Selain puasa wajib di atas, ada juga puasa yang tidak wajib dan sifatnya merupakan ibadah nafilah (tambahan). Ada banyak sekali puasa yang hukumnya sunnah.Seperti puasa sunnahyang diberlakukan Allah SWT kepada Nabi Daud alaihissalam, puasa Tasu'a dan Asyura, puasa hari Tarwiyah dan Arafah, puasa 6 hari di bulan Syawwal, puasa tiga hari di tengah bulan (ayyamul-biidh), puasa hari Senin dan Kamis, serta puasa di bulan Sya'ban.
A. Perbedaan Istilah
Namun menarik untuk disimak sebelum kita masuk ke dalam pembahasan lebih detail tentang puasa-puasa yang bukan wajib, bahwa para ulama memiliki beberapa jenis istilah yang berbeda untuk puasa tambahan ini.
1. Madzhab Al-Hanafiyah
Madzhab Al-Hanafiyah membagi puasa tambahan ini menjadi tiga, yaitu puasa masnun (مسنون), mandub (مندوب) dan nafl (نفل).
§ Yang termasuk puasa masnun adalah puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharram, atau dikenal dengan hari Tasu'a dan Asyura.
§ Yang termasuk puasa mandub adalah puasa tiga hari dalam sebulan pada tanggal 13,14 dan 15 di bulan-bulan Hijriyah, puasa tiap hari Senin dan Kamis, puasa 6 hari di bulan Syawwal, puasa Nabi Daud dan semua puasa yang jelas perintahnya.
§ Sedangkan puasa di luar yang masnun dan mandub, disebut dengan puasa nafl, yaitu puasa yang tidak ada larangan untuk dilakukan.
2. Madzhab Al-Malikiyah
Madzhab Al-Malikiyah membagi puasa setelah puasa wajib ini menjadi tiga macam juga, namun berlainan istilah.
§ Yang pertama adalah puasa sunnah, seperti hari Asyura tanggal 10 Muharram.
§ Yang kedua disebut puasa mustahab, yaitu puasa pada bulan-bulan haram, puasa bulan Sya'ban, puasa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa hari Arafah, puasa 6 hari di bulan Syawwal, puasa tiga hari di tengah bulan, puasa hari Senin dan Kamis.
§ Yang ketiga adalah puasa nafilah, yaitu puasa yang tidak ada sebabnya, yang dilakukan di luar hari-hari yang diharamkan.
3. Madzhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah
Kedua madzhab ini tidak membeda-bedakan peringkat puasa tambahan di luar puasa wajib. Bagi mereka, semua puasa yang di luar puasa wajib disebut puasa sunnah. Dan boleh juga disebut dengan puasa masnun, mandub, mustahab, nafilah atau apa saja. Toh semuanya termasuk amal tambahan yang tidak diwajibkan.
B. Puasa Daud
Disebut dengan puasa Daud karena awalnya puasa dengan cara seperti ini disyariatkan kepada Nabi Daud alaihissalam dan umatnya. Bagi mereka puasa ini wajib hukumnya, namun bagi kita umat Rasulullah SAW, hukumnya sunnah. Bentuknya adalah puasa sehari dan berbuka sehari, begitu terus dengan berselang-seling, sebagai puasa wajib yang harus dikerjakan seumur hidup. Puasa Daud ini disyariatkan melalui beberapa hadits Rasulullah SAW, diantaranya :
أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلامُ وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ : وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْل وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Dari Abdullah bin Amru radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Shalat (sunnah) yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat (seperti) Nabi Daud as. Dan puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa (seperti) Nabi Daud as. Beliau tidur separuh malam, lalu shalat 1/3-nya dan tidur 1/6-nya lagi. Beliau puasa sehari dan berbuka sehari. (HR. Bukhari)
Selain itu juga ada hadits lainnya yang menegaskan pensyariatan puasa Daud :
صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلامُ وَهُوَ أَفْضَل الصِّيَامِ فَقُلْتُ : إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَل مِنْ ذَلِكَ . فَقَال النَّبِيُّ rلاَ أَفْضَل مِنْ ذَلِكَ
Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Puasalah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah puasanya nabi Daud as dan itu adalah puasa yang paling utama. Aku menjawab,"Aku mampu lebih dari itu". Nabi SAW bersabda,"Tidak ada lagi yang lebih utama dari itu". (HR Bukhari).
Sebagian ulama berpendapat bahwa bagian akhir dari hadits ini yang bunyinya : laa afdhala min dzalik, merupakan dasar bahwa puasa Daud ini bila dikerjakan, maka puasa-puasa sunnah yang lain tidak boleh lagi dikerjakan.
Sebagai ilustrasi sederhana, bila hari Senin berpuasa, maka hari Selasa tidak berpuasa. Lalu hari Rabu berpuasa lagi dan hari Kamis tidak berpuasa. Lalu hari Jumat berpuasa dan hari Sabtu tidak puasa. Lalu hari Ahad puasa dan hari Senin tidak berpuasa.
C. Puasa Asyura dan Tasu’a
Kedua puasa ini disyariatkan dengan status sebagai puasa sunnah bukan wajib, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini :
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ
Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA berkata:"Wahai penduduk Madinah, dimana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Ini hari Assyura, dan Allah tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka"(HR Bukhari)
Juga ada hadits lainnya berikut ini :
قَدِمَ النَّبِيُّ r فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالُوا : يَوْمٌ صَالِحٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى فَقَالَ : أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa, beliau pun bertanya,"apa ini?". Mereka menjawab:"Ini hari baik, hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada hari itu. Maka Rasulullah SAW menjawab: Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian, maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan shaum tersebut. (HR Bukhari)
Adapun keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang telah lalu (HR. Muslim)
D. Puasa Hari Arafah dan Tarwiyah
Puasa Arafah yaitu puasa pada tanggal 9 bulan Dzul-Hijjah, sedangkan puasa tarwiyah adalah puasa pada tanggal 8 bulan Dzul-Hijjah. Puasa sunnah itu berdasarkan dalil berikut :
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً
Dari Abi Qatadah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Puasa Asyura' menghapuskan dosa tahun sebelumnya. (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmizy)
Sedangkan dalil puasa 8 hari bulan Dzul-hijjah adalah sebagai berikut :
أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ r : صِيَامُ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَالرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ
Dari Hafshah ra berkata,"Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW: [1] Puasa hari Asyura, [2] Puasa 1-8 zulhijjah, [3] 3 hari tiap bulan dan [4] dua rakaat sebelum fajar". (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
E. Puasa 6 Hari Pada Bulan Syawwal
Ketentuan tentang masyru’iyah puasa sebanyak 6 hari di bulan syawwal didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang shahih riwayat Imam Muslim.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَذَاكَ صِيَامُ الدَّهْرِ
Dari Ayyub Al-Anshari ra, dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda : “orang yang puasa ramadhan lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari dari bulan Syawwal, maka seperti orang yang berpuasa setahun” (HR. Muslim).
Bila seseorang masih punya hutang puasa di bulan Ramadhan, apakah boleh berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawwal? Ataukah dia harus membayar dulu qadha' puasanya, baru kemudian berpuasa sunnah?
Dalam hal ini kita menemukan tiga pendapat yang berbeda dari pendapat para ulama :
1. Boleh Tanpa Karahah
Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah. Mazhab ini mengatakan bahwa dibolehkan bagi orang yang punya hutang puasa Ramadhan untuk mengerjakan puasa sunnah, termasuk puasa enam hari di bulan Syawwal. Dan sifat dari kebolehan ini mutlak tanpa karahah, yaitu tanpa ada hal kurang disukai.
Dasar landasan pendapat ini bahwa kewajiban puasa qadha' bersifat tarakhi (تراخي). Maksudnya boleh ditunda atau diakhirkan, hingga sampai menjelang masuknya bulan Ramadhan tahun berikutnya.
Kewajiban yang bersifat tarakhi ini membolehkan seseorang untuk menunda pengerjaannya. Contohnya kewajiban mengerjakan ibadah haji, dimana Rasulullah SAW dahulu menunda keberangkan ibadah haji hingga tahun kesepuluh hijriyah. Padahal perintah ibadah haji sudah turun sejak tahun keenam hijriyah.
Dan penundaan ibadah haji selama masa empat tahun yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu bukan karena alasan tidak mampu, juga bukan karena faktor keamanan yang menghalangi. Sebab kenyataanya justru beliau SAW berkali-kali melakukan umrah ke Baitullah untuk mengerjakan umrah dan bukan haji.
Selama masa empat tahun tidak berhaji, beliau SAW tercatat tiga kali mengunjungi Baitullah. Tahun keenam, ketujuh dan tahun kedelapan. Maka tidak mengapa seseorang menunda kewajiban ibadah yang wajib dan mendahulukan yang sunnah, apabila yang wajib itu bersifat tarakhi.
2. Boleh Dengan Karahah
Pendapat kedua merupakan pendapat mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah. Mereka mengatakan bahwa tidak mengapa seseorang mendahulukan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal dan menunda qadha' puasa Ramadhan yang hukumnya wajib. Namun tindakan seperti ini dalam pandangan mereka diiringi dengan karahah, yaitu kurang disukai atau kurang afdhal.
Dalam pandangan mereka yang utama adalah membayarkan dulu hutang puasa, karena yang utama adalah mendahulukan pekerjaan yang sifatnya wajib. Namun pada dasarnya mereka tidak melarang bila seseorang ingin mendahulukan puasa sunnah dan menunda puasa wajib.
3. Tidak Boleh
Pendapat yang mengharamkan puasa sunnah sebelum membayar kewajiban qadha' puasa datang dari mazhab Al-Hanabilah.
Mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits nabi berikut ini :
مَنْ صَامَ تَطَوُّعًا وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّل مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ
Siapa yang berpuasa sunnah padahal dia punya hutang qadha' puasa Ramadhan yang belum dikerjakan, maka puasa sunnahnya itu tidak sah sampai dia bayarkan dulu puasa qadha'nya. (HR. Ahmad)
Sebagian ulama meragukan kekuatan hadits riwayat Imam Ahmad ini, karena dianggap ada idhthirab atau kegoncangan di dalamnya.[1]
Ketika para mufti di Saudi Arabia berfatwa tentang haramnya puasa enam hari bulan Syawwal bagi mereka yang belum membayar hutang Ramadhan, maka pendapat mereka itu sangat dipengaruhi oleh latar belakang mazhab Al-Hanabilah yang banyak dianut oleh masyarakat di Saudi Arabia. Katakanlah misalnya fatwa yang dikeluarkan oleh Syeikh Ibnu Al-Utsaimin dalam kitab beliau, Fatawa Ramadhan. Beliau berpendapat bahwa puasa enam hari bulan Syawwal tidak dikerjakan, kecuali bila seseorang telah selesai berpuasa Ramadhan.
Padahal orang yang berhutang puasa, berarti dia belum selesai dari puasa Ramadhan. Oleh karena itu dia harus selesaikan dulu puasa Ramadhannya dengan cara berpuasa qadha', baru boleh mengerjakan puasa sunnah enam hari bulan Syawwal.[2]
F. Puasa Ayyamul Biidh
Puasa ayyamul-bidh (أيام البيض) menurut para ulama adalah puasa sunnah pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan-bulan hijriyah (qamariyah). Dasarnya adalah dalil berikut ini :
يَا أَبَا ذَرٍّ إذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلاثَةً فَصُمْ ثَلاثَ عَشَرَةَ وَأَرْبَعَ عَشَرَةَ وَخَمْسَ عَشَرَةَ
Dari Abu Zar Al-Ghifari ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Aba Dzarr, bila kamu hendak puasa tiga hari dalam sebulan, maka puasalah pada tanggal 13, 14 dan 15. (HR. An-Nasai, At-Tirmizy dan Ibnu Hibban)
G. Puasa Senin Kamis
Ketentuan tentang masyru‘iyah puasa Senin Kamis didasarkan pada hadits yang di dalamnya ada komentar Rasulullah SAW, yaitu pada hari Senin dan Kamis diserahkannya amal manusia.
إِنَّ أَعْمَال الْعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
"Sesungguhnya amal manusia itu dilaporkan setiap hari Senin dan Kamis.”(HR. Abu Daud).
Dan di dalam hadits lain Nabi SAW menyebutkan :
وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
"Aku suka saat amalku diperlihatkan, Aku sedang dalam keadaan berpuasa. (HR. An-Nasai).
Pada waktu yang lain, beliau juga menjelaskan alasan kenapa berpuasa pada hari Senin.
أَنَّ رَسُول اللَّهِ r سُئِل عَنْ صَوْمِ الاِثْنَيْنِ فَقَال : فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِل عَلَيَّ
Rasulullah SAW juga ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab,"Itu hari kelahiranku dan diturunkan wahyu". (HR. Muslim dan Ahmad)
H. Puasa Rajab
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berpuasa di bulan Rajab. Sebagian kalangan menetapkan bahwa hukumnya sunnah, sebagian lagi bilang makruh dan ada juga yang bilang haram atau bid'ah. Berikut ini petikan fatwa-fatwa mereka yang berbeda-beda.
1. Bid'ah
Ada beberapa fatwa dari para ulama khalaf (kontemporer) yang mengatakan bahwa puasa di bulan Rajab hukumnya bid'ah. Diantaranya fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan juga Syeikh Shalif Fauzan.
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (w. 1420 H) ketika ditanya terkait dengan berpuasa pada tanggal 8 dan 27 Rajab menjawab di dalam kitabnya Fatawa Nurun 'ala Ad-Darbi sebagai berikut :
تخصيص هذه الأيام بالصوم بدعة فما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصوم يوم الثامن والسابع والعشرين ولا أمر به ولا أقره فيكون من البدع
Mengkhususkan hari-hari itu dengan puasa adalah bid'ah. Nabi SAW tidak pernah berpuasa pada tanggal 8 dan 27 Rajab, tidak memerintahkannya dan tidak mentaqrirnya. Maka hukumnya bid'ah. [3]
Ibnu Utsaimin (w. 1421 H) ketika ditanya tentang hukum puasa pada tanggal 27 Rajab dan shalat sunnah di malam harinya, beliau pun menjawab sebagaimana yang tertuang di dalam kitabnya Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusysyeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sebagai berikut :
صيام اليوم السابع العشرين من رجب وقيام ليلته وتخصيص ذلك بدعة وكل بدعة ضلالة .
Puasa pada hari ke 27 bulan Rajab dan bangun malam dan mengkhususkan hal itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah itu sesat.[4]
Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan di dalam kitab Majmu' Fatawa Fadhilatusysyeikh Shalih bin Fauzanmenuliskan sebagai berikut :
شهر رجب لم يثبت فيه شيء من العبادات خاص، لا صيام ولا صلاة ولا عمرة، ولا شيء خاص بشهر رجب، والذين يخصونه بعبادات؛ هؤلاء هم المبتدعة
Tidak ada landasan kuat untuk ibadah khusus di Bulan Rajab, tidak itu puasa, shalat ataupun umrah. Tidak ada yang khusus dengan bulan Rajab. Mereka yang mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah adalah tukang bid'ah. [5]
2. Makruh
Pendapat kedua hukumnya adalah makruh, yaitu pendapat dari sebagain para ulama salaf, seperti Ibnu Qudamah dan Al-Mardawi.
Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama rujukan dalam mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :
فصل - إفراد رجب بالصوم : ويكره إفراد رجب بالصوم قال أحمد: وإن صامه رجل، أفطر فيه يوما أو أياما، بقدر ما لا يصومه كله. ووجه ذلك، ما روى أحمد، بإسناده عن خرشة بن الحر، قال: رأيت عمر يضرب أكف المترجبين، حتى يضعوها في الطعام. ويقول: كلوا، فإنما هو شهر كانت تعظمه الجاهلية
Pasal Mengkhususkan Rajab Untuk Puasa : Dan dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa. Imam Ahmad berkata bahwa kalau mau seseorang berpuasa sehari dan tidak puasa sehari tetapi jangan puasa sebulan. Dasarnya adalah hadits riwayat Ahmad dari Kharsayah bin Al-Hurri, dia berkata,"Aku melihat Umar memukul telapak tangan orang yang mutarajjibin (puasa di bulan Rajab) sambil berkata,"Makanlah". Karena bulan Rajab itu bulan yang diagungkan oleh orang Jahiliyah [6]
Ibnu Taimiyah (w. 728 H) sebenarnya tidak mengatakan bahwa puasa Rajab itu bid'ah, beliau hanya mengatakan bahwa hadits-haditsnya lemah, palsu dan tidak boleh dijadikan pegangan. Sayangnya beliau juga tidak menyebutkan hukumnya, apakah haram, makruh atau boleh. Berikut adalah petikan fatwa beliau yang dapat kita baca pada kitab Al-Fatawa Al-Kubra :
وأما صوم رجب بخصوصه، فأحاديثه كلها ضعيفة، بل موضوعة، لا يعتمد أهل العلم على شيء منها، وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل، بل عامتها من الموضوعات المكذوبات
Adapun mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa, semua haditsnya lemah bahkan palsu, tidak bisa dijadikan dasar oleh para ahli ilmu. Jenis dhaif-nya bukan yang boleh untuk fadhail, karena rata-rata haditsnya palsu dan dusta.[7]
Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama dalam mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf sebagai berikut :
قوله (ويكره إفراد رجب بالصوم) هذا المذهب وعليه الأصحاب
Pendapatnya mengkhususkan puasa Rajab (sebulan penuh) hukumnya makruh. Itulah pendapat mazhab dan para pendukungnya.[8]
3. Sunnah
Sebagian besar ulama (jumhur) menghukumi sunnah berpuasa pada bulan Rajab dengan dua hujjah. Pertama, adanya hadits yang menganjurkan untuk berpuasa sunnah. Kedua, adanya hadits yang menganjurkan untuk puasa pada bulan-bulan haram (mulia). Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Harits yang bertanya kepada beliau SAW tentang puasa sunnah.
صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ
Berpuasalah kamu di bulan kesabaran (Ramadhan), kemudian berpuasalah 3 hari setelahnya, dan kemudian puasalah pada bulan-bulan haram”. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Bulan-bulan haram itu adalah Dzul-Qa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab yang menyendiri. Tetapi jelas sekali bahwa Rajab termasuk salah satu di antara empat bulan haram. Sehingga dasar berpuasa di bulan Rajab adalah hadits shahih di atas.
Ibnu Shalah (w. 643 H), yang juga salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyyah menuliskan dalam fatwanya, Fatawa Ibnu Shalah sebagai berikut :
لا إثم عليه في ذلك ولم يؤثمه بذلك أحد من علماء الأمة فيما نعلمه بلى قال بعض حفاظ الحديث لم يثبت في فضل صوم رجب حديث أي فضل خاص وهذا لا يوجب زهدا في صومه فيما ورد من النصوص في فضل الصوم مطلقا والحديث الوارد في كتاب السنن لأبي داود وغيره في صوم الأشهر الحرم كاف في الترغيب في صومه وأما الحديث في تسعير جهنم لصوامه فغير صحيح ولا تحل روايته والله أعلم
Tidak berdosa bagi yang berpuasa Rajab, dan tidak ada satupun ulama umat ini yang mengatakan ia berdosa dari yang kami tahu. Ya memang benar banyak ahli hadits yang mengatakan hadits-hadits rajab –secara khusus- tidak shahih. Dan ini tidak menjadikan puasa Rajab itu terlarang, karena adanya dalil-dalilnya anjuran puasa secara mutlak, dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dadud dalam kitab Sunan-nya juga ulama lain dalam anjuran puasa pada bulan Rajab, dan itu cukup untuk memotivasi umat ini untuk puasa Rajab. Sedangkan hadits nyalanya api neraka Jahannam untuk mereka yang sering berpuasa Rajab, itu hadits yang tidak shahih, dan tidak dihalalkan meriwayatkannya. Wallahu a’lam.[9]
Al-'Izz ibnu Abdissalam (w. 660 H) juga punya pendapat yang dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami, dimana beliau berfatwa sebagai berikut :
والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه
Orang yang melarang puasa Rajab itu jahil dari sumber-sumber hukum syariah. Bagaimana bisa puasa rajab diharamkan, sedangkan para ulama yang men-tadwin-kan syariah ini tidak satu pun dari mereka yang membenci puasa rajab tersebut.[10]
Nampaknya fatwa beliau juga senada, yaitu tindakan melarang orang berpuasa pada bulan Rajab adalah kebodohan, karena tidak ada ulama yang melarang itu.
An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi'i menuliskan dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin sebagai berikut :
قلت: ومن المسنون، صوم عشر ذي الحجة، غير العيد، والصوم من آخر كل شهر. وأفضل الأشهر للصوم بعد رمضان، الأشهر الحرم، ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب. وأفضلها: المحرم، ويلي المحرم في الفضيلة، شعبان.
Aku berkata : Termasuk puasa yang disunnahkan adalah puasa 10 hari Dzulhijjah di luar hari raya, puasa tiap akhir bulan. Dan sebaik-baik bulan setelah Ramadhan adalah bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.[11]
Dan di dalam kitab yang lain, yaitu Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, beliau menuliskan sebagai berikut :
قال أصحابنا ومن الصوم المستحب صوم الاشهر الحرم وهي ذوالقعدة وذو الحجة والمحرم ورجب
Para ulama kami berpendapat bahwa termasuk puasa mustahab adalah puasa pada bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.[12]
Ibnul Mulaqqin (w. 804 H) di dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj ila Adillatil Minhaj menuliskan sebagai berikut :
أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب وأفضلها المحرم ثم رجب
Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah bulan-bulan haram, Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.[13]
As-Suyuthi (w. 911 H) ketika menjelaskan hadits-hadits terkait dengan puasa bulan Rajab, beliau menyimpulkan bahwa hadits-hadits itu bukan hadits palsu, melainkan sekedar dhaif. Dan tetap dibolehkan periwayatannya untuk keutamaan amal. Beliau menuliskan dalam fatwanya itu pada kitab Al-Hawi lil Fatawa sebagai berikut :
ليست هذه الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل
Semua hadits ini bukan palsu (maudhu'), melainkan termasuk lemah (dhaif) yang dibolehkan periwayatannya untuk keutamaan (fadhail).[14]
Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) salah satu ulama mazhab Asy-syafi'iyah menuliskan di dalam kitabnya, Asnal Mathalib sebagai berikut :
وأفضل الأشهر للصوم بعد رمضان الأشهر (الحرم) ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب لخبر أبي داود وغيره «صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك» وإنما أمر المخاطب بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما جاء التصريح به في الخبر أما من لا يشق عليه فصوم جميعها له فضيلة
Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah bulan-bulan haram, Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Dasarnya hadits Abu Daud dan yang lainnya : Puasa pada bulan haram dan tinggalkan (3x). Perintah untuk meninggalkannya agar orang tidak terlalu asyik memperbanyak puasa. Sedangkan yang seperti itu maka puasa merupakan keutamaan.[15]
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) dalam fatwanya yang terkumpul dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra menuliskan sebagai berikut
أني قدمت لكم في ذلك ما فيه كفاية، وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه الشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى
Sudah saya jelaskan tentang kesunahan puasa Rajab, dan itu sudah cukup. Adapun tindakan 'ahli fiqih' ini yang terus menerus melarang orang-orang untuk puasa Rajab, itu adalah sebuah kebodohan dan bentuk pengacak-acakan terhadap syariah yang suci ini. kalau ia tidak merujuk fatwanya tersebut, wajib hukumnya bagi para hakim syariah yang suci ini untuk melarangnya dan memberikan hukuman yang keras baginya dan juga bagi orang-orang semisalnya –yang melarang puasa Rajab- karena mereka semua sudah mengacak-acak agama Allah s.w.t. ini.[16]
Dari fatwanya kita mendaptkan kesan bahwa beliau mengecam keras mereka yang melarang umat untuk berpuasa Rajab. Konon di masa hidupnya, ada beberapa orang yang mengaku ahli agama tetapi melarang-larang puasa Rajab dengan alasan.
Al-Qarafi (w. 684 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitabnya Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut :
يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة
Hukumnya mustahab untuk berpuasa tasu'a dan tarwiyah. Dan ada riwayat puasa tarwiyah sebagaimana puasa bulan-bulan haram, bulan Sya'ban, dan sepuluh hari bulan Dzul Hijjah. Diriwayatkan bahwa puasa sehari itu setara dengan setahun.[17]
Imam Ash-Shawi (w. 1241 H) dari kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Bulghatus-Salik ketika menjelaskan tentang puasa-puasa sunnah, beliau memasukkan di dalamnya puasa Rajab.
وصوم رجب : أي فيتأكد صومه أيضا وإن كانت أحاديثه ضعيفة لأنه يعمل بها في فضائل الأعمال
Puasa Rajab: yakni dikuatkan (untuk kesunahan) puasa Rajab juga walaupun hadits-haditsnya dhaif, karena hadits dhaif boleh diamalkan dalam hal fadhail a’mal.[18]
Asy-Syaukani (w. 1250 H) dalam kitabnya Nailul Authar mengomentari hadits-hadits terkait dengan puasa bulan Rajab sebagai berikut :
ظاهر قوله في حديث أسامة إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب
Pemahaman yang dzahir dari hadits Usamah (bin Zayd) di atas adalah bahwa bulan Sya'ban adalah bulan yang banyak dilupakan orang yang letaknya antara bulan Rajab dan Ramadan. Dan bahwa sunnah hukumnya berpuasa pada bulan Rajab.[19]
I. Puasa Bulan Sya’ban
Rasulullah saw paling banyak puasa Sunnah di bulan Sya’ban, beliau mencontohkan langsung kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Syaban, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahuanha :
مَا رَأَيْتُ رَسُول اللَّهِ r أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Syaban (HR Muslim).