Al-Baqarah [2] : 3

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah : 3)


Bagikan ke WhatsApp
2 | 3 | 4

Yu'minu (يؤمن) maknanya membenarkan atau percaya akan keberadaannya. Dalam bahasa Arabnya adalah yushaddiqu (يُصَدّق).

Kata yu'minu yang bermakna membenarkan dan bukan dalam makna iman kepada Allah SWT juga disebut dalam beberapa ayat Al-Quran, di antaranya dalam ungkapan anak-anak Nabi Ya'qub alaihissalam berikut ini:

وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar". (QS. Yusuf : 17)

Ayat ini adalah petikan dialog antara Nabi Ya'qub dengan anak-anaknya, yang pada saat itu sedang berkilah dan beralibi tentang diterkamnya saudara mereka, Nabi Yusuf alahissalam. Sejak awal mereka bilang bahwa sang Ayah pasti tidak akan percaya penjelasan mereka. Istilah 'tidak percaya' disini tentu bermakna tidak menerima alasan, dan bukan tidak beriman kepada Allah.

Ada begitu banyak penafsiran tentang lafadz al-ghaib. Di antaranya adalah

Ibnu Athiyah berkomentar bahwa semua penjelasan di atas sama sekali tidak saling bertentangan. Sebab semua sama-sama ghaib dan selama ini tidak dikenal atau tidak diyakini oleh orang-orang musyrikin Mekkah. [1]

Fathul Qadir 1/40

1. Makna Yunfiqun

Ayat ini adalah ayat yang diperlukan untuk menyediakan sebagian besar harta. Namun para ahli tafsir berbeda tentang maksud dengan makna yunfiqun di ayat ini.

Sebuah. Zakat

Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah zakat. Alasannya karena siyaqnya terkait dengan perintah shalat.

b. Nafkah Kepada Istri

Namun sebagian besar seperti Ath-Thabari, As-Suyuthi, Asy-Syaukani dan kutipan ayat ini tidak sesuai dengan perintah berzakat. Alasannya karena pada saat itu zakat memang belum disyariatkan. Maka yunfiqu dalam ayat adalah nafaqah atau meminta suami. [1]

Unduh sekarang untuk melihat lebih banyak

Sebaik-baik dinar yang diinfaqkan oleh seseorang adalah dinar yang dibuat nafkah bagi keluarga. Kemudian dinar untuk kendaraannya fi sabilillah. Kemudian dinar yang diinfaqkan kepada sahahabtnya di jalan Allah.

Dan jika dibandingkan antara zakat dengan nafkah, sebaliknya yang lebih utama dan prioritas bukan zakat tetapi sebaliknya nafkah. Alasannya karena zakat hanya mendukung manakala sesorang yang memiliki harta yang melebihi nishabnya. Sementara nafkah untuk melanjutkan, tetap wajib hukumnya baik hartanya lebih dari nishab atau pun kurang dari nishab.

Dan memang nash ayat ini juga tidak menggunakan kata zakat, menggunakan kata yunfiqun yang punya kata dasar infaq atau nafaqah.

 

 

 

[1] Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami 'Al-Bayan, 1/244

TAFSIR WAJIZ

Orang-orang yang bertakwa itu adalah mereka yang beriman kepada hal-hal yang gaib, yang tidak tampak dan tidak dapat dijangkau oleh akal dan indra mereka, seperti Allah, malaikat, surga, neraka, dan lainnya yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama, sebagai bukti keimanan itu, mereka beribadah kepada Allah dengan melaksanakan salat, secara sempurna berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, khusyuk serta memperhatikan waktu-waktunya, dan mereka juga menginfakkan di jalan kebaikan sebagian rezeki berupa harta, ilmu, kesehatan, kekuasaan, dan hal-hal lainnya yang bermanfaat yang Kami berikan kepada mereka, semata-mata sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.

TAFSIR TAHLILI

Pertama:

Beriman kepada yang gaib. Termasuk di dalamnya beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, menundukkan diri serta menyerahkannya sesuai dengan yang diharuskan oleh iman itu. Tanda keimanan seseorang ialah melaksanakan semua yang diperintahkan oleh imannya itu. Gaib ialah sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pancaindra.

Pengetahuan tentang yang gaib itu semata-mata berdasar kepada petunjuk-petunjuk Allah swt. Karena kita telah beriman kepada Allah, maka kita beriman pula kepada firman-firman dan petunjuk-petunjuk-Nya. Termasuk yang gaib ialah: Allah, para malaikat, hari kiamat, surga, neraka, mahsyar dan sebagainya. Pangkal iman kepada yang gaib ialah iman kepada Allah swt.

Iman kepada Allah adalah dasar dari pembentukan watak dan sifat-sifat seseorang manusia agar dia menjadi manusia yang sebenarnya, sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia. "sibgah Allah." Siapa yang lebih baik sibgah-nya daripada Allah? Dan kepada-Nya kami menyembah. (al-Baqarah/2: 138)

Iman membentuk manusia menjadi makhluk individu dan makhluk yang menjadi anggota masyarakatnya, suka memberi, menolong, berkorban, berjihad dan sebagainya: Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (al-hujurat/49: 15)

Dalam mencari arti iman hendaklah kita mengikuti petunjuk Rasul. Untuk itu kita perlu mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad saw, merenungkan ciptaan Allah, menggunakan akal pikiran dan mempelajari ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Iman dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Iman akan rusak bila amal seseorang rusak dan akan bertambah bila nilai dan jumlah amal ditingkatkan pula.

Kedua:

Melaksanakan salat, yaitu mengerjakan dan menunaikan salat dengan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, terus-menerus mengerjakannya setiap hari sesuai dengan yang diperintahkan Allah, baik lahir maupun batin. Yang dimaksud dengan "lahir" ialah mengerjakan salat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan sunah Rasul, dan yang dimaksud dengan "batin" ialah mengerjakan salat dengan hati yang khusyuk, dengan segala ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, dan merasakan keagungan dan kekuasaan Allah yang menguasai dan menciptakan seluruh alam ini sebagai yang dikehendaki oleh agama. Iqamah as-salah ialah mengerjakan salat dengan sempurna; sempurna segala rukun, syarat dan ketentuan yang lain yang ditentukan oleh agama. Arti asal dari perkataan salat ialah "doa", kemudian dipakai sebagai istilah ibadah yang dikenal di dalam agama Islam karena salat itu banyak mengandung doa.

Ketiga:

Menginfakkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan Allah. Rezeki ialah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya. "Menginfakkan sebagian rezeki" ialah memberikan sebagian rezeki atau harta yang telah dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang telah ditentukan oleh agama.

Pengertian menginfakkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penelitian ilmiah dan lain-lain. Juga berinfak untuk semua kepentingan umum dengan niat melaksanakan perintah Allah termasuk fi sabilillah. Harta yang akan diinfakkan itu ialah sebagiannya, tidak seluruh harta.

Dalam ayat ini tidak dijelaskan berapa banyak yang dimaksud dengan sebagian itu, apakah seperdua, sepertiga, seperempat dan sebagainya. Dalam pada itu Allah melarang berlaku kikir dan melarang berlaku boros: Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah), nanti kamu menjadi tercela dan menyesal. (al-Isra'/17: 29)

Allah melarang berlebih-lebihan atau kikir dalam membelanjakan harta: Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) mereka yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, tetapi berada di antara keduanya secara wajar (al-Furqan/25: 67)

Pada firman Allah yang lain dijelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan sebagian harta itu ialah sebagaimana jawaban atas pertanyaan para sahabat: ".... mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, 'Kelebihan (dari apa yang diperlukan)." (al-Baqarah/2: 219)

Yang dimaksud dengan "kelebihan" ialah setelah mereka cukup makan dan memiliki pakaian yang dipakai. Jadi tidak harus kaya, tetapi selain yang mereka makan dan pakai pada hari itu, adalah termasuk lebih. Allah telah menjelaskan cara-cara membelanjakan harta itu dan cara-cara menggunakannya.

Dijelaskan lagi oleh hadis Rasulullah saw: Dari Nabi saw ia berkata, "Sebaik-baik sedekah adalah kelebihan dari kebutuhan pokok." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili