terus menerus, berarti yang diingkari bukan satu dua hal, melainkan banyak hal sudah mereka ingkari.
Kata bi-aayaatillah (بِآيَاتِ اللَّهِ) secara bahasa artinya : ayat-ayat Allah. Maknanya bisa merupakan kitab-kitab suci samawi. Namun kata ayat bisa juga berarti berbagai mukjizat yang kasat mata.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat Allah adalah kenabian Muhammad SAW.
Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) artinya : dan Allah, sedangkan kata syahid (شَهِيدٌ) artinya adalah saksi. Dan ungkapan ‘ala ma ta’malun (عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ) artinya : atas apa yang kamu lakukan.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini sebenarnya merupakan sindirian yang cukup dalam bagi kalangan yahudi atau nasrani atas kekufuran mereka.
Memang bukan berupa ancaman siksa di neraka. Adanya ancaman namun cukup halus.