Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw); “Sesungguhnya aku telah dibimbing oleh Tuhan Pemeliharaku ke jalan lebar yang lurus, agama yang benar; agama Ibrahim yang biuuf (tidak cenderung kepada kebatilan dan jauh dari kepercayaan sesat), dan sekali-kali bukanlah dia (Nabi Ibrahim as.) termasuk (golongan) orang-orang musyrik.” Prof. HAMKA:Katakanlah, “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk akan daku oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus. Agama yang teguh, agama Ibrahim yang jujur, dan tidaklah dia itu dari orang-orang musyrikin.”
Ayat ini juga menyatakan bahwa Nabi Ibrahim tidak termasuk orang-orang musyrik.
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar menyampaikan kepada kaumnya, khususnya kepada kaum musyrikin Mekkah, kala ayat ini diturunkan.
Kata innani (إِنَّنِي) artinya : sesungguhnya aku. Kata ini gabungan inna (إِنَّ) yang berarti sesungguhnya, lalu disambungkan dengan ya’ mutakallim (يِ) yang berarti aku. Seharusnya menjadi innii (إِنِّي). Namun kita lihat ternyata di tengahnya disisipkan huruf nun (ن) sehingga yang terbentuk innani (إِنَّنِي) dan bukan inni (إِنِّي) saja. Apakah mengubah makna?
Jawabannya tidak. Perbedaannya bukan pada makna, melainkan pada bentuk dan tingkat penegasan secara lafaz.
Pada kata innani (إِنَّنِي) ada penegasan yang terasa lebih kuat dan lebih mantap dari sisi bunyi dan struktur, karena adanya nun tambahan yang berfungsi sebagai nun pelindung. Tambahan ini tidak menambah makna baru, tetapi membuat ungkapan terdengar lebih kokoh, lebih tegas, dan lebih sesuai dengan gaya bahasa Arab fasih, khususnya dalam konteks penegasan yang penting.
Sayangnya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, keduanya tetap diterjemahkan dengan cara yang sama yaitu : sesungguhnya Aku. Disitulah salah satu letak kelemahan penerjemahan, banyak sisi yang hilang dan terlewat begitu saja.
Kata hadani (هَدَانِي) artinya : Dia telah memberi petunjuk kepadaku. Kemenag RI dan Quraish Shihab menerjemahkan kata hadani (هَدَاني) menjadi membimbingku.
Kata rabbi (رَبِّي) artinya : Tuhanku, yaitu Allah SWT. Sebenarnya tuhan yang mereka sembah Allah juga, namun ungkapan Tuhan-ku disini menyiratkan sebuah makna khusus, yaitu kepada kalian Allah SWT tidak memberikan wahyu, bimbingan dan petunjuk. Semua itu hanya diberikan kepada ku seorang.
Maksudnya Allah SWT turun langsung menurunkan wahyu dan bimbingan dari langit kepada Nabi Muhammad SAW. Boleh dibilang sebagai satu-satunya manusia di tanah arab yang kedatangan wahyu samawi dari langit dan diangkat resmi menjadi utusan Allah SWT. Setidaknya untuk ukuran zaman itu, yaitu seputaran abad ke tujuh masehi.
إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Kata ila (إِلَىٰ) artinya : kepada. Kata shiratin (صِرَاطٍ) artinya : jalan. Kata mustaqimin (مُسْتَقِيمٍ) artinya : yang lurus.
Lebih dari 30 kali kata shirath mustaqim terulang-ulang dalam Al-Quran dengan berbagai variannya. Yang paling awal terdapat dalam surat Al-Fatihah, yaitu :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. Al-Fatihah : 6)
Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-Uyun[1] bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna yang dimaksud
§ Pertama, yang dimaksud adalah Kitab Allah yaitu Al-Qur’an. Ini merupakan pendapat Ali dan Abdullah, dan diriwayatkan pula makna semisal dari Nabi SAW.
§ Kedua, yang dimaksud adalah Islam. Ini merupakan pendapat Jabir bin Abdullah dan Muhammad bin al-Hanafiyyah.
§ Ketiga, yang dimaksud adalah jalan yang memberi petunjuk menuju agama Allah SWT, yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas.
§ Keempat, yang dimaksud adalah Rasulullah SAW beserta orang-orang pilihan dari Ahlul Bait dan para sahabat beliau. Ini merupakan pendapat al-Hasan al-Bashri dan Abu al-‘Aliyah ar-Riyahi.
دِينًا قِيَمًا
Kata dinan (دِينًا) artinya : sebagai agama. Kata qiyaman (قِيَمًا) artinya : yang tegak, lurus, dan benar.
Para ulama tafsir sepakat bahwa ungkapan dinan qiyaman (دِينًا قِيَمًا) menunjuk pada kesempurnaan agama yang dibawa para nabi, khususnya Islam, tetapi mereka berbeda penekanan dalam menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata qiyaman ( قِيَمًا).
Sebagian mufasir, seperti Ibn Jarir ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[2] memaknainya sebagai al-mustaqim, yaitu agama yang lurus dan tidak menyimpang. Maksudnya agama yang berdiri di atas kebenaran murni, tidak bengkok oleh syirik, bid‘ah, atau hawa nafsu manusia. Penekanannya ada pada kebenaran akidah dan lurusnya jalan yang ditempuh.
Sedangkan Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[3] menekankan makna qiyaman sebagai agama yang menegakkan urusan manusia, tidak hanya benar secara keyakinan, tetapi juga menjadi penopang kehidupan, mengatur ibadah, muamalah, akhlak, dan keadilan sosial. Agama yang membuat manusia berdiri tegak, tidak rusak moralnya dan tidak runtuh tatanan hidupnya.
Fakhruddin ar-Razi melihat kata qiyaman dari sisi kekuatan internal agama itu sendiri, yaitu tegak dengan hujjah dan dalil, tidak bergantung pada paksaan, kekuasaan, atau tradisi buta. Kebenarannya berdiri sendiri, kokoh secara rasional dan wahyu.
Jika dirangkum, perbedaan pandangan para ulama tafsir bukanlah perbedaan yang saling bertentangan, melainkan perbedaan sudut pandang. Ada yang menekankan kelurusan akidah, ada yang menekankan fungsi agama dalam menegakkan kehidupan, ada yang menyoroti kekuatan dalilnya, dan ada pula yang menegaskan keteguhan dan keberlanjutannya sepanjang zaman. Semua pandangan itu saling melengkapi untuk menggambarkan satu makna besar: agama yang benar, lurus, kokoh, dan mampu menopang kehidupan manusia secara utuh.
مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ
Kata millata (مِلَّةَ) diterjemahkan secara kompak oleh tiga sumber terjemah kita sebagai : agama. Kata Ibrahima (إِبْرَاهِيمَ) artinya Nabi Ibrahim. Mungkin tidak ada padanan kata yang tepat untuk menerjemahkan kata millah ini, kecuali agama. Padahal kita tahu bahwa agama dalam bahsa Arab itu dien (دين). Lantas seperti apa perbedaan antara kedua istilah yang sama-sama diterjemahkan sebagai : agama?
Perbedaan Antara Millah dan Dien
Dalam kajian tafsir dan bahasa Arab klasik, istilah millah (مِلَّة) dan din (دِين) memang sering diterjemahkan sama-sama sebagai agama. Namun para ulama menegaskan bahwa keduanya tidak sepenuhnya identik. Istilah din (دِين) dipahami sebagai agama dalam pengertian yang menyeluruh dan prinsipil, mencakup akidah, ketaatan, hukum, serta pertanggungjawaban seorang hamba di hadapan Allah. Karena itu, kata ini sering dikaitkan langsung dengan Allah, seperti dalam ungkapan dinullah (دين الله) dan menekankan sisi ketundukan serta kebenaran sistem agama itu sendiri.
Adapun istilah millah (مِلَّة) sendiri menurut para ahli bahasa seperti Al-Farra’ dan Az-Zajjaj lebih dekat maknanya kepada jalan keagamaan yang diikuti dan diwarisi, khususnya sebagaimana diteladankan oleh seorang nabi. Karena itu, Al-Qur’an hampir selalu menyandarkan millah kepada figur tertentu, seperti millata Ibrahim (مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ), dan bukan langsung kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa millah menyoroti aspek orientasi tauhid, arah ibadah, dan identitas keagamaan, bukan rincian sistem hukum.
Atas dasar ini, anggapan bahwa millah lebih dekat maknanya kepada hukum atau syariah perlu diluruskan. Jika millah dipahami sebagai kumpulan hukum, maka akan timbul persoalan serius, sebab syariat para nabi berbeda-beda dalam rincian hukumnya. Sementara itu, Al-Qur’an justru menegaskan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengikuti millah Ibrahim. Ini tidak mungkin dimaknai sebagai mengikuti seluruh hukum praktis Nabi Ibrahim, melainkan mengikuti tauhidnya yang lurus, sikapnya yang tegas menolak kesyirikan, dan orientasi penghambaan yang murni kepada Allah.
حَنِيفًا
Kata hanifan (حَنِيفًا) oleh tiga sumber terjemahkan kita ternyata diterjemahkan dengan tiga versi yang berbeda. Kemenag RI 2019 menerjemahkannya menjadi : “yang lurus”. Sedangkan Quraish Shihab tidak menerjemahkan tetapi malah menyisipkan tafsir, yaitu : “hanif (tidak cenderung kepada kebatilan dan jauh dari kepercayaan sesat)”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkan kata hanif ini menjadi “yang jujur”.
Namun istilah hanif itu jelas-jelas terkait dengan sifat agama atau ritual yang dijalankan oleh Nabi Ibarahim alaihissalam. Sehingga ada semacam keyakinan di tengah masyarakat Arab yang sudah menyimpang dan menjadi jahiliah, ternyata masih tersisa jejak-jejak ajaran tauhid Nabi Ibrahim.
Mereka yang menolak penyembahan berhala dan mencari agama Ibrahim yang lurus, banyak melakukan ritual tahannuts atau tahannuf, yaitu menyendiri, beribadah, dan merenung jauh dari keramaian masyarakat yang penuh kemusyrikan. Menurut pendapat ini, bertahannuts di gua seperti yang Nabi SAW lakukan itu dipahami sebagai ritual Ibrahimiyah, yaitu cara beribadah kaum hanif yang mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Karena Nabi Ibrahim disebut sebagai hanifan, maka segala praktik yang menunjukkan sikap hanif—menjauh dari berhala, mengasingkan diri dari masyarakat musyrik, dan beribadah hanya kepada Allah dipandang sebagai kelanjutan dari ajaran beliau. Dari sini muncul hubungan istilah antara hanif, tahannuf, dan tahannuts.
Dalam kerangka ini, Abdul Muththalib dipandang sebagai salah satu tokoh Quraisy yang masih memegang sisa-sisa ajaran Ibrahim. Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa ia menjauhi berhala, berdoa langsung kepada Allah, bernazar, dan melakukan ibadah-ibadah personal yang tidak lazim di kalangan Quraisy. Sebagian ulama kemudian berpendapat bahwa praktik menyendiri dan beribadah di tempat-tempat tertentu, termasuk gua, merupakan bagian dari tradisi ibadah hanif yang masih ia pelihara sebagai warisan Ibrahim.
Tahannuts-nya Nabi Muhammad sebelum kenabian dipandang sebagai kelanjutan langsung dari tradisi tersebut. Beliau SAW sebelum turunnya wahyu tidak ikut menyembah berhala, bahkan sudah menjauhi praktik jahiliah. Beliau lebih memilih menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenung.
وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Kata wa ma (وَمَا) artinya : dan tidak. Kata kana (كَانَ) artinya : pernah ada. Kata minal (مِنَ) artinya : dari golongan. Kata al-musyrikina (الْمُشْرِكِينَ) artinya : orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Sebagian mufasir mengatakan bahwa penutup ini adalah tafsir resmi dari kata hanifan di atas, yaitu menjauhi perbuatan syirik, yaitu menyembah berhala. Memang ironis sekali. Bangsa Arab jahiliyah yang mengaku-ngaku sebagai keturunan dari Nabi Ibrahim malah menyembah banyak berhala. Padahal sejarah tahu bahwa Nabi Ibrahim itu tokoh monoteisme kelas dunia. Beliau sampai dibakar hidup-hidup oleh Namrudz hanya gara-gara keukeuh tidak mau mengakui berhala-berhala. Beliau bahkan menghanurkan sendiri dengan tangannya semua berhala itu, sekedar untuk menegaskan bahwa dirinya tidak sejalan dengan kesesatan kaumnya.