A. Pengertian
Piagam Madinah (Bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622.
Piagam ini disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani 'Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas musyrikin Madinah, agarmereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.
B. Kondisi Yang Melatar-belakangi Piagam Madinah
1. Yatsrib Yang Heterogen
Awalnya Madinah bernama Yatsrib. Posisinya agak jauh ke Utara dari Jazirah Arabia. Sebuah keterangan menyebutkan ketika Rasulullah SAW tiba hijrah kesana pertama kali, penduduknya hanya berjumlah sekitar 15 ribuan jiwa.
Satu yang harus dicatat bahwa populasinya terdiri dari masyarakat yang heterogen, baik dari sisi ras, bangsa maupun agama dan kepercayaan.
a. Penyembah Berhala
Penduduk asli Madinah adalah bangsa Arab. Dan sebagaimana umumnya bangsa Arab yang pagan, mereka beragama dengan peninggalan nenek moyang mereka Nabi Ibrahim alahissalam. Namun karena sudah terlalu jauh jarak terpisah dengan masa kehidupan Nabi Ibrahim, sehingga keasliannya sudah jauh melenceng. Diperkirakan Nabi Ibrahim hidup sekitar 2.000-an tahun sebelum Masehi. Dan mereka hidup di tahun 600-an sesudah Masehi. Artinya terpaut jarah 2.600-an tahun. Wajar kalau mereka menjadi penyembah patung dan berhala, sebagaimana umumnya umat-umat terdahulu setelah para nabi mereka wafat.
Setiap tahun mereka mendatangi Mekkah untuk berhaji dan menyembelih qurban yang diperuntukkan berhala-berhala di seputaran Ka’bah.
b. Aus dan Khazraj
Di Madinah saat itu ada dua suku besar, yaitu Suku Aus dan Khazraj. Keduanya punya banyak kabilah-kabilah lagi di dalamnya. Kedua suku besar ini sudah lama bersaing dalam segala sesuatunya, termasuk dalam urusan pengaruh dan juga politik lokal, serta kepemimpinan.
Tidak jarang terjadi keributan hingga perkelahian yang merenggut nyawa. Permusuhan mereka sudah lama terjadi dan nyaris sudah tidak bisa lagi dirunut pokok masalahnya, karena sudah berjalin berkelindan, tidak jelas ujung pangkalnya.
c. Beberapa Klan Yahudi
Di sisi lain, Yatsrib juga dihuni oleh beberapa klan besar Yahudi, yaitu Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah. Mereka datang ke Yatsrib jauh sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW dan para shahabat muhajirin Mekkah.
Bahkan mereka sudah beranak pinak menjadi beberapa generasi. Setidaknya, mereka sudah fasih berbahasa Arab, karena lahir di tanah Arab dan tumbuh besar di negeri Arab.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa kedatangan orang-orang Yahudi ke Yatsrib ini awalnya didasarkan pada berita yang ada dalam kitab suci mereka tentang kedatangan nabi utusan Allah SWT yang terakhir. Semua ciri tentang diri nabi terakhir itu memang jelas disebutkan dalam semua kitab suci yang pernah turun, tidak terkecuali kitab suci milik orang-orang Yahudi.
Al-Quran sendiri juga menyatakan bahwa orang-orang yahudi yang diberi kitab suci sudah mengenal sosok Rasulullah SAW sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Hanya saja sebagian dari mereka kemudian menyembunyikan kebenaran, dan tidak mau beriman kepada Beliau SAW.
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 146)
d. Yahudi Mengincar Kekuasaan
Kedatangan Nabi SAW beserta para shahabat muhajirin membuat pupus harapan kalangan yahudi di Madinah untuk meraih tahta kekuasaan. Selain kalah jumlah, nampaknya persaudaraan sesama orang Arab jauh lebih kuat ketimbang dengan Yahudi.
Namun dari sisi kekuatan ekonomi, yahudi masih kuat di Madinah. Beberapa sentra ekonomi masyakarat Madinah masih dikuasai jaringan yahudi.
e. Perpecahan Membayangi
Dengan kondisi yang demikian, Madinah sebenarnya menyimpan energi perpecahan yang sewaktu-waktu dapat meledak. Bak api dalam sekam, hanya sekedar menunggu waktu saja.
3. Dibutuhkan Kepastian Persatuan dan Keamanan
Dalam keadaan suasana seperti itulah Rasulullah SAW tiba di Madinah dan secara aklamasi diangkat menjadi pemimpin. Potensi-potensi perpecahan tetap masih membayangi.
Untuk itu dibutuhkan sebuah kekuatan yang dapat mengikat semua pihak dan mendudukan posisinya secara tepat, sehingga tidak mengalami kerentanan yang sewaktu-waktu menimbulkan gejolak.
Keberadaan sekian banyak pihak bukan sesuatu yang bisa dipungkiri atau dinafikan. Faktanya memang sudah ada dan masing-masing eksis. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menampung semuanya dan menyatukannya dalam sebuah ikatan suka sama suka dan jalinan penuh kepercayaan.
Dan nampaknya semua pihak sepakat memberikan kepercayaan mereka kepada Rasulullah SAW, meski Beliau SAW berbeda agama, ras, suku, kabilah. Bahkan sebagai pendatang baru, kepercayaan yang diberikan kepada Beliau SAW memang terbilang amat langka. Seorang yang baru tiba dan menjadi penduduk baru, tiba-tiba disepakati untuk dijadikan pemimpin bersama, dimana semua pihak siap untuk taat, tunduk dan patuh.
Kalau tidak ada pakta yang bisa memberikan jaminan dan kepastian atas eksistensi masing-masing pihak, maka mustahil kesepaktan itu terjadi. Dan mustahil berdiri Madinah sebagai sebuah kekuatan yang diperhitungkan.
Namun dengan Piagam Madinah ini nampak semua pihak puas, tidak ada yang keberatan ketika Rasulullah SAW tampil sebagai pihak yang cukup adil dan netral, tidak berat sebelah, tepat berdiri di tengah. Semua merasa terjamin jati diri, eksistensi, keamanan dan kenyamanannya.
C. Hukum YangTerkait Piagam Madinah
Ada beberapa kesimpulan hukum yang bisa kita tarik dari fenomena Piagam Madinah ini, antara lain :
1. Negara Islam Tidak Harus Steril Dari Orang Kafir
Ternyata yang syarat sebuah negara Islam penduduknya tidak harus muslim semua. Bahkan Piagam Madinah berisi konten-konten yang mengatur tata hubungan muslim dan non muslim yang hidup damai berdampingan, saling menghormati, saling mengakui dan bahkan saling melindungi.
Apa yang dilakukan oleh banyak kalangan dewasa ini yang sering mengkampanyekan tegaknya negara Islam, tetapi non muslim malah ketakutan dibuatnya, justru sangat bertentangan dengan semangat Piagam Madinah itu sendiri. Sebab di masanya, Piagam Madinah itu adalah kesepakatan yang menjadi kepentingan semua pihak. Yahudi dan muslim sama-sama saling membutuhkan Piagam Madinah. Dan keberadaan Piagam Madinah sama sekali bukan ancaman bagi pihak manapun.
2. Yahudi Tidak Selalu Jadi Musuh
Ayat-ayat di dalam Al-Quran banyak sekali ‘berubah-ubah’ ketika bicara tentang Yahudi. Adakalanya kita dikesankan seolah-olah Yahudi itu musuh bebuyutan, dimana kita bertemu Yahudi harus disembelih. Tapi seringkali juga Al-Quran justru bersikap ramah dan malah memuji Yahudi setinggi langit.
Sebenarnya bagaimana kedudukan Yahudi di mata syariat Islam, apakah musuh yang harus disembelih ataukah teman yang bisa diajak hidup berdampingan?
Jawabnya bisa dua-duanya. Kadang memang Yahudi harus diperangi, dalam posisi dan situasi tertentu. Tapi kadang mereka justru kita lindungi. Masing-masing ada waktunya, ada pertimbangannya dan ada alasan taktisnya.
Ketika Yahudi berposisi sebagai pihak yang kita lindungi, maka bukti sejarahnya adalah Piagam Madinah ini. Jelas dan nyata bagaimana justru Rasulullah SAW melindungi keberadaan Yahudi di Madinah saat itu.
3. Dibolehkan Mengadakan Perjanjian Dengan Non Muslim
Pada dasarnya syariat Islam membolehkan kita umat Islam ini membuat perjanjian dengan non-muslim, baik dalam urusan peperangan atau pun perdamaian.
Piagam Madinah ini adalah bukti otentik yang tidak terbantahkan tentang disyariatkan perjanjian damai dengan non muslim. Ketika ada kalangan yang gemar perang dan sukanya main bunuh orang kafir, maka bisa kita sodorkan fakta-fakta tentang Rasulullah SAW yang justru mengikat perjanjian dengan pihak non muslim.
Perjanjian dalam konteks damai ini bisa saja terkait dengan masalah keamanan bersama, atau beragam kerja sama lainnya, seperti di bidang ekonomi dan perdagangan.
4. Pengkhianatan Adalah Kesalahan Terbesar
Musuh Islam memang harus diperangi, tetapi alasannya bukan semata-mata karena mereka tidak seagama dengan kita. Umat Islam ini tidak boleh tiba-tiba perangi dengan orang kafir tanpa sebab dan dilancarkan seenaknya. Sebab pada prinsipnya bahwa kekafiran itu bukan musuh Islam, apalagi orang yang berstatus kafir, jelas mereka tidak diciptakan Allah SWT hanya sebagai saaran panah dan tombak.
Musuh Islam adalah mereka yang secara sengaja dan sadarmemusuhi umat Islam, baik lewat peperangan yang mereka kobarkan,atau dengan senjata yang mereka acungkan,atau lewat tidak adanya jaminan keamanan dari mereka. Dan yang paling utama tentu saja lewat ingkar janji dan pengkhianatan. Inilah alasan yang paling dominan kenapa Rasulullah SAW akhirnya mengusir Yahudi dari Madinah, bahkan menghabisi Yahudi di Benteng Bani Quraizhah. Pengkhiatan atas isi Piagam Madinah akhirnya beresiko terusirnya Yahudi dari Madinah itu sendiri. Pengkhiatan yang dilakukan oleh Yahudi atas Piagam Madinah adalah sebuah kesalahan terbesar yang mereka lakukan.
D. Rincian Pasal-pasal
Apa isi teks Piagam Madinah itu dan bagaimana uraian pasal demi pasalnya, berikut kita petikkan rinciannya. Ibnu Hisyam (w. 214 H) dalam kitab beliauSirah Nabawiyah yang masyhur itu menyebutkan teks lengkap dari piagam Madinah ini sebagai berikut.[1]
بسم الله الرحمن الرحيم هذا كتاب من محمد النبي صلىالله عليه وسلم بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisydan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.
Pasal 1 : Satu Umat
١. انهم امة واحدة من دون الناس.
Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komuitas) manusia lain.
Pasal 2 : Muhajirin dan Quraisy
٢. المهاجرون من قريش على ربعتهم يتعاقلون بينهم اخذالدية واعطائها وهم يفدون عانيهم بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Kaum muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.
Pasal 3 : Banu Auf
٣. وبنوعوف على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu Auf sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 4 : Banu Sa’idah
٤. وبنوساعدة على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu Sa’idah sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 5 : Banu Al-Hars
٥. وبنو الحرث على ربعتهم يتعاقلون الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu Al-Hars sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 6 : Banu Jusyam
٦. وبنو جشم على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu Jusyam sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 7 : Banu An-Najjar
٧. وبنو النجار على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu An-Najjar sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 8 : Banu ‘Amr bin ‘Awf
٨. وبنو عمرو بن عوف على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu ‘Amr bin ‘Awf sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 9 : Banu Al-Nabit
٩. وبنو النبيت على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu Al-Nabit sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 10 : Banu Al-‘Aws
١٠. وبنو الاوس على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Banu Al-‘Aws sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan denganbaik dan adil di antara mukminin.
Pasal 11 : Membantu Tebusan dan Diyat
١١. وان المؤمنين لايتركون مفرجا بينهم ان يعطوه بالمعروف فى فداء اوعقل.
Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang berat menanggung utang diantara mereka tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.
Pasal 12 : Izin Bersekutu
١٢. ولا يحالـف مؤمن مولى مؤمن دونه.
Seorang mukmin tidak diperbolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.
Pasal 13 : Memerangi Bughat
١٣. وان المؤمنين المتقين على من بغى منهم او ابتغى د سيعة ظلم اة اثم اوعدوان او فساد بين المؤمنين وان ايديهم عليه جميعا ولو كان ولد احدهم.
Orang-orang mukmin yang taqwa harus menentang orang yang diantara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara zalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.
Pasal 14 : Haram Membunuh
١٤. ولا يقتل مؤمن مؤمنا فى كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن.
Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran membunuh orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir untuk (membunuh)orang beriman.
Pasal 15 : Jaminan Allah
١٥. وإن ذمة الله واحدة يحيد عليهم أدناهم وإن المؤمنين يعضهم موالي بعض دون الناس.
Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak bergantung kepada golongan lain.
Pasal 16 : Yahudi Yang Ikut Dapat Pembelaan
١٦. وانه من تبعنا من يهود فان له النصر والاسوة غير مظلومين ولا متناصرعليهم.
Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang olehnya.
Pasal 17 : Perdamaian Muslim
١٧. وان سلم المؤمنين واحدة لا يسالم مؤمن دون مؤمن في قتال في سبيل الله الا على سواء وعدل بينهم.
Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.
Pasal 18 : Perang Bahu Membahu
١٨. وان كل غازية غزت معنا يعقب بعضها بعضا.
Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain.
Pasal 19 : Pembalasan
١٩. وإن المؤمنين يبئ بعضهم على بعض بـما نال دماءهم في سبيل الله وإن المؤمنين والمتقين على أحسن هدى وأقومه.
Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.
Pasal 20 : Dilarang Melindungi Quraisy
٢٠. وانه لايجير مشرك مالا لقريش ولانفسا ولايحول دونه على مؤمن.
Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman.
Pasal 21 : Hukuman Untuk Pembunuh
٢١. وانه من اعتبط مؤمنا قتلا عن بينة فانه قودبه الا ان يرضى ولي المقتول وان المؤمنين عليه كافة ولايحل لهم الاقيام عليه.
Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.
Pasal 22 : Dilarang Membantu Pembunuh
٢٢. وانه لا يحل لمؤمن أقر بما فى هذه الصحيفة وآمن بالله واليوم الآخر ان ينصر محدثا ولا يـؤوية وانه من نصره او آواه فان عليه لعنة الله وغضبه يوم القيامة ولايـؤخذ منه صرف ولاعدل.
Tidak dibenarkan orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan dan menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dari Allah pada hari kiamat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.
Pasal 23 : Perselisihan
٢٣. وانكم مهما اختلفتم فيه من شيئ فان مرده الى الله عزوجل والى محمد صلى الله عليه وسلم
Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla dan (keputusan) Muhammad SAW.
Pasal 24 : Yahudi Pikul Biaya Bersama Mukmin Dalam Perang
٢٤. وان اليهود ينفقون مع المؤمنين ماد اموا محاربين
Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.
Pasal 25 : Yahudi Satu Umat Dengan Mukminin
٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.
Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.
Pasal 26 : Yahudi Bani Najjar
٢٦. وان ليهود بنى النجار مثل ماليهود بنى عوف
Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 27 : Yahudi Bani Hars
٢٧. وان ليهود بنى الحرث مثل ماليهود بنى عوف
Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 28 : Yahudi Bani Saidah
٢٨. وان ليهود بنى ساعدة مثل ماليهود بنى عوف
Kaum Yahudi Banu Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 29 : Yahudi Bani Jusyam
٢٩. وان ليهود بنى جشم مثل ماليهود بنى عوف
Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 30 : Yahudi Bani Auf
٣٠. وان ليهود بنى الاوس مثل ماليهود بنى عوف
Kaum Yahudi Banu Al-‘Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 31 : Yahudi Bani Tsa’labah
٣١. وان ليهود بنى ثعلبة مثل ماليهود بنى عوف الامن ظلم واثم فانه لا يوتخ الانفسه واهل بيته.
Kaum Yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 32 : Yahudi Nabi Jafnah
٣٢. وان جفنه بطن ثعلبه كأ نفسهم
`Kaum Yahudi Banu Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 33 : Yahudi Bani Syaibah
٣٣. وان لبنى الشطيبة مثل ماليهود بنى عوف وان البر دون الاثم
Kaum Yahudi Banu Syutaibah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
Pasal 34 : Mawali Tsa’labah
٣٤. وان موالي ثعلبه كأنفسهم
Sekutu-sekutu Sa’labah diperlakukan sama seperti mereka (Banu Sa’labah).
Pasal 35 : Kerabat Yahudi Sama Seperti Mereka
٣٥. وان بطانة يهود كأنفسهم
Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).
Pasal 36 : Perang Seizin Nabi Muhammad SAW
٣٦. وانه لا يخرج احدمنهم الا باذن محمد صلىالله عليه وسلم وانه لا ينحجرعلى ثار جرح وانه من فتك فبنفسه فتك واهل بيته الا من ظلم وان الله على ابرهذا.
Tidak seorang pun dibenarkan (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dihalangi(menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesunggunya Allah sangat membenarkan ketentuan ini.
Pasal 37 : Yahudi Muslim Saling Tolong
٣٧. وان على اليهود نفقتهم وعلى المسلمين نفقتهم وان بينهم النصرعلى من حارب اهل هذه الصحيفة وان بينهم النصح والنصيحة والبر دون الاثم وانه لم يأثم امرؤ بـحليفه وان النصر للمظلوم.
Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi mauk muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu membantu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.
Pasal 38 : Yahudi Muslim Berinfaq Bantu Perang Mereka
٣٨. وان اليهود ينفقون مع المؤمنين ماداموا محاربين.
Kaum Yahudi memikul bersama mukiminin selama dalam peperangan.
Pasal 39 : Yatsir Tanah Haram Bagi Warganya
٣٩. وان يثرب حرام جوفهالاهل هذه الصحيفة.
Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga piagam ini.
Pasal 40 : Yang Diberi Jaminan Seperti Penjamin
٤٠. وان الجار كالنفس غير مضار ولااثم.
Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.
Pasal 41 : Tidak Menjamin Kecuali Seizin Ahlinya
٤١. وانه لا تجارحرمة الا باذن اهلها
Tidak boleh jaminan diberikan kecuali seizin ahlinya.
Pasal 42 : Perseteruan Sesama Pemegang Piagam Madinah
٤٢. وانه ما كان بين اهل هذه الصحيفة من حدث واشتجار يخاف فساده فان مرده الى الله عزوجل والى محمد صلى الله عليه وسلم وان الله على اتقى ما فى هذه الصحيفة وابره.
Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi piagam ini.
Pasal 43: Tiad Perlindungan Buat Quraisy & Pendukungnya
٤٣. وانه لاتجار قريش ولا من نصرها
Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka.
Pasal 44 : Bahu Membahu Dalam Perang
٤٤. وان بينهم النصر على من دهم يثرب.
Mereka (pendukung piagam) bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.
Pasal 45 : Perdamaian
٤٥. واذا دعوا الى صلح يصالحونه (ويلبسونه) فانهم يصالحونه ويلبسونه وانهم اذا دعوا الى مثل ذلك فانه لهم علىالمؤمنين الا من حارب فى الدين على كل اناس حصتهم من جابنهم الذى قبلهم.
Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksankan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.
Pasal 46 : Yahudi Aus
٤٦. وان يهود الاوس مواليهم وانفسهم على مثل مالاهل هذه الصحيفة مع البر الحسن من اهل هذه الصحيفة وان البر دون الاثم.
Kaum Yahudi Al-‘Aws, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.
Pasal 47 : Piagam Tidak Membela Pengkhianatnya
٤٧. ولا يكسب كاسب الاعلى نفسه وان الله على اصدق فى هذه الصحيفة وابره وانه لا يحول هذا الكتاب دون ظالم وآثم. وانه من خرج آمن ومن قعد آمن بالمدينة الا من ظلم واثم وان الله جار لمن بر واتقى ومحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم
Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW.