***
...
Ayat ke-165 ini sekilas juga seperti tidak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya. Namun Al-Qurtubi dan juga Asy-Syaukani menegaskan bahwa ayat ini amat erat hubungannya dengan ayat sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT menerangkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di alam semesta, maka di ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa ada sebagian kalangan yang sudah menyembah Allah SWT, namun menjadikan selain Allah SWT sebagai tandingan.
***
وَمِنَ النَّاسِ
Lafazh wa minan-nas (وَمِنَ النَّاسِ) posisinya menurut para ulama adalah sebagai khabar muqaddam. maknanya : sebagian manusia. Namun kalau menurut siyaqnya, yang dimaksud dengan sebagian manusia dalam konteks turunnya ayat ini adalah kaum musyrikin Mekkah. Karena mereka itu masih berkeyakinan adanya tuhan-tuhan lain selain Allah, bahkan mereka memiliki tidak kurang dari 360 berhala.
***
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Lafazh man (مَنْ) biasanya diterjemahkan menjadi siapa, namun dalam ayat ini maksudnya bukan sedang bertanya. Sehingga akan lebih aman kalau diterjemakan menjadi ‘orang yang’.
Lafazh yattakhidzu (يَتَّخِذُ) maknanya menjadikan. sedangkan lafazh min dunillah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) artinya selain Allah.
***
أَنْدَادًا
Lafazh andadan (أَنْدَادًا) dimaknai oleh Kemenag RI dan Buya HAMKA menjadi : “tandingan-tandingan”, sedangkan Prof. Quraish Syihab menerjemahkannya dengan : “sekutu-sekutu”. Sebenarnya kata ini berbentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah niddun (نِذّ).
Para ulama klasik juga berbeda dalam menjelaskannya. Ada yang mengatakan niddun itu bermakna mitsl (مثل), artinya : yang disamakan atau disetarakan.
Al-Mawardi menuliskan bahwa lafazh ini punya tiga makna yaitu akfa’ (أكفاء) atau yang disetarakan, asyhbah (أشباه) atau yang diserupakan dan adh-dad (أدضاض) atau yang dijadikan lawan.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan dua makna yang berbeda tentang hakikat dari tandingan ini :[1]
Pertama, yang dimaksud dengan tandingan selain Allah SWT itu maksudnya adalah patung-patung berhala yang disembah oleh kaum musyrikin Mekkah dan juga kaum musyrikin Arab secara keseluruhan. Jumlahnya tidak kurang dari 360 berhala. Mereka menjadikan patung-patung itu sebagai perantara yang menghubungkan mereka dengan Allah SWT.
Namun dalam prakteknya, doa dan permohonan mereka jatuhnya malah kepada berhala-berhala itu, bahkan sampai bernadzar dan menyembelih hewan qurban pun diniatkan kepada benda-benda tak bernyawa itu. Pendapat pertama inilah yang kebanyakan didukung oleh para ulama ahli tafsir.
Kedua, yang dimaksud dengan tandingan selain Allah SWT itu adalah manusia yang ditaati dalam rangka maksiat kepada Allah (أكفاءً من الرجال تطيعونهم في معصية الله). Pendapat kedua ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dan As-Suddi.[2]
Para pendukung pendapat kedua ini berasalah bahwa sifat yang disebutkan dalam ayat ini bahwa para pelakunya mencintai ‘mereka’ sebagaimana mereka mencintai Allah. Kata ‘mereka’ menunjukkan bahwa yang mereka cintainya itu berwujud manusia, bukan batu, patung atau berhala.
Selain itu kalau dikaitkan dengan ayat berikutnya yaitu ayat ke-166, jelas sekali bahwa bahwa yang dimaksud dengan tandingan selain Allah SWT itu adalah para tokoh agama.
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا
(Yaitu), ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti-(nya),
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 4 hal. 174
[2] Al-Wahidi, Al-Wasith fi Tafsir Al-Quran Al-MAjid, (Beirut, Darul-kutub al-ilmiyah, Cet. 1, 1415 H - 1994 M), jilid 1 hal. 99
***
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه