Kemenag RI 2019:Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? (Ketahuilah bahwa) tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah. Prof. Quraish Shihab:Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah? Dan tidak ada pelindung dan tidak (pula) penolong bagimu selain dari Allah. Prof. HAMKA:Tidaklah engkau ketahui bahwasanya Allah, kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dan tidaklah ada bagi kamu selain Allah akan pelindung dan penolong.
Jelas sekali ayat ke-107 ini masih sangat erat kaitannya dengan ayat sebelumnya yaitu ayat ke-106, karena terjadi semacam pengulangan dalam retorikanya. Kedua ayat ini sama-sama merupakan pertanyaan yang bersifat retoris tidak butuh jawaban, karena intinya bukan bertanya melainkan menegaskan bahwa Allah SWT Maha Kuasa dan juga memiliki kerajaan yang amat luas, seluas langit dan bumi.
أَلَمْ تَعْلَمْ
Lafazh alam ta’lam (أَلَمْ تَعْلَمْ) artinya : “Tidakkah kamu tahu?”, atau bisa juga dibahaskan menjadi : tidak kah kamu sadari? Tidak kah kamu pahami?.
Dan sebagaimana sudah dijelaskan pada penjelasan ayat sebelumnya, meski pun lafazh ini berupa pertanyaan, namun pada dasarnya ini bukan pertanyaan, melainkan ini sebuah penegasan, sehingga pada dasarnya tidak dibutuhkan jawaban, kecuali hanya satu jawaban, yaitu : “iya benar, memang benar sekali”.
أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ
Lafazh lahu (لَهُ) secara bahasa maknanya : “memiliki”, sedangkan lafazh mulku (مُلْكُ) maknanya : “kerajaan”. Yang menarik untuk dikaji ungkapan bahwa Allah SWT adalah pemilik kerajaan, pertanyaannya : apakah pemilik kerajaan itu sama juga maknanya dengan raja itu sendiri? Kalau maknanya memang sama, kenapa tidak menggunakan ungkapan bahwa Allah SWT itu raja yang menguasai langit dan bumi? Kenapa harus ada kata : “pemilik” pada kerajaan?
Maka ungkapan ‘pemilik kerajaan’ bisa saja menimbulkan asumsi bahwa ada kerajaan entah itu di langit atau pun itu di bumi, siapa pun yang jadi rajanya. Namun lepas dari itu semua, tetap saja semua kerajaan itu milik Allah SWT. Disini kita jadi bisa membedakan antara pemilik dengan raja, dimana posisi pemilik itu jauh lebih tinggi dari pada sekedar raja.
Sebagaimana dalam perusahaan di masa modern sekarang ini, ada owner yaitu para pemilik modal atau saham yang tentuna paling berkuasa, dan ada CEO, yaitu kalangan profesional yang diberi upah serta bayaran untuk mengelola jalannya sebuah perusahaan. Secara aturan kita semua tahu bahwa kapan pun yang namanya CEO bisa saja diberhentikan, dipecat bahkan diganti dengan orang lain. Sedangkan pihak owner biar bagaimana pun adalah pemilik perusahaan yang bersifat absolut dan mutlak. Terserah pemilik modal kalau mau mencopot para employe bahkan sekelas CEO sekalipun.
Jadi bisa kita katakan bahwa di atas rakyat ada raja, tapi di atas raja ada pemilik aslinya, yaitu Allah SWT.
السَّمَوَاتِ
Lafazh as-samawati (السَمَوَات) maknanya : “langit”, namun dalam bentuk jama’, kalau dalam bentuk tunggal disebut sama’ (السَّمَاء) saja. Kalau ayat ini dan di banyak ayat lainnya menggunakan bentuk jama’, maka timbul pertanyaan menggelitik : apakah maknanya menjadi : “langit yang banyak jumlahnya”, ataukah maksudnya : “langit yang luas ukurannya”.
Dan juga menjadi pertanyaan, kerajaan apa yang adanya di langit yang banyak atau langit yang luas?
Jawabannya pasti bukan kerajaan manusia, melainkan kerajaan yang secara umum kita akan memahaminya sebagai kerajaan makhluk ghaib, entah itu kerajaan para malaikat, atau boleh jadi kerajaan para jin dan entah apa nama makhluk yang menghuni langit.
Sebagian kalangan penggemar cerita fiksi luar angkasa ada yang mencoba mengaitkan ayat ini dengan isyarat tentang adanya kehidupan makhluk cerdas (extra terresterial) di luar angkasa. Dikesankan seolah-olah Al-Quran mengakui adanya alien dengan segala kemajuan teknologinya.
Padahal secara ilmiyah, sampai hari ini masih terlalu dini untuk memperkirakan adanya kehidupan makhluk cerdas di luar bumi, bahkan untuk sekedar makhluk hidup yang paling sederhana pun masih menjadi asumsi dan spekulasi. Belum ada bukti pasti tentang keberadaan makhluk cerdas di luar angkasa. Meskipun ada beberapa laporan tentang penampakan UFO atau benda terbang aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan, namun sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dalam kesimpulannya, asumsi tentang kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar angkasa didasarkan pada bukti dan teori ilmiah yang ada, namun sampai saat ini belum ada bukti pasti yang dapat diandalkan.
وَالْأَرْضِ
Adapun al-ardhu (الأَرْضُ) artinya bisa tanah atau bisa juga bumi, tergantung konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi tanah, seperti pada ayat berikut :
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah. (QS. Al-Baqarah :71)
Menerjemahkan ayat di atas pastinya tidak pas kalau sapi digunakan untuk membajak bumi, yang lebih tepat membajak tanah atau sawah. Namun kadang lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi bumi dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sembari juga bergerak mengelilingi matahari. Namun penerjemahan sebagai planet bumi adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini saja. Ada pun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi : tanah, atau negeri.
Lepas dari perbedaan penerjemahannya, yang jelas penyebutannya berbentuk tunggal, sehingga pengertiannya pasti tidak banyak, hanya satu saja. Dan tidak keliru kalau dimaknai sebagai isyarat luasnya lebih kecil dari luasnya langit.
وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Lafazh wa-ma lakum (وَمَا لَكُمْ) artinya : tidak ada bagi kalian, atau kalian itu tidak pernah memiliki. Sedangkan lafazh min dunillah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) maknanya : “selain Allah”. Kalau disatukan kurang lebih maknanya menjadi : “Maka tidak ada bagi kalian selain Allah”, atau bisa juga dikatakan : “maka kalian tidak memiliki siapa pun kecuali Allah”.
مِنْ وَلِيٍّ
Lafazh wali (وَلِيٍّ) punya banyak makna tergantung konteksnya. Lafazh ini tersebar di banyak ayat Al-Quran dengan berbagai macam makna yang boleh jadi masing-masing saling berbeda.
1. Raja Atau Pemimpin
Dalam beberapa ayat bisa bermakna pemimpin dalam arti raja atau pemimpin negara, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini :
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al-Araf : 3)
2. Teman
Terkadang lafaz wali di dalam Al-Quran bisa juga bermakna teman, sebagaimana yang bisa kita baca di ayat berikut :
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya (QS. Ali Imran : 175)
Terjemahan Kemenag ini tegas menyebutkan bahwa ‘auliya’ di ayat ini maknanya bukan pemimpin, tetapi teman-teman. Logikanya, setan itu menakuti manusia dan bukan menakuti sesama setan, apalagi menakuti pemimpin setan. Yang dibikin takut itu pastinya manusia, yang posisinya sebagai teman setan dan bukan sebagai pemimpin dari setan.
3. Orang Yang Dekat Hubungan
Kadang ‘wali’ itu bermakna sebagai pihak yang punya kedekatan khusus, seperti sebutan waliyullah atau auliya’ullah pada ayat berikut :
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus : 62)
Sangat tidak mungkin kalau lafazh ‘wali’ di ayat ini kita paksa terjemahkan menjadi : pemimpin Allah. Jelas terlalu kasar dan tidak logis, masak manusia memimpin Allah? Tentu yang dimaksud dengan istilah ‘wali’ disini pastinya bukan pemimpin, tetapi orang-orang yang kedudukannya sangat dekat kepada Allah, yaitu para wali.
4. Bertindak Sebagai Orang Tua
Dan terkadang makna wali dalam Al-Quran juga bisa bermakna sebagai wakil atau yang bertindak sebagai orang tua dari seorang anak kecil yang belum mencapai usia dewasa. Perhatikan ayat berikut ini yang juga merupakan ayat yang paling panjang dalam Al-Quran :
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ
Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (QS. Al-Baqarah : 282)
Lafazh wali dalam ayat ini tidak mungkin diterjemahkan sebagai wali dalam arti raja atau pemimpin, apalagi sebagai pemimpin atau kepala negara. Tapi wali disini sebagaimana kita mengenal istilah ‘wali’ murid, yaitu seperti layaknya orang tua sendiri.
Untuk bisa membedakan kapan lafazh wali itu maknanya sebagai pemimpin, teman, yang dekat hubungannya ataupun layaknya orang tua, setidaknya perlu dibaca ulang tafsir dan asbabun-nuzul dari masing-masing ayatnya. Sebab meski satu kata yang sama, begitu posisinya ada di ayat yang berbeda, seringkali maknanya ikut jadi berbeda.
Dengan berbagai macam variasi makna di atas, kalau kita kaitkan dengan ayat ini, maka yang paling sesuai terkait dengan makna wali di ayat ini adalah wali dalam arti sebagai penguasa. Karena kurang pas kalau dikatan bahwa mereka itu teman Allah, atau orang terdekat dengan Allah, apalagi Allah SWT berperan seperti orang tua mereka.
Apalagi kalau dikaitkan dengan lafazh sesudahnya yaitu Allah SWT sebagai penolong, maka akan jauh lebih tepat kalau makna wali sebagai pemimpin.
وَلَا نَصِيرٍ
Lafazh nashir (نَصِيرٍ) berasal dari akar (نَصَرَ - يَنْصُرُ) maknanya menolong. Orang yang menolong sebagai pelakunya disebut nashir (نَاصِر), sedangkan bentuk nashiir (نَصِيْر) sebutan bila dia selalu menolong terus menerus. Dalam konteks ayat ini yang jadi penolong adalah Allah SWT.
Secara teknis sudah tepat gabungan antara Allah SWT sebagai pemimpin (wali) dan sebagai penolong (nashir). Yang bisa memberi pertolongan hanyalah yang punya kekuasaan alias pemimpin, kalau tidak ada kekuasaan lantas bagaimana bisa memberikan pertolongan.
Suatu masyarakat mutlak membutuhkan kehadiran penguasa. Bila suatu masyarakat tidak punya penguasa, otomatis kalau ada serangan dari musuh, pastinya mereka pun akan jadi korban. Bahkan bila ada bencana, wabah, kemiskinan dan masalah lain, maka penguasa lah yang bisa memberi pertolongan. Tanpa ada penguasa, bisa saja mereka musnah.
Pesan utama dari penutup ayat ini, nampaknya diarahkan kepada Yahudi yang menolak nasakh. Sebab nasakh itu wewenang dan kehendak Allah SWT sebagai pemimpin dan penolong mereka. Maka menolak apa yang Allah SWT sudah tetapkan tentu sangat beresiko, yaitu Allah SWT tidak mau lagi menjadi pemimpin dan penolong bagi mereka. Dengan demikian posisi mereka menjadi sangat lemah tidak punya pemimpin dan penolong lagi.