Kata man kaana (مَنْ كَانَ) artinya : siapa yang. Kata yuridu (يُرِيدُ) artinya : menginginkan. Kata tsawabad-dunya (ثَوَابَ الدُّنْيَا) artinya : balasan dunia.
Sebenarnya secara lahiriyah, kalimat ini tidak terutlis semua secara lengkap. Sebab yang dimaksud dari penggalan ini maksudnya adalah orang-orang yang hanya menginginkan balasan yang sifatnya duniawi saja. Sedangkan balasan ukhrawi mereka tidak mengharapkan, karena sebab yang paling mendasar, yaitu mereka sendiri memang tidak percaya adanya kehidupan akhirat.
Yang sedang dibicarakan ini nampaknya adalah kaum musyrikin Arab, dimana mereka sebenarnya beragama dan bertuhan, bahkan menyembah Allah SWT. Mereka bahkan menyebut nama Allah SWT sebagai nama Tuhan yang mereka sembah. Ka’bah yang mereka bangga-banggakan itupun mereka sebut sebagai rumah Allah alias baitullah.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al-Ankabut : 61)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS. Al-Ankabut : 63)
Bahkan Al-Quran sendiri menyebutkan bahwa mereka tetap melakukan shalat dan ibadah kepada Allah SWT. Walaupun bentuknya sudah menyimpang dari yang seharusnya.
وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal : 35)
Hanya saja yang jadi masalah, sayangnya mereka sama sekali tidak percaya kepada rukun iman yang lain selain percaya kepada Allah. Dan khususnya mereka tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Artinya mereka ingkar terhadap keberadaan akhirat.
Hal itu tercermin dalam beberapa ayat Al-Quran, antara lain ayat-ayat berikut :
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan". (QS. Al-Anam : 29)
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. An-Nahl : 38)
وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" (QS. Al-Isra : 49)
إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. (QS. Al-Mukminun : 37)
Lafazh wakaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah itu. Lafazh sami’an (سَمِيعًا) artinya : Maha Mendengar. Lafazh bashira (بَصِيرًا) artinya : Maha Melihat.
Meskipun penggalan ini seperti kalimat berita, namun hakikat yang sesungguhnya justru merupakan perintah, setidaknya anjuran agar melakukan perintah dan nasihat Allah, karena Dia Maha Mendengar segala yang terdengar dan Maha Melihat segala yang terlihat. Dia akan memberikan balasan atas apa yang kalian perbuat.
Ada pula makna lain yang halus di sini, yaitu ketika Allah memerintahkan untuk memutuskan hukum dengan adil dan menunaikan amanat dalam ayat-ayat ini, Dia menutupnya dengan firman-Nya: ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴾, yang artinya jika kamu memutuskan dengan adil, Allah mendengar segala keputusanmu. Jika kamu menunaikan amanat, Allah melihatnya. Tidak diragukan bahwa ini adalah alasan terbesar untuk janji kepada orang yang taat dan ancaman bagi orang yang durhaka.
Hal ini sebagaimana isyarat yang terdapat dalam sabda Nabi SAW:
اعْبُدِ اللَّهَ كَأنَّكَ تَراهُ فَإنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فَإنَّهُ يَراكَ
"Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Ada pula makna lain yang halus, yaitu semakin besar kebutuhan seorang hamba, semakin sempurna pula perhatian Allah kepadanya.
Para hakim dan pemimpin diberikan tanggung jawab oleh Allah untuk mengatur kemaslahatan hamba-hamba-Nya, sehingga perhatian terhadap keputusan dan penghakiman mereka lebih besar. Allah Maha Suci dari kelalaian, lupa, atau ketidaksempurnaan dalam melihat atau mendengar. Seandainya ketidaksempurnaan itu mungkin terjadi, waktu yang paling patut dijaga dari kelalaian dan lupa adalah saat para pemimpin dan hakim memutuskan hukum.
Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan firman-Nya yaitu sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, yang menunjukkan betapa indahnya penutup yang sesuai dengan pembukaan ayat ini.