Kemenag RI 2019:Orang-orang kafir dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Akan tetapi, secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah pemilik karunia yang besar. Prof. Quraish Shihab:Orang-orang yang kafir dari Ahlul Kitab³? dan orang-orang musyrik (penyembah berhala di Mekkah) tidak senang dengan diturunkannya sedikit kebaikan (pun) kepada kamu (kaum Muslim) dari Tuhan Pemelihara kamu, dan Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya (sesuai dengan kuasa dan kebijaksanaan-Nya) dan Allah Pemilik karunia yang agung. Prof. HAMKA:Tidaklah suka orang-orang kafir dari ahlul kitab itu dan tidak pula orang musyrikin bahwa akan diturunkan kepadamu barang sesuatu kebaikan daripada Tuhan kamu. Padahal Allah mengkhususkan rahmat-Nya kepada barang siapa yang dikehendaki, dan Allah adalah mempunyai karunia yang luas.
Lafazh maa yawaddu (مَا يَوَدُّ) bermakna : tidak menginginkan, tidak senang atau tidak menyukai. Asalnya dari kata wudd (وُدّ) yang bisa dikembangkan menjadi banyak bentuk, salah satunya mawaddah (مَوَدَّة) yang bermakna kasih sayang, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat firman Allah SWT.
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. (QS. Ar-Rum : 21)
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. (QS. Al-Mumtahanah : 7)
Sedangkan yang dimaksud dengan alladzina kafaru (الَّذِينَ كَفَرُوا) maknanya adalah orang-orang kafir. Sehingga secara keseluruhan awal ayat ini bermakna bahwa orang-orang kafir tidak suka atau tidak senang.
مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ
Lafazh min ahlil kitab (مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ) artinya : dari kalangan ahli kitab, maksudnya adalah orang-orang Yahudi dan juga Nasrani. Sebenarnya semua umat terdahulu yang turun kepada mereka nabi dan kitab suci termasuk ke dalam sebutan ahli kitab. Namun yang masih tersisa secara nyata di masa kenabian Muhammad SAW hanya tinggal Yahudi dan Nasrani saja, sehingga sebutan ahli kitab akhirnya hanya identik dengan dua agama itu saja.
Agama yang mengenal konsep kenabian dan turunnya kitab suci samawi juga dikenal sebagai agama samawi atau kadang disebut dengan agama Ibrahimiyah, sebab baik Yahudi, Nasrani dan Islam, sama-sama masih keturunan Nabi Ibrahim alaihissalam.
Adapun lafazh al-musyrikin (الْمُشْرِكِينَ) secara makna harfiyah artinya adalah orang-orang musyrik, yaitu orang yang menyekutukan Allah SWT dengan tuhan-tuhan yang lain. Namun yang dimaksud dalam ayat ini para pemeluk agama keberhalaan yang tidak mengenal sistem kenabian dan konsep kitab suci yang turun dari langit. Yang termasuk kafir jenis ini adalah penduduk Mekkah, Madinah, Thaif dan juga para penghuni gurun pasir di sepanjang jazirah Arabia.
Sedangkan dari kalangan non Arab, yang termasuk agama syirik dan banyak bersentuhan adalah orang-orang Persia yang memeluk agama Majusi yang menyembah api. Kadang jenis agama ini juga disebut dengan agama non-samawi.
Ciri utamanya mereka tidak mengenal konsep dasar rukun iman yang enam, yaitu tidak mengenal konsep malaikat, nabi, kitab suci, atau dengan kata lain tidak mengenal turunnya risalah samawi. Dan satu lagi yang juga tidak mereka miliki adalah kepercayaan tentang konsep hari kiamat, hari akhir atau kehidupan akhirat pasca kehidupan duniawi. Dalam pandangan mereka, kehidupan dunia ini hanyalah sekali saja dan tidak ada yang namanya alam akhirat, alam barzakh, apalagi hisab, dan surga atau neraka.
Kalau pun setelah mati mereka hidup lagi, paling jauh hanya sekedar konsep reingkarnasi saja.
Lafazh an-yunazzala ‘alaikum (أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ) maknanya : “diturunkan kepada kamu”. Yang dimaksud dengan diturunkan itu bisa saja kenabian, atau kitab suci atau juga secara keseluruhan merupakan risalah samawiyah.
Lafazh min (مِنْ) secara harfiyah artinya dari, sedangkan khairin (خَيْرٍ) artinya kebaikan. Namun para ulama mengatakan bahwa ketika digabungkan antara min dengan khairin menjadi min-khairini (مِنْ خَيْرٍ) maka maknanya bergerser menjadi : “sedikitpun dari kebaikan”.
Lafazh min (مِنْ) yang kedua barulah makna harfiyahnya yang digunakan, yaitu bermakna dari dan lafazh rabbikum (رَبِّكُمْ) maknanya tuhanmu yaitu maskudnya Allah SWT.
Dalam hal ini yang menarik untuk dikaji adalah ketika Allah SWT menyebutkan orang kafir baik ahli kitab dan juga musyrikin sama-sama tidak suka dengan risalah samawi yang Allah SWT turunkan. Kalau yang tidak suka itu pemeluk agama keberhalaan yang tidak mengenal konsep turunnya nabi dan kitab suci, mungkin masih bisa dipahami lantaran kejahilan mereka.
Tetapi kalau Yahudi dan Nasrani ternyata ikut-ikutan tidak suka juga, tentu jadi unik. Sebab mereka seperti mengingkari hakikat agama mereka sendiri yang konsepnya sama dengan agama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu sama-sama punya konsep turunnya risalah samawi juga. Bahkan Nabi SAW telah menyatakan kebeneran para nabi dari orang-orang Yahudi dan bahwa mereka semua satu kesatuan. Begitu juga Al-Quran turun dengan format membenarkan adanya kitab-kitab suci yang turun kepada orang Yahudi dan Nasrani. Seharusnya mereka tidak perlu merasa tidak suka, toh apa yang turun kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya juga turun kepada para nabi mereka juga.
Namun ternyata itulah fakta yang terjadi, alih-alih orang Yahudi dan Nasrani mendukung turunnya risalah kepada Nabi Muhammad SAW dan turunnya kitab suci sama Al-Quran, justru mereka malah bersekutu dengan para pemeluk agama syirik dan bahu membahu memerangi kaum muslimin.
Dan kalau diusut-usut lebih jauh, sikap mereka itu disebabkan rasa dengki dan iri hati semata. Memang dengki dan iri hati ini penyakit kejiwaan yang amat berbahaya, resikonya kalau sudah dimakan rasa iri dan dengki, sampai bisa membuat orang jadi kafir dan siap masuk neraka.
Dan kalau kita urutkan lagi ke belakang lebih jauh, rasa iri hati dan dengki itu pula yang dulu sempat menggerogoti Iblis. Dia merasa lebih baik dari Adam, tetapi kenapa Allah SWT malah memilih menjadikan Adam yang hanya terbuat dari tanah sebagai khalifah dan punya derajat yang tinggi. Perasaan iri hati dan dengki yang melanda kejiwaan Iblis telah membuatnya terbakar api cemburu dan sakit hati akut, sehingga bahkan ketika harus mendapat resiko diusir dari surga sekalipun tetap diterimanya.
Dan rasa iri hati dan dengki itu masih tetap menjadi motivasi utama Iblis untuk secara konsisten ingin menyeret anak keturunan Nabi Adam ke dalam neraka. Konsepnya berubah jadi mati satu mati semua. Iblis tidak rela kalau menjadi penghuni neraka sendirian, dia akan terus berupaya agar kita pun menemaninya di dalam neraka.
وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ
Lafazh yakhtashshu (يَخْتَصُّ) artinya mengkhususkan atau menjadikannya khusus. Lafazh bi-rahmatihi (بِرَحْمَتِهِ) secara harfiyah maknanya : kasih sayang-Nya, yaitu kasih sayang dari Allah SWT. Namun Ali bin Abi Thalib memaknai kata rahmat disini sebagai risalah kenabian bagi Muhammad SAW. Sedangkan sebagian ulama lain mengatakan maksudnya adalah Al-Quran.
Sedangkan lafazh man (مَنْ) artinya orang dan lafazh yasya’ (يَشَاءُ) artinya : menghendaki. Maksudnya bahwa pada dasarnya merupakan hak preogratif Allah SWT sepenuhnya mau memilih siapa yang diberikan kebaikan berupa tugas kenabian yang paling akhir dan paling agung. Dalam hal ini Allah SWT tidak perlu harus menyebutkan alasan atau dasarnya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa orang-orang Yahudi protes kenapa kenabian yang terakhir dan paling mulia tidak diberikan kepada bangsa mereka, tetapi malah diberikan kepada bangsa lain yang sama sekali tidak pernah punya riwayat sebagai penerima risalah samawi. Padahal menurut mereka, selama ini keturunan Bani Israil yang dijadikan bangsa yang terpilih, mereka selama berabad-abad secara turun temurun mewarisi kemuliaan menjadi nabi yang memiliki kitab suci.
Logika pemikiran mereka kalau kita baca hari ini mungkin agak aneh, masak urusan kenabian harus mengikuti alur keturunan. Namun percayalah bahwa secara sunnatullah di masa lalu memang segala sesuatu amat sangat ditentukan berdasarkan keturunan.
Dan hal itu terbukti bahwa sejak dari zaman Nabi Ibrahim alaihissalam, kenabian itu memang seperti diwariskan kepada anak keturunan. Nabi Ishak dan juga Nabi Ismail itu memang anak kandung Nabi Ibrahim, hanya saja yang kemudian menjadi nabi secara turun temurun bukan dari jalur nabi Ismail tetapi lewat jalur nabi Ishak. Nabi Ishak ‘alaihissalam kemudian mewariskan risalah kenabian kepada putera sendiri yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, lalu Beliau mewariskan lagi risalah kenabian kepada puteranya lagi yaitu Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
Nabi Daud ‘alaihissalam merupakan salah satu nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau pun juga mewariskan kenabiannya kepada puteranya sendiri yaitu Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Di kurun waktu yang lain, kita juga membaca dalam Al-Quran kisah Nabi Zakaria yang sudah renta ketika dia berdoa agar dikaruniai keturunan. Dan niatnya sederhana, yaitu agar anak keturunannya bisa meneruskan risalah kenabian.
Kaaf Haa Yaa ´Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. (QS Maryam : 1-6)
Doa Nabi Zakaria memang tidak sepenuhnya Maka kalau kita selami sunnatullah di masa itu, kenabian itu bersifat turun temurun itu bukan hal yang aneh.
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Lafazh dzu (ذُو) umumnya dimaknai sebagai yang memikili, sedangkan lafazh al-fadhl (الْفَضْلِ) secara harfiyah bermakna kelebihan. Adapun lafazh al-azhim (الْعَظِيمِ) bermakna sesuatu yang agung atau besar.