Kemenag RI 2019:Ketika Isa merasakan kekufuran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. Prof. Quraish Shihab:
Maka, tatkala 1sa merasakan dari sebagian mereka keingkaran, berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku menuju kepada Allah?" Para b.awariyyun menjawab: ''Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim (yang berserah diri). "
Prof. HAMKA:
Maka, tatkala terasa oleh Isa kekafiran mereka, berkatalah dia, "Siapakah yang akan menolongku pada Allah?" Menjawablah Hawariyun, "Kamilah penolong-penolong Allah dan kami naik saksi bahwa kami ini adalah menyerahkan diri.
Sungguh, Allah benar-benar telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya. (QS. Ai Imran : 152)
Lafazh al-kufra (الكفر) secara harfiyah adalah kekafiran atau kekufuran. Namun kekafirannya bukan yang bersifat nyata, melainkan yang bersifat gelagat, alias kufur secara diam-diam.
Oleh karena itulah ayat ini tidak menggunakan istilah tabayyana (تَبَيَّنَ) melainkan menggunakan lafazh yang khusus yaitu ahassa (أحس). Perbedaannya kalau tabayyana itu terang berderang terbukti secara hukum dan tidak bisa ditafsirkan dengan yang lain. Sedangkan ahassa itu sifatnya baru kecurigaan, gelagat atau pun intuisi.
Maka yang dimaksud adalah bahwa Nabi Isa merasakan ada gelagat yang berbeda dari kaumnya, dalam hal ini Bani Israil. Ada nada yang sumbang terdengar seolah ingin menolak kenabian Isa alaihissalam, juga mulai tersebar pemikiran yang mengkritisi semua yang dikatakannya. Bahkan sampai ada yang secara terang-terangan berani menentang secara langsung.
Semua gelagat itu ‘terbaca’ di mata Nabi Isa. Beliau memang sangat peka dalam membaca situasi. Dan mengambil tindakan yang tepat, yaitu menguatkan barisan orang-orang yang beriman.
Beliau menghindari konfrontasi, tidak main tuduh dan menyalahkan mereka yang diam-diam telah ingkar dan kufur. Sebab kekafirannya belum tentu bisa dibuktikan juga. Maka pilihannya justru mengencangkan ikatan dengan sesama pengikutnya, bukan menyebarkan fitnah dan tuduhan kesana kemari.
قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّه
Lafazh qaala (قَالَ) artinya : Dia berkata. Maksudnya yang berkata adalah Nabi Isa, Beliau sebenarnya tidak bertanya namun meminta janji setia dari murid-muridnya.
Kalau dalam literatur Islam, kira-kira janji setia itu disebut dengan bai’at. Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah ke Madinah sempat dua kali membaiat para shahabat dari Madinah. Peristiwanya dikenal sebagai Bai’atul Aqabah I dan II. Keduanya dilakukan dalam dua tahun berturut-turut dalam even penyelenggaraan haji di Mina.
Ungkapan man anshari ilallah (مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ) secara makna harfiyah adalah : siapa yang menjadi penolongku atau pembela aku kepada Allah.
Mujahid menafsirkan maknanya adalah (مَنْ يَتبعني إِلَى اللَّهِ) yaitu siapa yang ikut aku kepada Allah. Sedangkan Sufyan At-Tsauri berkata maknanya adalah (مَنْ أَنْصَارِي مَعَ اللَّهِ) yaitu siapa yang jadi penolongku bersama Allah?
Al-Hasan dan Mujahid mengatakan bahwa yang melatar-belakangi Nabi Isa meminta agar murid-muridnya itu bersiap-siap menjadi pelindung dirinya, karena Bani Israil atau kalangan Yahudi telah menyiapkan rencana jahat makar untuk membunuhnya.
Kira-kira kalau di masa sekarang ini, mereka diminta untuk menjadi pengawal pribadi sang nabi. Mereka diminta berjanji untuk mengorbankan nyawa demi melindungi Nabi Isa dari rencana jahat pembunuhan.
قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّ
Lafazh al-hawariyyun (الْحَوَارِيُّونَ) secara bahasa berasal dari kata al-hawar (الْحَوَارِ) yang artinya : putih yang sangat.
Dan mereka disebut dengan hawariyyun karena ciri mereka terbiasa mengenakan pakaian berwarna putih. Setidaknya itulah yang dijelaskan oleh Said bin Jubair terkait kenapa mereka disebut hawariyyun.
Sedangkan Qatadah dan Adh-Dhahhak mengatakan bahwa mereka disebut hawariyyun karena hati mereka sangat bersih dalam arti sangat mulia.
Lafazh nahnu ansharullah (نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ) artinya : Kami adalah penolong Allah. Maksudnya al-hawariyyun telah menyatakan diri bersumpah setia untuk bersedia mati mengorbankan nyawa mereka demi untuk melindungi keselamatan Nabi Isa dari ancaman pembunuhan.
Ada sementara kalangan yang mengatakan bahwa salah satu yang melatar-belakangi Nabi Isa meminta hawariyyun untuk pasang badan menjaga keselamatan dirinya, karena sebelumnya Nabi Zakaria telah mati terbunuh oleh orang-orang Yahudi.
Menurut sebuah riwayat hadis yang tercatat dalam kitab-kitab hadis, Nabi Zakaria terbunuh di dalam Baitul Maqdis (Yerusalem) saat dia sedang berada di dalam kuil, karena dia menolak memberikan informasi tentang keberadaan putranya, yaitu Nabi Yahya, kepada orang-orang yang mengejar beliau.
Dalam versi lain, terdapat riwayat yang mengatakan bahwa Zakaria terbunuh di tangga altar saat dia menyembunyikan putranya dari pemburu-pemburu yang ingin membunuhnya.
آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Ungkapan amanna billah (آمَنَّا بِاللَّهِ) maknanya : kami beriman kepada Allah. Ini diucapkan oleh para hawariyyun dalam rangka menegaskan bahwa motivasi mereka dalam menjadi pagar hidup bagi Nabi Isa alaihissalam adalah karena mereka beriman kepada Allah SWT.
Sedangkan ungkapan wasy-had bianna muslimun (وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ) artinya : dan saksikanlah bahwa kami ini adalah orang-orang yang berserah diri. Maksudnya mereka telah siap mati demi menyelamatkan Nabi Isa dari rencana makar pembunuhan dari orang-orang yahudi.
Sebenarnya yang memusuhi Nabi Isa bukan hanya orang-orang yahudi, tetapi termasuk juga tentara Romawi. Masing-masing dengan motivasi yang berbeda-beda.
Sebenarnya yang saling bermusuhan awalnya adalah orang-orang Yahudi dengan penguasa Romawi. Kalangan Yahudi disiksa dan ditindas oleh penguasa Romawi, sebagaimana dahulu mereka juga ditindas oleh penguasa Mesir di masa kenabian Musa.
Maka muncul keinginan kelompok Yahudi untuk memberontak dan melawan tentara Romawi. Lalu semakin besar perlawanan mereka ketika lahir di tengah mereka Nabi Isa alaihissalam. Mereka sesumbar bahwa Imperium Romawi akan segera tumbang oleh kekuatan yahudi, dibawah pimpinan Nabi Isa alaihissalam.
Maka penguasa Romawi semakin meningkatkan kewaspadaan, bahkan sampai mengirim tentara untuk menangkap Nabi Isa alaihisalam demi untuk membunuhnya, karena sudah dianggap kekuatan yang menjadi ancaman keutuhan kerajaan.
Sebenarnya yang dikejar-kejar bukan hanya Nabi Isa saja, tetapi juga Nabi Zakaria dan juga Nabi Yahya alaihimussalam. Sebab para penguasa Romawi ketakutan kalau para nabi itu nantinya akan merobohkan kekuasaan mereka.
Lantas bagaimana kalangan Yahudi kemudian juga ikut memusuhi Nabi Isa alaihissalam? Bukankah Nabi Isa sendiri terhitung sebagai bagian dari Bani Israil juga?
Ada beberapa analisa yang bisa diketengahkan disini, antara lain adalah :
Pertama : Perpecahan dan Saling Bunuh Sesama Yahudi
Bani Israil itu sendiri terdiri dari banyak faksi yang saling mengkafirkan satu sama lain. Perpecahan di antara mereka sangat parah, sampai saling berbunuhan satu sama lain sebagai sesama anak keturunan para nabi.
Kalau disebut-sebut bahwa Bani Israil terlibat pembunuhan para nabi, salah satu pemicunya adalah pecahnya faksi-faksi di tengah mereka sampai ke tingkat pembunuhan. Termasuk salah satunya membunuh nabi yang beda faksi dengan mereka.
Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. (QS. Ali Imran : 19)
Kedua : Yahudi dan Nasrani Memang Bermusuhan
Al-Quran menjelaskan bahwa pada dasarnya antara Yahudi dan Nasrani memang sudah ada permusuhan satu sama lain, bahkan mereka disebut telah saling mengkafirkan satu sama lain. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini :
Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. (QS. Al-Baqarah : 113)