Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, ) Azar, “Apakah (pantas) engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Prof. HAMKA:Dan (ingatlah) tatkala berkata Ibrahim kepada ayahnya Azar, "Adakah patut engkau anggap berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku lihat engkau dan kaum engkau adalah dalam kesesatan yang nyata."
Kata wa idz (وَإِذْ) arti secara hafiahnya adalah : dan ketika. Namun secara makna terkandung makna perintah untuk mengingat yang penampakannya tidak dimunculkan, namun keberadaannya bisa dipahami. Seolah-olah Allah SWT berfirman : “dan (ceritakanlah) ketika”. Adapun versi yang nampak bisa kita baca dalam surat Maryam :
Ceritakanlah kisah Maryam di dalam Kitab ketika dia mengasingkan diri
Nabi Muhammad SAW diperintah oleh Allah SWT untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim kepada orang-orang musyrikin Mekkah. Ini sangat relevan sebab bangsa Arab, khususnya penduduk Mekkah, memang sangat mengenal sosok Nabi Ibrahim. Bahkan mereka mengklaim bahwa mereka adalah keturunan dari Nabi Ibrahim, lewat jalur putera pertama, yaitu Nabi Ismail ‘alaihimassalam.
Kata qaala (قَالَ) artinya : berkata. Kata ibrahimu (إِبْرَاهِيمُ) artinya : Ibrahim.
Nama Ibrahim dikenal sebagai seorang nabi agung yang mendapat gelar khalilullah yang berarti : kekasih Allah. Belau adalah tokoh yang sangat dimuliakan dalam tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen beliau dikenal dengan nama Abraham. Para sejarawan memperkirakan masa hidupnya sekitar abad ke-20 hingga ke-18 sebelum Masehi, yakni antara tahun 2000 sampai 1800 SM.
Beliau lahir di Ur Kasdim, sebuah kota kuno di Mesopotamia, kini berada di Irak bagian selatan. Ada juga riwayat yang menyebutkan tempat kelahirannya di Kutha, dekat Kufah.
Beliau wafat dalam usia lanjut, sekitar 175 tahun menurut tradisi Yahudi dan Kristen. Tempat wafatnya diperkirakan di kota Hebron, yang kini dikenal sebagai Al-Khalil, Palestina. Makamnya berada di Gua Makhpela, yang sekarang dikenal dengan sebutan Masjid Ibrahimi.
Nabi Ibrahim dikenang sebagai pejuang paham monoteisme, yaitu konsep Tuhan hanya satu atau Esa. Beliau menolak konsep ketuhanan yang berbilang alias polythiesme, paham keberhalaan dan konsep banyak dewa.
لِأَبِيهِ آزَرَ
Kata li-abiihi (لِأَبِيهِ) artinya : kepada bapaknya. Kata aazara (آزَرَ) artinya : Azar. Para ulama berbeda pendapat tentang siapa atau apa yang dimaksud dengan Azar dalam ayat ini. Kebanyakan mengatakan Azar adalah nama ayahnya.
Al-Baghawi dalam tafsir Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[1] mengutip pendapat dari Muhammad bin Ishaq, Adh-Dhahhak, dan Al-Kalbi, yang menyebutkan bahwa Azar adalah nama ayah Nabi Ibrahim. Selain itu Azar dikenal dengan nama lain yaitu Tarikh. Sebagaimana Nabi Ya‘qub yang juga disebut Israel. Sementara itu, menurut Muqatil bin Hayyan dan beberapa ulama lain, Azar bukanlah nama asli, melainkan hanya sebuah julukan bagi ayah Ibrahim. Nama aslinya tetap Tarikh.
Pendapat lain datang dari Sulaiman At-Taimi yang menilai bahwa kata Azar sebenarnya bermakna celaan atau aib. Dalam bahasa mereka, istilah itu berarti “yang bengkok” atau “tidak lurus.” Ada juga yang berpendapat bahwa dalam bahasa Persia, Azar berarti “orang tua yang lemah.”
Yang agak sedikit berbeda adalah pendapat Sa‘id bin Al-Musayyab dan Mujahid. Menurut mereka berdua, kedudukan kata azar (آزَرَ) tidak mengacu kepada nama ayah dari Ibrahim, tetapi justru nama sebuah berhala. Dalam pandangan demikian, maka makna ayat ini adalah : “Apakah engkau menjadikan Azar sebagai tuhan?”
Oleh karena itu menarik jika kita buka tafsir karya Al-Mawardi, An-Nukat wa Al-‘Uyun[2], disana Beliau kumpulkan tiga pendapat berbeda tentang apa atau siapa nama azar ini :
1. Nama ayah Nabi Ibrahim : Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan, As-Suddi, dan Muhammad bin Ishaq.
2. Nama berhala : sedangkan nama ayah beliau sebenarnya adalah Tarikh. Pandangan ini disampaikan oleh Mujahid.
3. Kata Celaan : karena bermakna bengkok atau menyimpang, seakan-akan Nabi Ibrahim mencela ayahnya karena berpaling dari kebenaran. Pendapat ini dinukil dari Al-Farra’.
أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً
Kata a tattakhidzu (أَتَتَّخِذُ) artinya : apakah engkau menjadikan. Kata ashnaaman (أَصْنَامًا) artinya : berhala-berhala. Kata aalihatan (آلِهَةً) artinya : sebagai tuhan-tuhan.
Kata ashnam (أَصْنَام) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu shanam (صَنَم) yang berarti bentuk atau gambar tiruan yang dibuat menyerupai sesuatu. Biasanya berupa patung atau ukiran yang menyerupai manusia, hewan, atau makhluk lain.
Kata ini ada punya kemiripan dengan watsan (وثن) atau bentuk jamaknya autsan (أوثان).
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ
Maka jauhilah najis (berhala) yang berasal dari segala awtsān (berhala-berhala) itu. (QS. Al-Hajj : 30)
Namun maknanya lebih umum, yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allah. Tidak harus berupa patung, tetapi bisa saja berupa batu besar, pohon, gunung, benda keramat, keris atau benda lain. Sedangkan makna shanam (صَنَم) adalah patung.
Ada lagi di dalam Al-Quran kata yang sedikit tumpang tindih dengan keduanya, yaitu timtsal (تمثال), bentuk jamaknya tamatsil (تماثيل). Kata ini seringkali juga dimaknai sebagai patung, arca, atau setidaknya gambar tiruan. Dalam surat Saba’, Allah SWT menceritakan tentang Nabi Sulaiman alaihissalam yang punya jin yang nampu mendirikan bangunan dan patung-patung.
Mereka (para jin) membuat untuknya apa yang ia kehendaki berupa gedung-gedung dan patung-patung. (QS. Saba : 13)
Banyak ulama yang menyatakan bahwa kata timtsal di ayat ini tidak ada hubungannya dengan ibadah atau kemusyrikan, melainkan hanya benda buatan untuk keindahan.
Masih ada lagi istilah yang kurang lebih saling terkait yaitu nushub(نُصُب), bentuk jamaknya adalah anshab (أنصاب). Bisa diterjemahkan sebagai berhala juga, namun makna aslinya adalah batu tegak atau tugu yang dipasang dan dijadikan tempat persembahan, biasanya untuk menyembelih hewan. Biasanya dipakai untuk ritual pagan Arab jahiliyah, mereka melumurinya dengan darah hewan qurban.
وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ
Dan apa yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala. (QS. Al-Ma’idah : 3)
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. (QS> Al-Maidah : 90)
Al-Quran juga menyinggung orang yang menyembah ath-thaghut (الطَّاغُوتَ):
Orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut. (QS. Al-Maidah : 60)
Khusus dalam kisah Bani Israil, mereka dikisahkan pernah menyembah patung emas yang dibentuk mirip anak sapi buatan Samiri. Malahan patung ini bisa bersuara, disebutkan dalam Al-Quran sebagai ‘ijl ( عِجْل).
kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa". (QS. Thaha : 88)
Rangkumannya bisa kita lihat pada tabel berikut ini :
Istilah
Keterangan
Ayat
Shanam
Patung yang dibuat manusia, biasanya digunakan untuk berhala yang dipahat lalu disembah
أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً
Watsan
Berhala tidak terbatas pada patung, bisa batu, kayu, atau benda alam lainnya
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ
Timtsal
Tiruan, patung, replika. Digunakan untuk patung hiasan yang dibuat jin bagi Nabi Sulaiman
Berhala khusus buatan Samiri berupa patung anak sapi terbuat dari emas yang bisa bersuara
فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ
إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Kata inni (إِنِّي) artinya : sesungguhnya aku. Kata araaka (أَرَاكَ) artinya : melihatmu. Kata wa qaumaka (وَقَوْمَكَ) artinya : dan kaummu. Kata fii dhalaalin (فِي ضَلَالٍ) artinya : dalam kesesatan. Kata mubiin (مُبِينٍ) artinya : yang nyata.
Dalam literatur tafsir disebutkan bahwa Azar, ayah Nabi Ibrahim, konon dikenal sebagai pembuat berhala. Beberapa mufassir, seperti dalam Tafsir al-Qurthubi dan Tafsir Aht-Thabari, disebutkan bahwa Azar adalah seorang shani’ul al-ashnam, yakni pembuat patung atau berhala. Ibrahim kecil kerap melihat ayahnya membuat patung-patung, dan hal ini menjadi latar belakang awal mula penentangan Ibrahim terhadap kesyirikan.
Selain itu, ada riwayat yang menyebut bahwa Azar bukan hanya membuat patung, tetapi juga menjualnya. Konon Ibrahim kecil pernah disuruh ayahnya menjual patung di pasar, tetapi Ibrahim malah mengolok-oloknya dengan cara menjatuhkan patung atau menyindir pembeli, mengatakan bahwa benda yang dijual ayahnya itu tidak bisa memberi manfaat atau mudarat.
Namun, ada pula pendapat yang menegaskan bahwa Azar hanyalah penyembah berhala dan bukan pembuat atau penjualnya. Dalam Al-Qur’an sendiri, profesi Azar tidak dijelaskan secara eksplisit. Yang ditegaskan hanya bahwa Azar adalah orang yang menyembah berhala, seperti ketika ia berkata kepada Ibrahim :
“Apakah engkau berpaling dari tuhan-tuhanku?” (QS. Maryam: 46).
Dengan demikian, gambaran bahwa Azar adalah pembuat atau penjual patung berhala lebih banyak berasal dari riwayat tafsir dan kisah tambahan (Isra’iliyyat), sedangkan Al-Qur’an hanya menekankan bahwa ia seorang penyembah berhala.