Jilid 3 | Juz 2 | QS. Al-Baqarah : 166      
BE : Al-Baqarah : 166

***

...

Ayat ke-166 ini masih merupakan sambungan dari ayat-ayat sebelumnya. Dan menurut sebagian ulama, ayat ini menegaskan bahwa tandingan-tandingan selain Allah SWT itu bukanlah berupa batu, patung atau berhala, tetapi sosok-sosok manusia yang dijadikan ditaati dan dijadikan panutan dalam rangka kafir dan membangkang dari ajaran agama Allah SWT.

***

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا

Lafazh tabarra’a (تَبَرَّأَ) bermakna : berlepas dari atau lepas tanggung-jawab. Lafazh alladzinat-tubi’u (الَّذِينَ اتُّبِعُوا) maknanya : orang-orang yang diikuti, yaitu para tokoh dan pemimpin musyrikin yang mengajak mereka kepada kekafiran.

Lafazh alladzina-ttaba’u (مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا) maknanya adalah mereka yang menjadi pengikut, yaitu orang-orang kafir musyrikin secara umum, yang ketika hidup di dunia lebih memilih untuk ikut kepada tokoh-tokoh dan pemimpin kafir mereka.

Penggalan ayat ini menarik sekali apabila kita renungkan, karena menceritakan sebuah fenomena unik di akhirat nanti, bahwa antara pemimpin dan pengikut di kalangan orang-orang kafir akan saling berlepas diri, tidak akan mau bertanggung-jawab atas dosa dan kesesatan yang mereka tebarkan.

Dan semua itu diawali oleh Iblis durjana yang juga akan berlepas diri dari tanggung-jawabnya. Iblis memang menggoda manusia dan menyesatkan, namun ketika manusia tergoda dan tersesat, sepenuhnya merupakan tanggung-jawab masing-masing. Iblis tidak akan bertanggung-jawab atas semua kekafiran yang dilakukan oleh korban-korbannya.

Dan semua pemimpin orang-orang kafir pun begitu juga. Di neraka nanti mana mau mereka disuruh bertanggung-jawab atas dosa-dosa dari para pengikutnya. Walaupun sebenarnya para pengikutnya itu tersesat disebabkan oleh ajakan dan bujuk rayu para pemimpinnya, namun di akhirat nanti para pemimpin itu tidak akan mau disuruh mempertanggung-jawabkan ulahnya. Silahkan masing-masing mempertanggung-jawabkan kesalahan masing-masing.

***

وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

Lafazh wa ra’awu-‘adzab (وَرَأَوُا الْعَذَابَ) maknanya adalah : mereka melihat adzab. Saking keras dan dahsyat adzab yang mereka saksikan di neraka, maka mereka pun saling lempar tanggung-jawab. Tidak ada satu pun orang yang mau disuruh menanggung dosa orang lain. Karena dosa sendiri pun sudah sebegitu dahsyat siksaannya.

Keadaan ini jauh berbeda apabila yang di dalam neraka itu orang-orang beriman dan mati dalam keadaan muslim. Akan ada syafaat dari Nabi Muhammad SAW yang akan memberikan keringanan sampai bisa mengeluarkan mereka dari neraka. Seolah-olah Nabi SAW akan ikutan ‘bertanggung-jawab’ di akhirat nanti atas dosa-dosa dari pengikutnya, yaitu mereka yang bersyahadat dan menyatakan diri sebagai muslim.

Adapun perilaku orang-orang kafir di dunia ini yang membantah kenabian Muhammad dan mati sebagai orang kafir, di akhirat nanti pemimpin mereka tidak akan mau bertanggung-jawab. Sebab para pemimpin itupun sedang diadzab juga oleh Allah SWT dengan adzab yang sedemikian dahsyat.

Jangankan menolong dan meringankan adzab untuk anak buah dan pengikutnya, bahkan untuk menolong diri mereka sendiri pun tidak mampu dilakukannya.

Lafazh wa taqaththa’at bihimul asbab (وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ) maksudnya terputuslah semua hubungan antara orang yang mengikuti dengan orang yang diikuti. Tidak bisa orang kafir di neraka nanti mengatakan bahwa mereka jadi kafir disebabkan oleh si anu dan si anu. Kekafiran mereka harus mereka pertanggung-jawabkan sendiri, tidak bisa menyalahkan orang lain.

NEW
NEW 2
NEW 3
Jadwal Shalat DKI Jakarta 19-4-2026
Subuh 04:37 | Zhuhur 11:53 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:54 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia
www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia