Lafazh innallah rabbi (إِنَّ اللَّهَ رَبِّي) bermakna : sesungguhnya Allah itu adalah Tuhanku. Sedangkan lafazh wa rabbukum (وَرَبُّكُمْ) artinya : “dan juga Tuhanmu”.
Ini adalah pernyataan Nabi Isa alaihissalam bukan untuk pertama kalinya. Sebab ketika masih bayi baru dilahirkan, Nabi Isa sudah bisa berkata-kata, dan lafazh ini pula yang keluar dari lisannya, sebagaimana tertuang dalam surat Maryam.
(Isa berkata,) “Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia! Ini adalah jalan yang lurus.”
Para ulama ahli tafsir mengatakan pernyataan Nabi Isa bahwa Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, merupakan bentuk penegasan bahwa dirinya bukan Tuhan dan juga bukan anak Tuhan, sebagaimana yang banyak diklaim oleh beberapa pihak.
Beberapa kalangan waktu itu memang ada yang mengklaim bahwa Nabi Isa telah memerintahkan umatnya agar mereka menyembah dirinya dan menyembah ibundanya. Dan uniknya, mereka yang mengklaim itu kemudian entah bagaimana malah mendapatkan sambutan luar biasa di tengah umat manusia.
Di masa sekarang ini paham ketuhanan Nabi Isa inilah yang justru dianggap merepresentasikan agama Kristen yang resmi. Sedangkan yang tidak menyembah Nabi Isa dianggap bukan Kristen atau dianggap sempalan.
Karena itu wajar bila sejak awal Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Isa sendiri tidak bertanggung-jawab atas klaim-klaim yang menyudutkan dirinya sebagai Tuhan.
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (QS. Al-Maidah : 116)
فَاعْبُدُوه
Lafazh fa’buduhu (فَاعْبُدُوهُ) adalah fi’il amr yang fungsinya merupakan perintah. Asalnya dari kata (عَبِدَ - يَعْبُدُ) yang artinya menyembah atau mengabdi.
Perintah untuk beribadah kepada Allah SWT menunjukkan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah. Sedangkan Nabi Isa sendiri bukan tuhan, sehingga tidak tepat kalau ada yang mengklaim bahwa Nabi Isa adalah tuhan.
هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيم
Lafazh shirath(صراط) secara bahasa bermakna jalan yang lebar, namun makna aslinya adalah menelan. Hubungannya bahwa saking lebarnya jalan itu sehingga seolah menelan orang yang melewatinya.
Kata shirath ditemukan dalam al-Quran sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal, 32 kali di antaranya dirangkaikan dengan kata mustaqim, selebihnya dirangkaikan dengan berbagai kata yang lain.
Selanjutnya, bila shirath dinisbahkan kepada sesuatu, penisbahannya adalah kepada Allah SWT seperti kata shirathaka (jalan-Mu), atau shirathi (jalan-Ku), atau shirath al-aziz al-hamid (jalan Allah Yang Mahamulia lagi Maha terpuji), dan kepada orang-orang mukmin, yang mendapat anugerah nikmat Ilahi seperti dalam ayat al-Fatihah ini shiratha allazina an 'amta 'alaihim.
Lafazh shirath (صراط) ini berbeda dengan kata yang mirip yaitu sabil (سبيل) yang juga sering kali diterjemahkan dengan jalan. Kata sabil ada yang berbentuk jamak, seperti subul as-salam (jalan-jalan kedamaian), ada pula yang tunggal yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillah, atau kepada orang bertakwa, seperti sabil al-muttaqin. Ada juga yang dinisbahkan kepada setan dan tirani seperti sabil ath-thaghut atau orang-orang berdosa seperti sabil al-mujrimin.
Makna Ash-Shirat Al-Mustaqim
Cukup banyak tafsiran para ulama ahli tafsir terhadap makna kata ash-shirath ini. Dalam tafsir Jami' Al-Bayan, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak mengutipkan pendapat mereka satu per satu. Di antaranya adalah jalan lurus, Al-Quran Al-Kariem, agama Islam, Nabi Muhammad SAW dan lainnya.
1. Jalan Yang Lurus
Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah bersepakat bahwa secara umum makna shirat adalah :
وَفّقنا للثبات على ما ارتضيتَه ووَفّقتَ له مَنْ أنعمتَ عليه من عبادِك، من قولٍ وعملٍ، وذلك هو الصِّراط المستقيم
Teguhkan kami agar tetap berada pada apa yang Engkau ridahi sebagaimana orang-orang yang Engkau berikan nikmat-Mu di kalangan hamba-hamba-Mu, baik berupa perkataan atau perbuatan. Itulah ash-shirath al-mustaqim.
2. Al-Quran Al-Karim
Namun Ibnu Jarir Ath-Thabari juga tidak menampik adanya banyak penafsiran yang lain. Salah satunya bahwa ash-shirat al-mustaqim adalah Al-Quran Al-Karim, sebagaimana disebutkan beberapa riwayat yang berbeda-beda dalam tafsirnya, namun semuanya berujung kepada perkataan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhuma.
3. Agama Islam
Selanjutnya juga ada riwayat dari Jabir bin Abdillah dan Muhammad bin Al-Hanafiyah yang menafsirkan bahwa ash-shirath al-mustaqim adalah Agama Islam.
4. Rasulullah SAW
Tafsiran lain atas ash-shirath al-mustaqim adalah diri Rasulullah SAW sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri dan Ashim dari Abul Aliyah.