Kemenag RI 2019:Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu semua wahai manusia, dan Dia datangkan (umat) yang lain (sebagai penggantimu). Allah Maha Kuasa berbuat demikian. Prof. Quraish Shihab:Jika Dia menghendaki, pasti Dia memusnahkan kamu hai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain. Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian. Prof. HAMKA:Jika Dia kehendaki, niscaya Dia habiskan kamu wahai manusia dan akan didatangkan-Nya dengan yang lain. Dan Allah atas tiap-tiap sesuatu Menentukan.
Hal yang seperti itu bagi Allah tentu saja mudah, sebab Dia memang sepenuhnya punya kekuasaan untuk melakukannya.
إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ
Huruf in (إِنْ) merupakan huruf syarth yang dimaknai menjadi : jika, atau apabila. Kata yasya’ (يَشَأْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Asalnya dari (شاء - يشاء) yang dimaknai menjadi : menginginkan atau berkehendak. Dalam hal ini yang menjadi pelaku atau fa’il-nya adalah dhamir mustatir atau kata ganti orang ketiga yang terbenam di dalamnya, taqdir-nya adalah huwa (هو) yang artinya, Dia. Dia yang dimaksud adalah Allah SWT. Maksudnya jika Allah menghendaki.
Kata yudzhib (يُذْهِب) juga merupakan kata kerja. Asalnya dari (ذهب - يذهب) yang artinya pergi, ketika ketambahan alif (أ) di awal menjadi (أَذْهَبَ - يُذْهِبُ) yang maknanya secara bahasa : membawa pergi, namun maksudnya adalah memusnahkan.
Sedangkan yang menjadi objek alias maf’ul bihi adalah dhamir kum (كُم) yang artinya kamu.
Kata ayyuhan-nasu (أَيُّهَا النَّاسُ) artinya : wahai semua manusia. Dan kamu yang dimaksud tidak lain adalah para shahabat yaitu para shahabat Nabi SAW dan juga umatnya manusia secara keseluruhan.
وَيَأْتِ بِآخَرِينَ
Kata wa ya’ti (وَيَأْتِ) artinya : dan mendatangkan. Kata bi akharin (بِآخَرِينَ) artinya : dengan umat yang lain.
Ayat ini sejalan dengan ayat lain, khususnya dengan tema pergantian suatu kaum dengan kaum yang lain.
Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (QS. Al-Anam : 133)
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. Al-Anam : 6)
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًا
Kata wa-kaanallah () artinya : dan adalah Allah itu. Kata ‘ala dzalika () atas yang demikian itu. Yang dimaksud tidak lain adalah untuk menghabisi suatu umat hingga punah tak bersisa, bahkan seperti terhapus dari sejarah.
Kata qadira (قَدِيرا) adalah : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Banyak peradaban kuno yang hampir terhapus dari sejarah karena berbagai alasan, seperti bencana alam, peperangan, atau kehilangan rekam sejarah. Salah satu contohnya adalah Peradaban Lembah Indus, yang terletak di wilayah yang sekarang mencakup Pakistan dan India barat laut.
Konon peradaban ini punya sistem tata kota yang sangat maju, termasuk jalan-jalan yang terencana dan sistem saluran pembuangan. Mereka juga punya kemampuan teknologi seperti pembuatan tembikar, kerajinan logam, dan penggunaan batu bata yang seragam.
Peradaban ini juga punya bahasa tertulis yang belum sepenuhnya terpecahkan hingga kini, membuat kita sulit memahami budaya dan pemerintahan mereka. Ekonomi mereka berbasis pertanian dengan perdagangan yang luas, termasuk hubungan dagang dengan Mesopotamia.