Ayat ke-87 ini kental sekali kandungannya dengan masalah fundemental akidah dasar dengan dua objek utama.
Pertama, tema keimanan kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada Tuhan selain Dia.
Kedua, tema terkait keimanan kepada hari kebangkitan dari kematian alias hari kiamat yang tidak ada keraguan akan terjadinya, bahwa di hari itu umat manusia semua akan dikumpulkan di padang Mahsyar.
Penggalan awal yang memulai ayat ini merupakan kalimat atau jumlah ismiyah yang terdiri dari kata Allah (اللَّهُ) sebagai mubtada’ dan kata-kata laa ilaha illa huwa (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ) sebagai khabar. Maknanya menajdi : “Allah itu adalah tidak ada tuhan selain Dia”.
Ada juga yang berkata bahwa lafazh Allah (اللَّهُ) adalah lafzhul jalalah yang posisinya dalam kalimat menjadi mubtada’ pertama, sedangkan lafazh (لَا إِلَٰهَ) yang berarti ‘tidak ada tuhan’ menjadi mubtada’ kedua. Namun yang menjadi khabarnya justu tidak tertulis alias mahdzuf dengan taqdir : (مَعْبُود) yang disembah atau (مَوْجُود) yang wujud. Sedangkan lafazh (إِلَّا هُوَ) menjadi badal dari la ilaha.
Ungkapan laa ilaaha illa huwa (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ) menjadi dasar keimanan umat Nabi Muhammad SAW, bahkan dijadikan dasar pedoman dan ukuran, apakah seseorang dianggap matinya dalam keadaan beriman atau tidak, sebagaimana sabda Nabi SAW :
مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Orang yang di akhir perkataannya : tiada Tuahn selain Allah, maka dia masuk surga (HR. Abu Daud)
Yang perlu diperhatikan adalah bagian yang menyebutkan : (آخِرَ كَلَامِهِ) yaitu perkataan akhirnya. Tidak mengapa seseorang itu pernah jadi orang kafir, yang penting bagian akhirnya dia beriman. Dan yang dimaksud bagian akhir adalah ketika dia meninggal dunia.
Al-Qurtubi menyebutkan bahwa lafazh ini terdiri dari dua unsur. Pertama lafazh (لَا إِلَٰهَ) merupakan pengingkaran alias nafyi. Kedua lafaz (إلَّا هُو) merupakan penetapan atau itsbat.
Kata la-yajma’anna-kum (لَيَجْمَعَنَّكُمْ) cukup unik karena terdiri dari beberapa unsur :
Pertama : huruf lam (لَ), yang disebut dengan lam al-qasam atau yang fungsinya untuk sumpah yang menandakan bahwa suatu peristiwa akan terjadi dengan pasti dan tidak dapat dihindari. Seolah-olah sebelumnya adalah kata : Demi Allah (واللهِ).
Kedua, kata yajma’a (يَجْمَعَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, asalnya dari (جَمَعَ يَجْمَعُ) yang maknannya menggabungkan, mengumpulkan, menyatukan.
Ketiga, huruf nun (نَّ) bertasydid yang menempel di belakang fi’il mudhari’ merupakan huruf ta’kid yang memberikan kekuatan makna dari kata sebelumnya (حرف تأكيد يعطي قوة ومعنى إضافي للفعل).
Keempat, dhamir kum (كُم) yang menjadi maf’ul bihi atau objek dari fi’il mudhari ini
Secara umum, penggalan ini diterjemahkan menjadi : “Sungguh, Dia pasti mengumpulkan kamu pada hari Kiamat”. Namun yang dimaksud dengan mengumpulkan adalah membangkitkan kalian dari kubur-kubur kalian dan mengumpulkan kalian untuk dihisab pada Hari Kiamat di tempat yang sama, kemudian Dia akan membalas setiap amal perbuatan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.". Sebagaimana firman Allah SWT :
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا
Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya. (QS. Al-Anam : 22)
ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ
Itulah hari yang pada saatnya manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan oleh semua makhluk.(QS. Hud : 103)
Yang menarik disebutkan bahwa semua manusia yang pernah hidup di dunia, sejak dari masa awalnya hingga masa akhirnya, semuanya akan dikumpulkan menjadi satu. Gambaran ini kita dapatkan dari surat Al-Waqiah :
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لَمَجْمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ
Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal. (QS. Al-Waqiah : 49-50)
Kita tidak bisa menebak ada berapa jumlah manusia sejak Nabi Adam alaihissalam hingga akhir dunia. Yang tahu hanya Allah SWT saja, sebagaimana ditegaskan dalam surat Maryam :
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (QS. Maryam : 93-95)
Di dalam surat Al-Kahfi Allah SWT menggambarkan pemandangan yang unik, yaitu barisan panjang umat manusia yang menuju kepada Allah. Meskipun sebagian besar jasad-jasad sudah rusak, jadi tanah bahkan bisa disebut sudah punah, namun atas kehendak Allah SWT, mereka dihidupkan kembali sesuai dengan tubuh yang pernah Allah SWT berikan kepada masing-masing mereka. Kita ketahui itu dari apa yang ceritakan dalam surat Al-Kahfi.
وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama. (QS. Al-Kahfi : 48)
Satu per satu semua individu manusia akan diadili, dengan diawali dengan pemberian bukti-bukti dosa dan kesalahan mereka sepanjang hidup. Diperlihatkan saat itu semua catatan amal masing-masing.
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS. Al-Kahfi : 49)
Kata yaumul qiyamah (يَوْمِ الْقِيَامَةِ) umumnya diterjemahkan menjadi : hari kiamat. Tentu saja ini terjemahan yang sangat harfiyah, sebab kiamat itu terjadinya bukan dalam waktu satu hari. Makna yaum dalam hal ini jangan dipahami ukuran waktu 24 jam. Tetapi harus dipahami sebagai masa atau kurun waktu tertentu dari sekian banyak kurun-kurun yang panjang.
Salah satu kerancuan berpikir yang sering kita alami adalah ketika membayangkan hari kiamat sebagai hari kehancuran alam semesta. Padahal fokusnya bukan saat kehancuran alam semesta, justru apa yang akan terjadi setelah semua itu berakhir.
Kata qiyamah (الْقِيَامَةِ) itu sendiri jika kita telusuri secara bahasa, asalnya dari kata (قَامَ يَقُوم ٌِيَام) yang artinya berdiri atau bangkit. Maka terjemahan yang lebih presisi tentang istiah kiamat bukan pada episode kehancuran alam semesta, tetapi fokusnya justru pada kebangkitan dari kematian. Sebagaimana firman Allah SWT yaitu :
ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 56)
Kalau urusan kehancuran alam semesta, banyak ilmuwan dan pakar sains yang meyakininya. Tanpa lewat jalur keimanan sekalipun, tidak terlalu sulit untuk meyakini akan adanya kehancuran.
Namun yang jadi rukun iman itu bukan kehancurannya, melainkan justru pada sisi kebangkitannya. Dan pada titik kebangkitan kembali dari kematian inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir musyrikin Mekkah.
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. An-Nahl : 38)
Di ayat lain Allah SWT juga menegaskan bahwa hari kiamat itu konteksnya adalah kebangkitan dari kematian.
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS. Al-Mukminun : 16)
Akhir-akhir ini memang banyak bermunculan fenomena kajian ‘akhir zaman’, namun jika diperhatikan ternyata yang jadi fokusnya malah berputar-putar sebatas hanya pada kejadian-kejadian unik menjelang kiamat. Bahkan bukan kejadian kehancuran alam semestanya itu sendiri.
Yang difokuskan sebatas tanda-tanda kiamat, yang nyaris semua sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan sebagiannya malah sudah nampak ketika Nabi SAW masih hidup. Bahkan diutusnya Nabi SAW sendiri adalah bagian dari tanda-tanda akhir zaman itu sendiri.
بُعِثْتُ وَالسَّاعَةِ كَهَاتَينِ
Aku diutus dan jarakku dengan saat kiamat seperti kedua jariku ini. (HR. Bukhari Muslim)
Kadang yang dibahas isu-isu yang sukar dipahami terkait munculnya tokoh-tokoh misteri dan selalu jadi bahan perdebatan tidak ada ujungnya seperti Imam Mahdi, Dajjal, atau Nabi Isa.
Atau juga isu-isu terkait perang besar al-malhamah ataupun juga terkait peristiwa aneh-aneh yang tidak biasa, seperti munculnya binatang-binatang aneh atau terjadinya peristiwa-peristiwa supranatural, juga sering dikaitkan dengan tanda-tanda akhir zaman.
Padahal hampir seluruh ayat Al-Quran yang bicara tentang kiamat justru lebih fokus kepada kejadian kiamat kubranya, seperti yang tergambar pada surat At-Takwir berikut ini.
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap. (QS. At-Takwir : 1-6)
Namun yang lebih banyak diekspose justru kondisi pasca kiamat kubra yaitu adanya yaumul ba’ts atau hari kebangkitan pasca kematian yang bersifat universal. Kemudian adanya yaumul al-hasyr atau dikumpulkannya seluruh manusia di padang Mahsyar. Ada juga yaumul hisab, dimana semua amal baik dan buruk kita akan dihitung. Ada juga yaumul mizan, kurang lebih sama, yaitu akan ditimbang amal-amal kita.
Kata la raiba (لَا رَيْبَ) artinya tidak ada keraguan. Kata fihi (فِيهِ) artinya : di dalamnya. Maksudnya dalam kepastian akan terjadinya hari Kiamat ataupun juga tidak ada keraguan terkait akan dikumpukannya seluruh manusia dari semua zaman di satu area bersama.
Kalau dikatakan bahwa kiamat itu tidak ada keraguan di dalamnya, nampaknya tepat buat umat ahli kitab yang diturunkan kepada mereka para nabi dan rasul serta juga dilengkapi dengan kitab suci masing-masing. Kepada mereka, tentu saja hari kiamat itu bukan hal yang diragukan lagi.
Namun bagi bangsa Arab dan Mekkah khususnya, mengakui bahwa semua orang yang sudah mati jadi tulang belulang atau bahkan sudah jadi tanah, agak berat di dalam akal logika yang sehat. Makanya untuk mereka ada ayat khusus yang menceritakan, yaitu :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu (QS. Al-Hajj : 5)
Kita bisa memahami kalau bangsa Arab sampai kesulitan dalam meyakini adanya kebangkitan dari kematian. Sebab sejak masa kenabian Ibrahim alaihissalam, mereka tidak pernah disambangi satu pun rasul yang membawa wahyu samawi. Nabi yang terakhir adalah Nabi Ismail alaihissalam. Setelah wafatnya Ismail, praktis bangsa Arab hidup dalam alam kegelapan, dalam arti tidak ada yang datang mengabarkan akan adanya hari akhirat.
Para ilmuwan berbeda-beda dalam memetakan posisi Nabi Ibrahim dan Ismail dalam timeline atau garsi waktu sejarah. Namun yang paling sering disebut-sebut pada angka 2000-an tahun sebelum Masehi. Kalau kita asumsikan Nabi Ibrahim itu hidup di 2000 tahun sebelum Masehi, maka jarak bentangan waktu yang memisahkannya menjadi 26 abad, sampai akhirnya ada lagi nabi yang diutus membawa wahyu samawi dengan berita tentang kehidupan pasca kematian.
Kata wa-man (وَمَنْ) artinya : dan siapa lagi. Kata ashdaqu (أَصْدَقُ) artinya : yang lebih benar. Kata minallah (مِنَ اللَّهِ) artinya : daripada Allah. Kata haditsan (حَدِيثًا) artinya : perkataan.
Meski penggalan yang jadi penutup ayat ini seperti sebuah pertanyaan, namun para ulama banyak yang bilang bahwa ini bukan kalimat tanya, tetapi sebuah pernyataan yang sifatnya menolak.
Intinya bahwa tidak ada yang lebih benar dari Allah dalam kabar-Nya, janji-Nya, dan ancaman-Nya. Hal itu karena mustahil bagi Allah untuk berbohong, karena kebohongan adalah sesuatu yang buruk, yaitu menyampaikan informasi yang bertentangan dengan kenyataannya.